Seiring berkembangnya media dan teknologi komunikasi, secara gak sadar, kita bukan lagi sekedar consumer. Kita bisa lihat dari social media yang kita pakai, dan juga software dan hardware yang semakin user-friendly dengan tetap memberikan hasil berkualitas tinggi, user-generated content sudah jadi hal yang lumrah untuk ditemui. Vlogging, Review Produk, Reaction Videos, the types of content are limitless, and so are the individuals who produce them. Secara gak sadar, masing-masing dari kita punya urge untuk mem-produce sesuatu, via social media kita.
Maraknya user-generated content saya kira cukup berkorelasi dengan masalah copyright. For big medias, seperti koran atau stasiun tv, mereka punya sumber daya manusia yang gak sedikit. Sebagai badan yang legal, pastinya mereka mengalokasikan waktu dan tenaga untuk memastikan badan mereka gak kena kasus copyright. Tapi, bagaimana nih dengan individu-individu pengguna social media, yang juga ingin mengupload konten buatannya?
Sebagian besar dari kita pastinya tergolong sering menggunakan youtube, apalagi sebagi watchers. Nah, pernah gak sih ngeliat keluhan dari youtubers favorit kamu kalau video mereka ‘dihilangkan dari peredaran’ oleh Youtube, yang mostly itu karena alasan copyright?
Kejadian yang dialami oleh youtubers tersebut cuma merupakan contoh dari 1 media aja yaitu youtube, banyak juga user di media lainnya yang terkena isu serupa. Now what does this tells us? Karena mostly user that generates content itu merupakan individu-individu biasa, mereka belum punya power yang serupa dengan big medias yang tadi saya sebut di awal untuk memahami hukum copyright itu sendiri. Kemungkinan besar saat mereka mulai generate content dan menguploadnya, they did not prepare for that kind of thing. Istilah dan isi dari Fair Use juga mungkin masih cukup asing bagi kita.
Yang belum tahu boleh ke sini: http://fairuse.stanford.edu/overview/fair-use/what-is-fair-use/
Sebagai publik pengguna social media, kita harus mulai menyadari kapabilitas kita untuk membuat user-generated content, yang bahkan kalau kita serius bisa jadi menyamai konten dari big medias. But from that power also comes with a responsibility. Gak cuma kita memproduksi konten yang smart dan kreatif, kita juga harus menjadi smart dan kreatif, dan copyright itu hanya salah satunya aja. Bottom line is, we have to be responsible for what we posts, and that is why sufficient knowledge is a must.
http://data.whicdn.com/images/33596039/large.jpg diakses 8 Mar ‘17
https://scontent-amt2-1.cdninstagram.com/t51.2885-15/e35/14597370_593600287503698_5383046476748292096_n.jpg?ig_cache_key=MTQzMjI4NjIwMzk3MzE3NjQwNQ%3D%3D.2 diakses 8 Mar ‘17
http://www.mememaker.net/static/images/memes/4670209.jpg diakses 8 Mar ‘17
http://fairuse.stanford.edu/overview/fair-use/what-is-fair-use/ (linked)