Ricardo Villalobos - Widodo
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from Australia
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from China

seen from Canada

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from Australia
seen from Switzerland
Ricardo Villalobos - Widodo
Indonesia's Independance day held in unfinished capital of Nusantara for first time
Indonesia commemorated its 79th Independence Day on Saturday with a ceremony in Nusantara, the unfinished future capital designed to relieve pressure on sinking Jakarta. However, construction of the new capital has fallen behind schedule. Hundreds of officials and invited guests gathered amidst the ongoing construction, surrounded by government buildings in progress and the sight of cranes at the…
Indonesia's leading presidential hopeful picks Widodo's son to run for VP in 2024 election - Times of India
JAKARTA: Indonesia’s leading presidential hopeful named outgoing President Joko Widodo‘s eldest son as his running mate in next year’s election in Southeast Asia’s largest democracy. The announcement late Sunday by Prabowo Subianto – a former special forces general who currently serves as defence minister – that he had chosen Gibran Rakabuming Raka as his vice-presidential candidate ended weeks…
View On WordPress
Diresmikan Jokowi, Intip Penampakan Tol Pertama di Bengkulu
Beritapatriot – Presiden RI Joko Widodo meremikan Tol Bengkulu-Taba Penanjung hari ini, Kamis 20 Juli 2023. Jokowi mengatakan keberadaan Tol Bengkulu-Taba Penanjung akan meningkatkan perekonomian Provinsi Bengkulu dan daerah-daerah lainnya. “Dengan selesainya jalan tol akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mobilitas orang, Mobilitas barang dan kita harapkan dapat mensejahterakan…
View On WordPress
Bendera Biru Setengah Tiang
Hening. Tak ada nyala petasan, bunyi trompet, atau riuh semacamnya pada malam pergantian tahun ini. Tak ada yang aku dengar selain suara hujan jatuh dan sayup-sayup suara warga di luar, yang masih jagongan hingga larut. Kala itu, aku berada di perbukitan menoreh, barangkali sengaja menghindar dari hiruk pikuk Kota Jogja yang biasanya menjadi destinasi para khalayak, pada momen malam tahun baru. Aku tak menduga, jika awal tahun 2022 akan menjadi rentetan kabar kelam dan peristiwa tak membahagiakan.
Januari baru berjalan separuh, nasib baik tak mampu ku rengkuh. Aku mengalami tabrak lari saat mengendarai motor menuju tempat kerja, yang mengakibatkan patah tulang pada pergelangan kaki kiriku. Seketika, kaki kiriku tidak bisa untuk menumpu atau bahkan menapak ke tanah. Aku kehilangan kemampuan berdiri dan sulit berjalan tanpa alat bantu. Selama hampir tiga bulan, aku terpaksa menarik diri secara fisik dari berbagai kegiatan.
Awal Februari, kabar duka menyelimuti Desa Wadas (Purworejo). Mbah Syamsul, atau akrab dipanggil 'Mbah Kyai', salah satu tetua di Wadas dikabarkan meninggal dunia, aku tidak bisa melayat karena kondisiku. Setelah kepergian Mbah Syamsul, peristiwa Geger Geden 8 Februari terjadi. Desa Wadas dikepung ratusan aparat gabungan kepolisian dan preman yang mengawal proses pengukuran tanah oleh pihak pemrakarsa proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Bener. Saat kejadian itu, sekitar 60 warga dikrimanlisasi, ibu-ibu, anak-anak, dan lansia mengalami trauma.
Berikutnya, pada 25 Ferbruari 2022, kabar duka juga datang dari Kendeng. Mbah Wargono, tetua sedulur sikep, salin sandangan (tutup usia). Pun aku tidak bisa hadir ke pemakaman beliau. Selama dua bulan hanya melihat sosial media dan grup whatsapp (WA), terasa menyerap banyak energi. Sejak saat itu, aku memutuskan mengurangi intensitas membuka handphone karena berturut-turut membuat riuh isi kepala, dan aku merasa tidak bisa bergerak kemana pun saat itu.
Aku menjadi slow response, sehingga membuatku terlambat membaca WA yang berisi sebuah pesan suara dari Mas Widodo PPLP-KP pada tanggal 26 Februari 2022. Pesan suara itu berbunyi seperti ini "Chel, pelayanane RS PKU Muhammadiyah iku apik ora? Aku dirujuk rono je" (Chel, pelayanan RS PKU Muhammadiyah itu bagus tidak? Aku dirujuk kesana). Mas Wid, begitulah orang akrab memanggilnya, mengetahui aku yang sejak awal kecelakaan menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, menanyakan tentang pelayanan rumah sakit tersebut. Terakhir yang aku tahu, Mas Wid sedang menjalani pemulihan dan pengobatan jangka panjang pasca dirawat di RS Rizki Amalia Temon. Saat itu, ia sudah pulang ke rumah, bahkan mendoakan operasi keduaku lancar supaya bisa kumpul-kumpul lagi.
