This Day in History: USS Houston CL-81 was launched in 1943, 74 years ago today. She served during World War II in the Pacific, but was torpedoed by Japanese forces near Taiwan in 1944, ceasing her service in the war.

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from Belarus
seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from China
This Day in History: USS Houston CL-81 was launched in 1943, 74 years ago today. She served during World War II in the Pacific, but was torpedoed by Japanese forces near Taiwan in 1944, ceasing her service in the war.
Two little dudes on the USS Houston model. Lolz 🤣 #wherearemypants #shiplife⚓ #usshouston #battleshiptexas #sanjacinto #texas (at Galveston, Texas) https://www.instagram.com/p/BoB7WahHUprni8r2o9ODL1x9GDmBCo3_sOieLM0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1i2id6dhk0xq1
USS Houston dan Jejak Amerika di Laut Jawa
Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di Majalah Loka pada 21 Agustus 2014.
Senin, 18 Agustus 2014 lalu, para penyelam dari Angkatan Laut Amerika Serikat dan TNI Angkatan Laut mengkonfirmasi bahwa salah satu dari dua shipwreck (kapal karam) yang berada di Laut Jawa – tepatnya di Teluk Banten – adalah bangkai kapal penjelajah milik Angkatan Laut AS, USS Houston. (www.abcnews.go.com) Padahal, bangkai kapal era Perang Dunia II ini telah lama berada di sana dan menjadi situs penyelaman favorit bagi para pegiat olahraga diving. Namun, tak banyak yang mengetahui kisah sang “Hantu Pantai Jawa” tersebut.
USS Houston memiliki pennant number CA-30, merupakan kapal penjelajah berat milik Angkatan Laut AS dari kelas Northampton. Kapal tempur produksi Newport News Shipbuilding and Drydock Company ini memasuki jajaran Angkatan Laut AS pada 17 Juni 1930. Sebagai sebuah kapal penjelajah berat, ia diawaki oleh 1100 personil. Senjata andalan Houston: meriam utama kaliber 8 inci berjumlah sembilan buah yang terbagi di tiga kubah utama. Selain itu, ia juga dilengkapi pula oleh 24 buah meriam Bofors kaliber 40mm dan 28 buah meriam Oerlikon kaliber 20mm, gunanya untuk menangkis serangan udara. (Silverstone, 1965:34) Kala itu, sistem pertahanan semacam ini dapat dikatakan canggih.
Pada 1940, Houston ditugaskan ke Samudera Pasifik untuk memperkuat armada laut Amerika Serikar, Asiatic Fleet, di Manila, Filipina. Laksamana Thomas C. Hart, komandan Asiatic Fleet, kemudian memilih untuk berkedudukan di USS Houston. Pasalnya, Houston merupakan kapal perang terberat di Asiatic Fleet. Armada itu memang hanya terdiri dari penjelajah ringan USS Marblehead dan 13 kapal perusak kelas Clemson yang sudah tua.
Setelah Jepang menyerang Pearl Harbor dalam serangan mendadaknya yang tersohor pada 8 Desember 1941, Armada Pasifik AS kehilangan hampir seluruh kapal perangnya. Beruntung bagi USS Houston, ia luput dari serangan itu. Dua hari berselang, pada 10 Desember 1941, Jepang juga menyerang kapal tempur HMS Prince of Wales dan HMS Repulse milik Inggris, yang menjadi harapan terakhir bagi Sekutu, karam akibat serangan udara Jepang di lepas pantai Malaya. (Keegan, 2005:256)
Rentetan peristiwa ini menjadi pukulan besar bagi kekuatan laut Sekutu. Jepang segera mendaratkan satuan-satuan tentaranya di berbagai wilayah Sekutu seperti di Wake Island dan Guam (8 & 10 Desember 1941), Filipina (10 Desember 1941), Hong Kong (8 Desember 1941), Malaya (8 Desember 1941), serta Sarawak (1 Januari 1942). Rangkaian ofensif Jepang ini kemudian beralih ke Hindia Belanda, wilayah kaya sumber daya alam yang sejak awal menjadi tujuan utama serangan Jepang.
Sekutu tak tinggal diam. Pada 15 Januari 1942, dibentuk sebuah komando gabungan Sekutu yang bertajuk ABDACOM (American, British, Dutch, Australian Command), dibentuk di Bandung. (Keegan, 2005:262) Elemen laut dari ABDACOM awalnya dipimpin oleh Laksamana Hart, namun ia kemudian digantikan oleh Laksamana Conrad E. Helfrich dari Angkatan Laut Belanda. USS Houston bersama seluruh Armada Asiatik AS kemudian ditugaskan di dalam ABDACOM.
