Menikmati Ke-selo-an di Daerah Istimewa Yogyakarta
Jogja, kata yang tepat untuk kota ini adalah, selo, selow, woles. Ya gitu deh ya haha. Akhirnya tanggal 5 Maret lalu berkesempatan lagi mengunjungi Jogja. Setelah tanggal 28 September tahun kemarin iseng main di Jogja cuma 2,5 jam.
👱: "Lah ngapain cuma 2,5 jam di Jogja?"
👦: "Gara-gara tiket promo KAI haha."
👱: "Ngapain aja 2,5 jam di Jogja?"
👦: "Menyusuri Malioboro hingga ke Museum Benteng Vredeburg."
Dengan naik kereta Logawa, (mau naik kereta eksekutif gak ada duitnya, cuy) pukul 5 sore saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Terlambat hampir sejam dari jadwal. Sampai sana, langsung menghubungi teman yang kost di daerah Sleman untuk jemput. Maklum, backpacker kere. Numpang ke kost-an temen supaya lebih hemat haha.
Jujur, ekspektasi awal saya terhadap Jogja yang selow banget agaknya perlu direvisi. Jogja, gak selow-selow banget. Jogja menjelma menjadi kota metropolitan dimana banyak hotel dan mall tumbuh. Ya meskipun, masyarakatnya masih selow dan ramah sih hehe.
Rencana awal ke Jogja ini gak main di kota Jogjanya sebenarnya. Melainkan ke Dieng. Namun, karena teman saya gak bisa bolos kuliah sesuai rencana awal, akhirnya saya dipinjami motornya untuk muter-muter keliling Jogja dan sekitarnya selama 2 hari. Hore!
Hari pertama, pilihan saya jatuh untuk main di sekitar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yakni, Alun-Alun Kidul, Taman Sari, dan tentunya ya dalam Keraton. Jalan kota Jogja agak membingungkan saya yang baru pertama kali naik motor di Jogja. Untung saja kuota di smartphone masih banyak (yaelah, sombong banget kampret) jadi hanya berbekal navigasi dan Google Maps serta sedikit nyasar, saya tiba di Alun-Alun Kidul. Motor di parkir, tanpa pikir panjang segera bergegas ke Beringin Kembar. Mau membuktikan mitosnya yang terkenal itu loh haha.
Puas "manasi' kamera dan mencoba melewati Beringin Kembar dengan mata tertutup (aslinya gak percaya soal mitos, tapi bisa ngelewati sih hihi semoga aja keinginan yang baik akan dikabulkan, oleh Allah tentunya) saya menuju Taman Sari dengan berjalan kaki karena jaraknya hanya sekitar 800 meter menurut petunjuk jalan (aslinya ya ngirit duit parkir haha). Taman Sari, bayangan saya hanya taman air yang foto-fotonya hits di Instagram itu tapi ternyata enggak!
Rupa, air. . . . @kebanggaanindonesia #kebangganindonesia #tamansari #tamansariyogyakarta #yogyakarta #exploreyogyakarta #indonesia #wonderfulindonesia #heritage #kratonjogja #instadaily #instagood
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 19, 2017 at 12:06am PDT
Sempat nyasar gara-gara sibuk foto ambil footage video, akhirnya tanya seorang kakek penduduk asli sana arah jalan menuju Masjid Bawah Tanah. Traveling kan yang seru soal nyasarnya, ya gak? haha. Di dalam area Masjid Bawah Tanah, suasananya lembab dan gelap. Untung aja banyak orang, ya gak banyak sih, beberapa doang. Mulai dari dedek-dedek gemezh sampai mbak-mbak cakep, lengkap. Jadi suasananya gak nyeremin gitu. Oh iya, tiketnya tetep 1. Saat awal beli di loket. Jadi buat traveler kere, tenang aja. Gak bakal menguras isi dompet kok.