Pesan suara dari Mas Wid baru aku dengarkan tiga jam setelah ia kirim, saat aku membuka WA. Suaranya terdengar lirih dan sayup-sayup juga terdengar suara monitor seperti yang biasanya ada di rumah sakit. Aku hanya membatin, “lho, Mas Wid dirawat (di rumah sakit) lagi ya?”. Setelah aku respon, tidak ada lagi balasan. Sedikitpun, aku tidak mengira bahwa pesan suara Mas Wid itu menjadi kata-kata terakhir yang ia sampaikan padaku.
Sampai esok harinya tanggal 27 Februari 2022, yang membalas pesanku adalah Mbak Tri (istri Mas Wid). Ia memberi kabar bahwa Mas Wid sudah mendapatkan perawatan di ICU RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan menjalani cuci darah karena gagal ginjal, kondisinya belum sadar. Sontak aku kaget, karena sudah gagal ginjal dan harus cuci darah. Saat itu Mbak Tri mengira bahwa aku masih dirawat inap di rumah sakit itu juga, lalu aku sampaikan bahwa aku sudah rawat jalan dan hanya ke rumah sakit kalau kontrol saja.
Selama Mas Wid di ICU, beberapa kawan seperti Heron, Mas Adi, Mita, Yudis, Muslich, Maksi, dkk, ikut bergantian menjaga Mas Wid dari pagi hingga siang, apabila Mbak Tri atau keluarganya ada keperluan ke Kulon Progo. Kawan-kawan terus berkabar tentang perkembangan kondisi Mas Wid dan membahas kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan selama Mas Wid dirawat.
7 Maret 2022, Mbak Tri berkabar dan meminta doa untuk kelancaran operasi pemasangan alat bantu pernafasan Mas Wid yang rencananya dilakukan besok pagi. Keluarga berusaha mengupayakan semaksimal mungkin, selebihnya pasrah kepada Sing Nggawe Urip. Kita semua saling mendoakan, berharap masa-masa kritis ini dapat Mas Wid lalui.
Aku teringat, sejak awal pandemi Covid-19, Mas Wid memang sering mengeluhkan sakit. Mulai dari saraf ketarik, sesak di dada, asam urat tinggi, hingga kakinya yang sering sakit. Belakangan, Mas Wid sering mengeluhkan soal rasa sesak di dada sebelah kiri yang ia alami. Kalau periksa ke dokter, diduga jantungnya bermasalah tapi perlu diagnosa lebih lanjut.
Aku yang mendengarkan, hanya bisa menyarankan padanya untuk mengurangi begadang dan kebiasaannya minum teh yang terlalu manis. Aku sampaikan padanya untuk memperbanyak minum air putih, kalau sesak coba untuk melakukan proning (mengatur posisi tubuh saat mengalami gangguan pernafasan). Terakhir kali, aku dan kawan-kawan sempat membawakan tabung oksigen dan obat untuk mengurangi rasa sesak yang Mas Wid rasakan.
Manusia hanya bisa berharap pada hal-hal baik dan keajaiban semesta. Tapi manusia tidak benar-benar tahu bagaimana Gusti Allah punya rencana, yang seringkali membuat manusia berada dalam kondisi siap atau tidak siap menjalaninya. 9 Maret 2022 menjadi akhir dari perjuangan Mas Wid melawan rasa sakit di tubuhnya, setelah 11 hari terbaring di ICU. Alat-alat medis sudah tidak mampu lagi membantu Mas Wid. Gusti Allah lebih sayang Mas Wid. Ia telah menyembuhkan dan membawa orang baik ini kembali ke sisi-Nya.
Posisiku saat itu sedang proses pemulihan di utara Jogja, Kilometer 20. Aku yang ditemani Mbak Ani dan Mas Adi, baru mendapat kabar duka kepergian Mas Wid malam harinya. Firasat tidak enak muncul di benakku ketika Mas Adi menghampiriku dengan mata sembap. Dia berkata "Mas Wid udah nggak ada… Chel…" Seketika suasana pecah, berserak, dan sesak. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’uun. Air mata tetap saja membuncah, aku merasakan sedih kehilangan yang kesekian kalinya, melengkapi tiga bulan hitam awal tahun ini.
