Perbincangan Bagian Entah Keberapa--
Dan aku berbincang dengan diri sendiri lamat-lamat
dia diam saja, tapi mengirimkan telepati kalau dia ingat.
Dulu, surat-surat panjang bisa ditulis dengan banyak ruang-ruang hampa yang bisa diisi dengan guntingan kertas yang polanya itu-itu lagi.
Kamu bahkan tidak pernah berpikir bahwa penerimanya akan menerima karena bingung harus diapakan afeksi yang lebih mirip keran air yang patah.
Lalu sekarang mau menulis apa?
Yang ingin ditulis banyak sekali, tapi mungkin sedikit banyak lupa rumah dengan keran air yang patah itu tak pernah dikunjungi lagi.
Tak pernah ditanya lagi kabar mata airnya, sudah seberapa lama mengering.
Sama halnya dengan jalur terhubung yang tak pernah lagi dijejaki, hanya kamu dan ruang kubikal yang mengulang-ulang energi yang sama setiap harinya.
Energi untuk berkubang lalu rebah, rebah lalu berkubang, berputar-putar pada itu.
Setiap ruang jeda yang direncanakan berakhir lebih banyak tak sejalan. Tapi, ternyata sudah bisa (sedikit sekali) lebih lapang pengampunannya.
"Jadi, setelah ini dan itu, apakah akan ke sana?"
dia diam saja, dijawabi dengan bunyi gemuruh dari perutnya.
"aku perlu melakukan ini dan itu, dan beberapa ini itu lain sebelum ke sana. Bagaimana?"
"tidak ada yang mengharuskanmu mengusahakan semuanya setiap hari, kamu boleh rebah saja saat bisa"
kali ini dia yang termenung sambil melirik botol minum berembun yang sudah kosong
"kamu tahu aku mana bisa begitu"
Pembicaraan berhenti, dia bilang harus mandi sebelum makan santapan pertamanya pagi ini. Terlalu banyak rencana, kenapa aku harus jadi dirinya?, mataku sayu menatap pantulan cermin, dia hidup di dalamku.