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 19, 2017 at 8:01pm PDT
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 8, 2017 at 6:50pm PST
Terali, jeruji. . . . #yogyakarta #streetphotography #indonesia #instagood #instadaily
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 30, 2017 at 5:35pm PDT
Setelah hampir 2,5 jam menjelajahi area Taman Sari, saatnya berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Dengan berjalan kaki tentunya. Jaraknya sekitar 1 km dari Taman Sari. Sampai sana, sepi cuy. Saya masuk melalui pintu keprajuritan. Hanya ada beberapa orang yang berkeliling melhat koleksi Keraton.
Ngayogyakarta, ornamen. . . . #yogyakarta #keratonyogya #exploreyogyakarta #indonesia #wonderfulindonesia #pesonaindonesia #instagood #instadaily
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 20, 2017 at 6:56pm PDT
Puas dengan kunjungan ke Keraton dan waktu sudah menunjukkan masuk waktu sholat Ashar, saya melangkahkan kaki menuju ke Masjid Gedhe Kauman. Terakhir kesini waktu kelas 6 SD, dalam kegiatan rekreasi dan study tour. Setiap traveling ke luar kota, saya berusaha menyempatkan untuk berkunjung ke tempat yang jadi ciri khas kota tersebut. Apalagi Kota Jogja sarat akan tempat-tempat bersejarah. Hal yang tak akan saya lewatkan tentunya. Bersyukur saya punya beberapa teman yang tinggal di Jogja. Jadi, ada tempat buat numpag tidur haha. Lha wong motor yang saya pakai aja minjem dari teman saya, Krishna. Suwon yo, Kris haha. Malamnya, saya gak tidur di kost-an Krishna. Saya memilih main dan numpang tidur di rumah Jagad, teman sekelas pas SMK . Gad, suwon wes memperlakukan tamu yang nggateli koyo aku secara baik haha. Esok hari, saya bingung mau menentukan tujuan kemana. Banyak tempat-tempat kece di DIY. Saya ingin ke Kalibiru, Hutan Pinus Mangunan, Gunung Api Purba Nganggleran, dan sebuah pantai. Yaelah itinerary-nya banyak banget. Dan akhirnya pilihan jatuh ke Hutan Pinus di daerah Mangunan, Imogiri. Sebenarnya, tengah hari bukan waktu yang instagrammable untuk motret di daerah hutan pinus. Gak akan dapet suasana misterius, dark akibat kabut di tengah hutan pinus. Tapi gak masalah sih, pokoknya pernah kesana haha. Sekitar jam 10 siang saya mulai berangkat dari kost-annya Krishna, sempat salah pilih jalan karena kemampuan navigasi saya dengan Google Maps tidak terlalu jago. Tapi, berkat bantuan jin intuisi akhirnya sampai juga di daerah Mangunan sekitar pukul 12.30. Jadi, hutan pinus di daerah tersebut gak hanya ada di satu lokasi, tapi ada beberapa lokasi. Saat saya lewat, ada dua spot yang sengaja didesain sebagai hutan pinus yang instagrammable. Namun, ramai banget cuy. Gila, padahal weekdays loh saat itu. Mendadak hilang mood saat melihat lokasi yang begitu penuh dengan manusia. Akhirnya iseng untuk terus mengikuti jalan sekalian cari mushola terdekat hingga akhirnya sampai di gerbang masuk Puncak Becici. Saya familiar dengan nama tempat tersebut, tanpa pikir panjang langsung saja mengarahkan motor ke tempat tersebut. Alhamdulillah, tempatnya tidak seramai dua spot yang tadi. Memang sih, hutan pinus disini gak seindah mata kamu seberapa instagrammable, tapi suasananya enak buat berduaan, ngobrol dengan pasangan. Sayang, saya sendirian saat itu. Sial.
