"Bu, ini harus dilahirkan lebih awal. Jika tidak, kandungan akan semakin besar dan beresiko pendarahan saat melahirkan." Ucap bu bidan langgananku, yang sudah tahu riwayat melahirkan sejak kehamilan pertamaku.
Padahal, kandunganku ini masih berusia 32 minggu, artinya masih 8 bulan dalam kandungan.
Aku dan suami saling bertatap saat kontrol bulanan kehamilan kali ini. Agak terheran tapi menyetujui pula saran dari bu bidan. Karena kami yakin, bu bidan lebih paham kondisi medisnya.
"Mulai pekan depan, kita suntik pematangan paru ya pak bu agar paru-paru baby siap jika memang harus dilahirkan lebih awal (prematur). Suntik dilakukan sebanyak 3x, setelah itu kita persiapan kelahiran. Tolong banyak olahraga ringan supaya kepala bayi tidak sungsang."
Ya, begitulah kondisi kehamilan kedua ini yang cukup membuat jantung selalu dag dig dug. Posisi sungsang (bokong di bawah), tekanan darah tidak stabil, ukuran baby jumbo dan harus dilahirkan sebelum waktunya agar tidak bertambah besar ukuran baby nya yang beresiko menyulitkan proses persalinan.
Pekan ke 33, jadwal USG rutin sebelum kelahiran. Nampaknya si baby tidak mau muter lagi posisi kepalanya. Posisi kepala diatas dan bokong stuck di bawah karena sudah masuk ke pinggul. Agak khawatir dengan situasi ini, hingga tekanan darah ku pun naik. Tapi aku harus tetap semangat dan tidak terlalu panik dan stress.
Akhirnya aku mengurus surat rujukan untuk berjaga jika harus mengalami kondisi terburuk, yaitu caesar. Alhamdulillah proses pembuatan surat tidak terlalu ribet, dan Allah permudah semua. Tapi keinginanku untuk melakukan persalinan normal, tetaplah menjadi yang utama.
Aku dan suami terus berkonsultasi dengan bidan langganan kami.
"Bu, apakah dengan kondisi sungsang dan bayi jumbo ini, kami tetap bisa melakukan persalinan dengan normal?"
"Jika ibu yakin ibu mampu dan bisa, kami pun mengusahakan untuk bisa membantunya." Jawab bu bidan.
Entah mengapa, dengan jawaban bu bidan ini, aku yakin dan menetapkan keputusanku untuk persalinan normal. Bismillah saja... Ujarku dalam hati.
Tibalah di usia 34 minggu. Bu bidan meminta kami untuk rutin melakukan induksi alami. Tiba pula di hari suntik pematangan paru ketiga. Sekitar bada isya aku disuntik, badanku mulai merasa pegal, tidak nyaman, dan gelisah.
Tiba di hari jumat 11 November 2022, pukul 12 malam aku tidak bisa tidur nyenyak, rasanya gelisah sekali. Sambil sesekali perut rasanya tidak nyaman. Hingga pukul 2 malam di tanggal 12 November, perutku mulas intens 5 menit sekali. Aku tak tega membangunkan suamiku, karena baru saja ia tertidur setelah berjaga menungguku tidur dengan nyaman. Setelah aku hitung, pukul 3 pagi mulasnya semakin intens 2 menit sekali. Aku rasa ini sudah waktunya melahirkan. Akhirnya ku bangunkan suamiku.
Bercak darah mulai keluar dari jalan lahir, perutku rasanya tidak karuan. Mules dahsyat. Kemudian suamiku segera ambil mobil dan kita menuju bidan. Qadarullah, bu bidan sedang berjaga di klinik dan klinik masih buka. Alhamdulillah rejeki si baby.
Pak suami menelpon mamaku dan mama mertua. Akhirnya datanglah mama dan mama mertuaku ikut menemani proses persalinan.
Mulesnya semakin menjadi. Tensiku dicek ternyata tinggi sekali. Proses persalinan dimulai. Aku menuju ruang persalinan, rebah di atas kasur persalinan. Pembukan lambat laun semakin membesar.
Proses kelahirannya tidak mudah karena posisi sungsang, sehingga kontraksi tidak sekuat jika posisi di bawah. Dorongan bayi pun lemah, tidak kuat karena bokong yang akan keluar duluan. Aku berusaha sekuat tenaga membantu mendorong baby.
"Ayo bu semangat, dikit lagi ya.." Ujar bu bidan dan asistennya yang sembari menyuguhkan minuman dan snack. Karena kondisiku yang mulai melemah
"Bidan kiki, tolong siapkan infus.." Kata bidan putri
Nampaknya kondisi tubuhku sudah lelah karena sudah terlalu lama kontraksi namun tidak ada kemajuan.
Dipasanglah infus untuk tensi darah, infus untuk gula darah (karena tensi dan gula darah tetiba naik dan tidak stabil), dan juga dipasangkan selang oksigen.
Dadaku rasanya sesak sekali, seperti kehabisan nafas rasanya. Nampaknya aku lelah dan kehabisan tenaga. Tapi aku tetap optimis dan semangat.
"Ayo bu nike, insyaAllah subuh jam 5 babynya launching ya. Tetap semangat bu." Ujar bu bidan
Aku kembali bersemangat. Aku harus bisa. Bayiku harus selamat. Akupun harus sehat.
Jam 7... Belum juga berhasil untuk dilahirkan.
Sampai akhirnya bu bidan memutuskan hal terburuk..
"Bu,maaf ya saya harus melakukan ini, agar bayi cepat dilahirkan, karena kondisi air ketuban sudah pecah dan kering."
Diambilah gunting, dan sreeeek. Diguntinglah jalan lahirnya. Kemudian aku kembali berjuang. Lalu lahirlah si baby sungsang dengan bokongnya terlebih dahulu yang muncul.
Namun, tunggu. Kenapa tidak ada suara tangisan?
Aku menangis, mamaku menangis. Suamiku berdzikir. Ya, bayinya tidak menangis sama sekali. Akhirnya bu bidan menepuk-nepuk kaki, bokong dan punggung baby agar segera menangis. Namun tidak ada tanda-tanda tangisan.
Kemudian bu bidan mengambil selang untuk membersihkan jalur nafas baby. Sambil menepuk-nepuk kembali badan baby. Baby nampak pucat dan hitam.
"Ya Allah.. Selamatkan bayiku.." Tangisku dalam hati sambil berdoa yang baik-baik.
Tak lama, terdengarlah tangisan bayiku. Aku bersyukur dan menangis bahagia. Sabtu, 12 November 2022, pukul 07.30, baby jumboku lahir dengan selamat, seorang bayi laki-laki dengan BB 4,5kg dan PB 53,5cm
Selamat datang ke dunia ini, anakku sayang. Terima kasih sudah berjuang bersama. Bunda dan ayah selalu menyayangimu, sampai kapanpun nak. Bahkan bunda rela mempertaruhkan nyawa bunda untukmu. Jadilah anak sholeh nak, berbaktilah nak, cerdaslah nak, bahagialah nak, panjang umur dan sehat selalu. Hadirmu menjadi berkah bagi ayah, bunda, kakak, dan semua ❤
Semua ini karena kebaikan Allah. Allah mudahkan semua prosesnya. Allah beri hadiah seindah ini, agar kita merenungi betapa Allah Maha Kuasa, Allah yang menjadikan mudah segala yang sulit 🤍
Ditulis saat kamu berulang tahun ke-2, agar memori ini teringat selalu...
Jakarta, 12 November 2024
#Your beloved ayah bunda#