Wanita beruntung itu...
Adzan subuh baru saja selesai berkumandang. Aku berwudhu kemudian sholat subuh. Selesai sholat, aku bergegas menuju dapur untuk menyiapkan bekal suami dan anak-anak.
Ku dengar sayup-sayup suara lelaki paruh baya membaca dzikir pagi dan quran. Ya, itu suara tetanggaku. Seorang lelaki paruh baya yang telah memiliki cucu. Belum lama beliau ditinggal istrinya menghadap Sang Pencipta. Seperti biasa di waktu subuh, aku mendengar sayup-sayup lantunan ayat suci alquran dan dzikir pagi dari tetangga sebelah.
Beruntungnya, lantunan quran itu tak alpa dari surat Yasiin. Setiap hari. Saat subuh dan maghrib. Beliau persembahkan surat cinta itu kepada sang istri yang belum lama pergi. Seolah beliau sedang rindu setiap hari.
MasyaAllah betapa beruntungnya sang istri, mendapatkan surat cinta dari suaminya. Lantunan kiriman bacaan quran yang menerangi alam kuburnya. Doa dan kebaikan serta lantunan ayat suci, menjadi tanda cinta lelaki paruh baya itu. Saat tangan tak lagi menggenggam, mata tak dapat menatap, raga tak lagi bersua, maka ekspresi rindu menjelma menjadi doa.
Seolah lelaki paruh baya itu, menitipkan cinta hati nya kepada Sang Pencipta. Bahwa kekasih hatinya akan baik-baik saja disana, sampai suatu saat mereka akan bersua.
Wanita beruntung itu, ia. Wanita paruh baya yang dicintai bukan hanya di dunia, tetapi hingga di alam sana.
Jakarta, 17 November 2025
Nike Triendah Asih