Esok harinya, sepanjang perjalanan menuju rumah duka mengikuti prosesi pemakaman, sampai aku melihat peti jenazah Almarhum Mas Wid dikuburkan di pasir hitam itu, rasanya masih belum percaya kalau secepat itu ia pergi. Muslich bercerita, “dari semalam tamu nggak leren mbak, Mas Wid orang baik”. Iya aku sepakat, Mas Wid orang baik. Kullu Nafsin Dzaa-’iqotul Maut.
Sepulang dari pemakaman melewati sepanjang Jalan Daendels (Panjatan, Kulon Progo), aku melihat bendera biru PPLP-KP terpasang setengah tiang, berkibar-kibar tertiup angin pesisir. Seperti mengabarkan kepada kita semua bahwa masyarakat pesisir Kulon Progo tengah berkabung; kehilangan sosok yang sangat berarti bagi mereka. Memoriku terpanggil, mengenang sosok Mas Wid yang selama ini aku kenal.
***
Sebelumnya, nama Widodo dari Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP) hanya aku tahu saja, tapi tidak aku kenal secara dekat. Aku tidak seperti kawan-kawan Jogja lain yang sudah lama mengenal Mas Wid, kawan-kawan sudah melewati banyak hal bersama Mas Wid, dan bertahun-tahun menemaninya berjuang di lapangan. Aku baru mengenal dekat sosok Mas Wid sejak 2 tahun terakhir ini.
Aku tahu Mas Wid sejak 9 tahun yang lalu, saat masih mahasiswa tingkat akhir di kampus IPB. Saat itu, aku menjadi salah satu anggota tim dalam acara diskusi dan bedah buku bersama kawan-kawan Forum Mahasiswa Bersuara (FMB) pada tanggal 21 November 2013. Buku yang kita bedah berjudul Menanam adalah Melawan (MAM), sebuah buku yang ditulis oleh Mas Wid yang mengisahkan perjalan warga PPLP-KP memperjuangkan ruang hidupnya dari ancaman pertambangan pasir besi.
Saat itu, kita menghadirkan Mas Wid sebagai narasumber bersama dengan Pak Gunawan Wiradi (almarhum) dan Dr. Satyawan Sunito selaku pakar agraria, serta Mas Eko Cahyono sebagai moderator. Acara bedah buku dibuka dengan pembacaan puisi dan pementasan teater berjudul Prahara Kulon Kono, yang naskahnya diambil juga dari buku MAM. Pementasan teater diperankan oleh kawan-kawanku, sementara tugasku hanya sebagai penata cahaya (alias tukang menghidupkan dan mematikan lampu) selama pementasan.
Saat acara diskusi dan bedah buku itulah aku tahu sosok Mas Wid. Seorang petani yang gesturnya berbeda dari petani-petani yang kebanyakan aku jumpai, gaya bicaranya lugas dan apa adanya khas wong pesisir (aku juga berasal dari pesisir, tapi di pantai utara). Sosok Mas Wid terlihat nyentrik berkaos hitam, bergelang hitam, dengan rambut dikuncir kecil di belakang, lengkap dengan tindik yang menggantung di telingannya. Dalam benakku saat itu, "petani metal! pesisir memang keras!".
Mas Wid adalah sosok petani progresif dan berani. Ia berbagi kisah tentang perjuangannya bersama masyarakat petani pesisir Kulon Progo, menolak rencana penambangan pasir besi yang akan dilakukan oleh PT JMI. Mas Wid bersama segenap warga PPLP-KP melakukan aksi besar-besaran mengusir tambang dan antek-anteknya. Bagi para petani, tambang tidak ada untungnya dan tidak akan menyejahterakan hidup mereka. Tambang hanya akan membuat mereka kehilangan sumber mata pencaharian dan masa depan.
Menanam adalah Melawan menjadi judul buku yang ditulis oleh Mas Wid, sekaligus menjadi slogan yang kemudian banyak digaungkan di berbagai aksi massa. Menjadi “petani” adalah sebuah identitas bagi masyarakat yang hidupnya sudah turun temurun bertani di tanah pesisir Kulon Progo itu. Terus menanam adalah cara untuk melawan, ketika tanah mereka terancam oleh rencana proyek tambang pasir besi. Mereka ingin menyelamatkan tanah mereka dari penggusuran, mempertahankan tanah yang selama ini menghidupi mereka. Seperti yang kita ketahui, tanah pasir pada dasarnya sulit diolah, namun para petani di PPLP-KP membuktikan bahwa lahan pantai sangat bisa ditanami beraneka ragam bahan pangan.