Setapak, pinus. . . . #folk #forest #imogiri #hutanpinusimogiri #yogyakarta #explorejogja #indonesia #wonderfulindonesia #landscape #landscapephotography #landscaphunter #landscapelover #instagood #instadaily
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Apr 8, 2017 at 10:03am PDT
Spot utama yang ditawarkan disini adalah pemandangan dari atas tebing Puncak Becici. Menurut situs yogyes.com, tempat ini paling asik didatangi saat menikmati sunset. Memang benar, saat tengah hari, pemandangan dari atas terkesan biasa aja. Biasa aja karena saya juga sendirian. Sedangkan banyak pengunjung yang berdua. Sabar. Sejenak tiduran dan browsing tempat tujuan keren selanjutnya, pilihan jatuh kepada Pantai Kesirat. jaraknya sejam dari lokasi saya saat itu. Lumayan pikir saya. Karena saat itu masih pukul 14.30. Yang bikin tempat ini kece, karena ada satu pohon yang doyong ke kanan. Jalan ke daerah Gunung Kidul agak sepi, gak seperti jalan menuju pantai di Malang selatan. Jalannya juga mulus, terlihat baru diaspal. Sempat nyasar memilih belokan saat di pertigaan, dan gak sengaja berhenti untuk ishoma di Masjid Jenderal Sudirman. Ternyata daerah tersebut merupakan tempat Jenderal Sudirman beserta pasukannya dulu bergerilya. Ada plakat yang menunjukkan arah lokasinya. Sempat ragu karena sudah hampir pukul 17.00 dan belum ada tanda-tanda ada laut, membuat saya sempat ingin balik kucing. Meskipun jalannya aspal mulus, tapi tetep aja berada ditengah hutan. Rumah-rumah penduduk juga jarang ketika saya semakin melaju ke selatan. Dengan modal nekat, saya tetap melanjutkan perjalanan. Pokoke Bismillah. Tak seberapa lama, akhirnya penampakan laut mulai terlihat. Tak jauh di depan, ada papan lokasi bertuliskan "Pantai Wohkudu". Alhamdulillah, sudah dekat. Saya pun meneruskan perjalanan hingga jalan beraspal mulus hilang berganti dengan pemandangan laut yang cantik dari atas tebing. Iya, saya sudah sampai di Pantai Kesirat. Senangnya. Tentu saja, kegiatan mengabadikan foto dan footage video tak boleh terlewat. Ini, ada beberapa foto epik, sila dinikmati.
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 9, 2017 at 5:23pm PST
Biru, batu. . . . @kebanggaanindonesia #kebangganindonesia #pantaikesirat #gunungkidul #daerahistimewayogyakarta #indonesia #explorejogja #exploregunungkidul #wonderfulindonesia #1dayescape #sea #landscape #landscapephotography #landscapelover #travel #travelphotography #travelblogger #instadaily #instagood
A post shared by Joko Lang (@jolanggg) on Mar 31, 2017 at 6:41pm PDT
Sayang, ketika saya kemari langit sedang tak bersahabat dengan sang surya. Karena gagal mendapatkan keindahan sunset, saya putuskan pulang agar tidak terlalu malam saat melintas di tengah hutan. Ngeri bos hehe. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari kakek penjaga parkir disitu, tempat tersebut juga sering dibuat untuk camp. Pantas saja saya lihat ada sampah berserakan dan bekas api unggun. Kebiasaan buruk muda-mudi Indonesia, duh. Oh iya, ada cerita unik saat saya ke daerah Pantai Kesirat ini. Kan saya sendiran kesana, pas mau balik kakek tukang parkir tersebut mengingatkan kalo saya sendirian, harus hati-hati. Saya iyakan saja, dan gak berpikir macam-macam. Kemudian saat saya selesai sholat Maghrib di daerah tersebut, ada kakek-kakek juga yang mengingatkan saya kalau sendirian harus hati-hati. Masih tidak berpikir macam-macam, saya mengiyakan saja seraya berdoa supaya bisa selamat sampai tujuan. Esoknya, Krishna bilang kalau ada orang yang motor sendirian di daerah Wonosari biasanya ada makhluk usil yang suka menumpang. Seperti yg diulas disini. Seketika saya langsung paham perkataan dua orang kakek-kakek yang kemarin. Ngeri, cuy. Untung masih selamat dan bisa menuliskan pengalaman disini. Alhamdulillah.