USS Houston dan USS Marblehead menjadi bagian dari satuan tugas ABDACOM yang dipimpin oleh Schout-bij-Nacht (Laksamana Muda) Karel Doorman. Pada 4 Februari 1942, Satuan ini berangkat dari Surabaya untuk mencegat armada pendaratan Jepang yang bergerak menuju Makassar, namun gagal, karena disergap oleh pesawat tempur Jepang di lepas pantai pulau Madura. Hasilnya, USS Houston mengalami kerusakan ringan dan USS Marblehead rusak parah dan harus mundur ke Cilacap untuk diperbaiki. (Nimitz dan Potter, 1960:204)
Tak menyerah, satuan tugas Doorman berlayar kembali untuk mencegat armada pendaratan Jepang pada 27 Februari 1942. Kala itu, armada Doorman terdiri dari 2 kapal penjelajah berat: USS Houston dan HMS Exeter; 3 kapal penjelajah ringan: HrMs. De Ruyter, HrMs. Java, dan HMAS Perth; serta 9 kapal perusak dari berbagai jenis. Sebaliknya, armada Jepang di bawah komando Laksamana Muda Takeo Takagi terdiri dari penjelajah berat Nachi dan Haguro, penjelajah ringan Naka dan Jintsu yang dikawal oleh 14 kapal perusak.
Di atas kertas, kedua armada ini terlihat seimbang. Namun, ada beberapa faktor yang menguntungkan Jepang. Misalnya saja, kondisi persenjataan Houston yang rusak karena dibom oleh Jepang pada pertempuran sebelumnya, moril pelaut Sekutu yang terpuruk, hingga keunggulan torpedo “Long Lance” milik Jepang yang terkenal mematikan. (Morison, 1984:23-25)
Pukul 16.00 sore harinya, kedua armada ini bertemu dan mulai bertukar salvo. Pertempuran Laut Jawa telah dimulai. HMS Exeter menjadi korban pertama dari pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran laut terbesar setelah Jutland pada Perang Dunia I. Sebagai korban pertama, sebuah kapal perusak Belanda Kortenaer terkena torpedo dan tenggelam. Pada pukul 21.11, Doorman berinisatif untuk menyerang kembali meskipun ia telah kehilangan 1 kapal perusaknya, dengan 5 kapal perusak lainnya harus kembali ke Surabaya lantaran kehabisan amunisi dan bahan bakar. (Nimitz dan Potter, 1960:207)
Pada pukul 23.00, kedua armada kembali saling menembaki. 20 menit kemudian, HrMs De Ruyter dan HrMs Java terkena torpedo Jepang, dan karam. Laksamana Muda Karel Doorman ikut tenggelam bersama kapalnya. Sebelum gugur, ia sempat memerintahkan sisa satuan tugasnya (USS Houston dan HMAS Perth) untuk mundur ke Tanjung Priok. Pertempuran Laut Jawa kemudian berakhir dengan kekalahan telak Sekutu.
Keesokan harinya, USS Houston dan HMAS Perth yang berhasil mundur ke Tanjung Priok kemudian diperintahkan untuk bergerak ke arah Cilacap, dikawal oleh perusak Belanda Evertsen. Namun, di jalan mereka bertemu dengan armada Jepang yang akan melancarkan pendaratan di Teluk Banten. Ketiga kapal ini kemudian karam setelah ditembaki kapal-kapal Jepang. (Nimitz dan Potter, 1960:207)
Tenggelamnya Houston dan Perth menandai akhir dari dominasi Sekutu di Hindia Belanda, tak hanya di lautan, namun juga di daratan. Jelas bahwa tanpa pertahanan di laut, kejatuhan Hindia Belanda hanya tinggal menunggu waktu. Sekutu akhirnya menyerah kepada Jepang pada 12 Maret 1942.
Kini, sisa-sisa kemegahan armada laut Sekutu di perairan Indonesia hanya tertinggal di dasar laut. Penemuan kembali kapal USS Houston seakan menjadi angin segar bagi upaya pelestarian memori Perang Dunia II yang memilukan. Tak hanya sebagai bagian merawat masa lalu, USS Houston dapat dijadikan tempat wisata sejarah yang mampu menarik perhatian wisatawan asing maupun domestik.
One of the greatest men I have ever known past away on Saturday. He had a great deal to do with the man I have become. He lived too be 100 y/o. Survived the sinking of the #usshouston during #WWII. Was a #pow in Japan for 3 years. His funeral will be on Friday. He was a true hero. A stranger who became family. But best of all my friend. #RIP (he hated having his picture taken)
Tattoo by Duke Riley @duke_riley #POW #scrimshawtattoo #usshouston #dukeriley (at East River Tattoo)