Gerakan rakyat PPLP-KP terasa begitu alot ketika yang harus dihadapi adalah hukum dan pemerintahnya sendiri. Trenyuh mendengar cerita kawan Mas Wid, yakni Pak Tukijo, yang mengalami kriminalisasi karena berjuang menolak tambang pasir besi. Tulisan di dalam buku MAM ini menceritakan pengalaman empiris Mas Wid dan warga PPLP-KP yang melawan segala bentuk ketidakadilan terhadap petani. Banyak yang Mas Wid kritisi di dalam bukunya, mulai dari seniman, LSM, sampai akademisi ‘peneliti’ yang seringkali hanya datang mencari data tanpa memberikan hasil.
Setelah acara diskusi dan bedah buku selesai, aku dan kawan-kawan ngobrol santai dengan Mas Wid. Kalau dilihat secara fisik, sosok Mas Wid tampak garang, tapi sebenarnya ia pribadi yang ramah dan hangat. Bicaranya los, tidak bertele-tela, dan ceplas ceplos, membuat kita merasa tidak berjarak dengannya. Saat itu kawan-kawan bertanya pada Mas Wid "jadi, apa harapan Mas Wid kepada kita-kita ini setelah diskusi tadi?" lalu ia menjawab "nggak ada… aku cuma menularkan ke kalian virus-virus pemberontakan... ha ha ha" (candanya sambil tertawa). Itulah kali pertama, perjumpaanku dengan sosok Mas Wid.
***
Selama bertahun-tahun aku tidak pernah berjumpa lagi dengan Mas Wid. Sampai pada tahun 2019, aku pindah domisili di Jogja dan diajak Mas Tommy Apriando (almarhum) ke acara Harlah PPLP-KP yang ke-13, yang bertema “Bertani dengan Senang, Melawan dengan Riang: TAMBANG PASTI TUMBANG”. Acara itu merupakan peringatan hari lahir gerakan PPLP-KP yang digelar setiap tahunnya. Gerakan masyarakat petani pesisir melawan tambang pasir besi, yang tetap solid selama belasan tahun. Di situlah, aku berjumpa kembali dengan sosok Mas Wid, dan untuk pertama kalinya aku melihat sosok Pak Tukijo yang sebelumnya hanya aku baca di buku Menanam adalah Melawan.
Beberapa waktu berikutnya, ada acara nonton bareng film Sexy Killers di UIN Sunan Kalijaga, Mas Wid menjadi salah satu pembicara dalam acara itu, senang rasanya kembali mendengarkan Mas Wid berdiskusi soal konflik agraria. Selanjutnya, aku bertemu Mas Wid pada acara Tamansari Melawan di Bjong Kopi, Yogyakarta, Mas Wid datang bersama Pak Tukijo. Saat itu menjadi momen aku ngobrol lagi dengan Mas Wid. Ia masih mengingatku dan memanggilku dengan sebutan "Cah IPB". Aku berkata padanya, "aku udah lulus lama, Mas, habis bedah buku dulu itu aku lulus". Barangkali karena aku ikut nongkrong bersama almarhum Mas Tommy dan kawan-kawannya, jadi bisa membuka obrolan lagi dengan Mas Wid.
Sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, aku jadi sering ke tempat Mas Wid di Desa Garongan. Aku dan kawan-kawan mengambil sayuran untuk dapur-dapur Solidaritas Pangan Jogja (SPJ). PPLP-KP berkomitmen memasok kebutuhan sayuran untuk dapur umum. Seminggu sekali kawan-kawan bergantian ke sana mengambil sayuran. Tidak tanggung-tanggung, PPLP-KP berdonasi sayuran satu mobil pick up penuh. Berbagai jenis sayuran hasil bumi lahan pesisir, seperti kangkung, bayam, sawi, daun singkong, pare, kacang panjang, cabai, terong, tomat, pepaya, sampai daun kelor, semua kita angkut. Saat itu, Mas Wid baru bertanya-tanya lagi tentang aku.
"Bar lulus IPB, kowe dadi cah LSM yo?" (setelah lulus IPB, kamu jadi anak LSM ya?) tanyanya.
"Aku dudu LSM mas. Aku PNS pertanian bagian hama penyakit tanaman ning DIY" (aku bukan LSM mas. Aku PNS pertanian bagian hama penyakit tanaman di DIY) jawabku.
"Jembottt...! abdi ndalem yoo?!" selorohnya.
