Mengenang Lee Kuan Yew: Pelajaran Berharga dari Negeri Singa
Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di Majalah Loka pada 23 Maret 2015.
Singapura, 23 Maret 2015. Tak ada yang berbeda pagi itu di Singapura. Namun kesibukan warga seakan terhenti ketika datang pengumuman dari Prime Minister’s Office yang menyatakan bahwa Lee Kuan Yew, bapak bangsa Singapura, telah meninggal pada usia 91 tahun. Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, menyatakan bahwa almarhum akan dikebumikan pada 29 Maret 2015 setelah tujuh hari berkabung nasional. Lee merupakan sosok yang sangat penting, tak hanya bagi Singapura, tapi juga dunia. Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, menyebutkan bahwa Lee adalah bapak bangsa Singapura dan figur legendaris dari Asia. Presiden AS Barack Obama menyebutnya seorang ‘raksasa dalam sejarah Asia’.
Lahir pada 16 September 1923 di Singapura, Lee Kuan Yew adalah Perdana Menteri pertama city-state tersebut. Keluarganya merupakan salah satu dari kaum imigran Cina yang menetap di wilayah yang kala itu dikenal sebagai Straits Settlements. Awalnya, ia berniat untuk belajar hukum di Inggris, namun rencananya terhalangi oleh invasi Jepang ke Singapura pada 1942, yang membuatnya kemudian menempuh pendidikan di Raffles Institution (kini National University of Singapore).
Pada masa pendudukan Jepang, Lee bekerja dengan pemerintah militer Jepang sebagai seorang penerjemah di kantor berita Jepang, Domei. Konon, selama pendudukan militer Jepang di Singapura, ia juga kerap menyalurkan informasi intelijen bagi Inggris. Dari perbuatannya itu, ia bahkan hampir menemui ajalnya. Menurut Alex Josey dalam bukunya Lee Kuan Yew Vol. 1, Lee sempat dipanggil oleh tentara Jepang untuk berkumpul bersama beberapa pria Cina lainnya, namun ia berhasil lolos. Belakangan diketahui, bahwa ternyata sekumpulan pria tersebut akan dibawa ke pembantaian Sook Ching Massacre yang terkenal. (Josey, 1980:41)
Setelah perang berakhir, niatan Lee untuk melanjutkan pendidikan ke Inggris terkabul juga. Lee berangkat ke Inggris untuk belajar di London School of Economics dan kemudian Cambridge University. Ia kembali ke Singapura pada 1949. Sempat bekerja sebagai seorang pengacara, ia kemudian mendirikan People’s Action Party (PAP) pada 12 November 1954. Melalui PAP, Lee Kuan Yew kemudian terpilih sebagai Perdana Menteri Singapura pertama pada 3 Juni 1959. Ia kemudian juga mendukung ide merger dengan Federasi Malaya bersama Malaya, Sabah, dan Sarawak. Pada 9 Juli 1963, Singapura menjadi bagian dari Federasi Malaysia.
Ternyata, sejak berdirinya Federasi Malaysia tak memiliki kestabilan politik. Perseteruan antara PAP dan United Malays National Organization (UMNO), partai mayoritas di Malaysia, kerap terjadi. Selain itu, ketegangan sosial antara kaum Melayu dan Cina juga sering berakhir dengan keributan. Pada saat yang sama, Singapura juga mengalami serangan dari Indonesia yang saat itu terlibat konfrontasi dengan Federasi Malaysia. Puncaknya, konsep “Ketuanan Melayu” yang diusung oleh UMNO akhirnya menjadi batu sandungan terbesar bagi persatuan Federasi Malaysia. Singapura pun akhirnya melepaskan diri dari Federasi Malaysia pada 9 Agustus 1965, dengan Lee Kuan Yew sebagai Perdana Menteri.
Setelah kemerdekaan, Lee kemudian dihadapi dengan berbagai permasalahan yang melanda Singapura. Negara tersebut tidak memiliki sumber daya alam sama sekali (air bersih pun harus diimpor dari Johor, Malaysia), ia dikelilingi oleh negara tetangga yang kala itu sikapnya bermusuhan, serta masyarakatnya terdiri dari berbagai ras yang sangat rentan perpecahan. Mengutip kata-kata Lee Kuan Yew sendiri dalam sebuah wawancara bersama New York Times: “To understand Singapore, you’ve got to start off with an improbable story : it should not exist”. (New York Times, 2 September 2007)
Namun nyatanya, Lee Kuan Yew berhasil membangun Singapura menjadi sebuah negara maju yang memiliki pendapatan bruto per kapita tertinggi di Asia Tenggara. Lee menjadikan Singapura sebagai pusat perdagangan dan kegiatan finansial di Asia Tenggara sembari membangun industri di dalam negeri. Melalui penegakan hukum yang tak pandang bulu, stabilitas politik, serta ideologi yang pragmatis, Singapura berkembang menjadi salah satu negara paling business-friendly. Menurut 2015 Index of Economic Freedom, Singapura adalah negara kedua dengan ekonomi terbebas di dunia.
Meskipun pemerintahan Lee dikenal dengan kebebasan ekonomi yang tinggi, beberapa kritikus kerap menyebutkan bahwa kebebasan berpendapat serta hak-hak lainnya dibatasi di Singapura. Berbagai larangan, seperti misalnya larangan penjualan permen karet, menjadi ciri khas pemerintah Singapura hingga kini. Masa pemerintahan Lee dan PAP yang mencakup lebih dari tiga dekade juga dianggap sebagai satu bentuk diktatorisme oleh beberapa pihak. Lee juga kerap menuntut perusahaan media di luar negeri yang menyuarakan kritik terhadap dirinya.
Terlepas dari berbagai pro dan kontra, Lee Kuan Yew merupakan seorang figur pemimpin besar dari Asia yang unik. Selama pemerintahannya yang bertahan lebih dari 30 tahun, Lee membawa Singapura dari sebuah koloni Inggris menjadi salah satu dari sedikit negara yang dijuluki “Macan Asia”. Ia membangun identitas Singapura sebagai sebuah bangsa dengan mengusung pluralisme dan multikulturalisme serta membawa Singapura ke dalam masyarakat internasional. Lee juga berperan besar dalam mempromosikan hubungan diplomatik yang lebih baik antara Singapura dan Indonesia, bahkan ia juga dikenal sebagai sahabat baik mantan presiden Soeharto. (Wanandi, 2012:161)
Kini, sang Bapak Bangsa Singapura telah berpulang. Tak hanya masyarakat Singapura, dunia pun merasa kehilangan sosok seorang pemimpin yang tegas, pragmatis, namun juga peduli dengan konstituennya. Nilai-nilai seperti ini patut dicontoh bagi para pemimpin di manapun di dunia. Seperti kata-kata Lee Kuan Yew sendiri : “I have spent my life, so much of it, building up this country. There is nothing more that I need to do. At the end of the day, what have I got? A successful Singapore. What have I given up? My life.”














