SoundCloud: Superhero-nya Para ‘Penyanyi Kamar Mandi’
Siapa sih yang hari gini nggak kenal Soundcloud? Ada banyak penyanyi, baik dalam maupun luar negeri, yang popularitasnya lahir dari platform ini. Kok bisa ya?
SoundCloud sendiri adalah sebuah platform distribusi suara secara online yang memungkinkan kolaborasi, promosi, dan distribusi dari rekaman suara. Keberadaannya tidak sekadar memfasilitasi atau memberikan alternatif bagi khalayak dalam mencari sekaligus mendengarkan musik atau lagu dari penyanyi-penyanyi favorit mereka. Lebih dari itu, SoundCloud merupakan salah satu contoh nyata dari domain yang mendorong perkembangan user-led content creation di ranah online. Sebagai platform yang tergolong dalam domain praktik kreatif, SoundCloud memberikan ruang bagi semua orang, siapa pun mereka, untuk menciptakan konten (dalam hal ini berarti rekaman musik atau lagu) yang benar-benar baru dari hasil karya mereka sendiri ataupun sekadar mengolah dan menyanyikan ulang musik atau lagu karya orang lain. Ini artinya SoundCloud memberikan wadah bagi khalayak untuk menjadi seorang produsage atau yang mungkin lebih dikenal dengan istilah prosumer.
Gampangnya, coba lihat deh bagaimana saat ini orang-orang yang mungkin sebetulnya suaranya pas-pasan atau bahkan buta nada punya kesempatan yang sama seperti para penyanyi atau musisi dengan skill terlatih dan nggak sekadar amatiran. Mereka punya kebebasan penuh di tangannya sendiri untuk menentukan apakah rekaman suara mereka akan diunggah dan dipublikasikan. SoundCloud telah memberi wadah bagi siapapun, yang meski hanya sekadar suka dan hobi (belum tentu bener-bener bisa) nyanyi atau main musik, untuk mengekspresikan diri. Tidak akan ada gatekeeper yang menyeleksi atau bahkan menghilangkan kesempatan mereka untuk membagikan konten hasil karyanya hingga dapat dinikmati dan dikenal orang lain. Nggak heran juga kalau akhirnya banyak ‘penyanyi kamar mandi’ yang karena diberi ruang oleh SoundCloud ini kemudian menjadi populer atau bahkan sungguh-sungguh diorbitkan menjadi penyanyi atau musisi profesional.
Konsep produsage dalam hal ini juga bisa dilihat dari bagaimana sebuah karya (lagu atau musik) dapat berkembang karena adanya kecerdasan atau partisipasi kolektif. Banyak rekaman suara yang diunggah oleh pengguna SoundCloud sebenarnya bukanlah suara mereka menyanyikan lagu atau memainkan musik asli ciptaan mereka sendiri, melainkan sekadar meng-cover lagu atau musik hasil karya orang lain yang sebetulnya sudah pernah ada. Ini membuat suatu konten atau karya menjadi terus berkembang dan tidak hanya berhenti pada hasil akhir seperti yang sudah direncanakan oleh pembuatnya, misalnya dengan kemunculan versi akustik atau hasil aransemen lain dari lagu atau musik awalnya.
SoundCloud dengan apa yang mereka tawarkan pada khalayak ini sebetulnya cukup mengundang beberapa perbedaan pandangan terkait isu hak cipta. Namun, terlepas dari kontroversi ini, rasanya kita tetap patut berterima kasih pada SoundCloud. Karenanya lah kita bisa memanjakan telinga dengan beragam rekaman suara yang bisa bebas dipilih sesuai selera. Pun tanpanya, banyak potensi para ‘penyanyi kamar mandi’ yang mungkin tidak akan terungkap serta tidak mungkin menjadi Raisa dan Isyana berikutnya :p
Referensi:
https://techcrunch.com/2010/05/18/now-a-million-on-soundcloud-this-startup-is-scaling-globally/