"Ora yo mas, aku kan ning sawah, ning kebon, ora ning kraton" (tidak ya mas, aku kan di sawah, di kebun, tidak di kraton) pungkasku.
Lalu Mas Wid tertawa dan berkata "Ha ha ha... yowes lah kowe pengecualian, cah pertanian ono gunane. Ngewangi ngurusi tanduran lombokku sing keno kutu kebul" (ha ha ha, ya sudah lah kamu pengecualian, anak pertanian ada gunanya. Membantu ngurus tanaman cabaiku yang kena kutu kebul).
Sejak itu aku merasa diterima Mas Wid. Ia tidak mempermasalahkan profesiku dan menganggapku sebagai “Michelle” saja. Aku respek sekali dengan hal itu. Sebenarnya kalau bicara soal pertanian, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan petani yang bersentuhan langsung dengan lahannya.
Aku dan Mas Wid banyak bertukar pendapat soal masalah hama penyakit tanaman, bahkan berdebat soal penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetik. Ia mengajakku ke lahan cabainya, menunjukkan padaku sprinkler (penyiram tanaman yang menggunakan metode penyemprotan seperti curah hujan alami) yang katanya ia desain sendiri. Ia juga menunjukkan padaku gejala-gejala tanamannya yang terserang hama penyakit.
Aku sering menawarkan kepada Mas Wid untuk menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan yang bisa dibuat sendiri, Mas Wid bersepakat untuk mencoba. Beberapa kali Mas Wid memintaku membawakan PGPR ‘Plant Growth Promoting Rhizobacteria‘ (bakteri di sekitar perakaran pemacu pertumbuhan tanaman) dan Trichoderma harzianum (jamur antagonis yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit layu pada tanaman cabai yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp.) keduanya disebut sebagai agensia hayati. Kata Mas Wid, hasilnya cukup bagus diterapkan di lahannya. Tapi kalau lahan di kanan kirinya tetap menggunakan racun sintetik, ia merasa percuma. Mas Wid pun menyadari bahwa selama ini ia keras menolak kapitalis tambang, tapi merasa masih bergantung pada kapitalis pertanian. Aku rasa hal ini juga masih banyak dirasakan petani-petani di tempat lain.
Aku dan Mas Wid juga pernah berada dalam satu diskusi daring yang diadakan oleh Yayasan Desantara bertajuk "Kelompok Tani", dimana aku sebagai petugas pertanian dan Mas Wid sebagai petani. Ia berbicara soal kelompok tani yang ada saat ini kebanyakan dibentuk hanya untuk membuat proposal supaya mendapatkan bantuan pemerintah, dan PPLP-KP bukanlah kelompok tani bentukan pemerintah. Mereka terbentuk karena ada rasa senasib seperjuangan melawan perampasan ruang hidup, yakni menolak tambang pasir besi. Di situ Mas Wid sangat membuka wawasanku tentang kebanyakan kelompok tani yang teregistrasi, faktanya memang seperti yang ia katakan. Mas Wid memang selalu bicara soal kenyataan.
Bagiku, Mas Wid adalah sosok yang otentik, tulus, dan berhati lembut. Aku melihat bagaimana Mas Wid sangat sayang kepada Mbak Tri dan Zapata, putri kecilnya. Suatu ketika, ia pernah memamerkan padaku rasa senangnya mendapatkan gambar dari Zapata yang dibuat untuknya. Ia merasa terharu dan berkata “menungso ki kadang yo iso dadi melankolis” (manusia itu terkadang juga bisa menjadi melankolis). Ia seorang suami dan Bapak yang baik; ia sangat dicintai keluarganya.
Mbak Tri sering cerita tentang Mas Wid, jatuh bangun 18 tahun hidup bersama belahan jiwanya itu. Betapa berat ketika ia harus ikhlas ditinggalkan suaminya, ketika mereka sedang bahagia-bahagianya melihat perkembangan Pata, nama akrab putri mereka. Mbak Tri sering memovitasi "Saling mendoakan ya Mbak, kita perempuan kuat. Aku juga rasanya berat nggak ada Mas Wid, tapi harus semangat buat Pata". Selama ini kalau ke Garongan, yang mengajak kumpul-kumpul itu Mas Wid. Terakhir kali, aku dan kawan-kawan diundang makan besar rica-rica enthog (menu masakan andalan), Mas Wid senang kalau para tekyan ini kenyang. Sekarang, Mbak Tri yang meminta aku dan kawan-kawan untuk tetap main-main ke sana, menyambung silaturahmi.
Lain lagi bagaimana Mas Wid di pergerakan. Ia dikenal sebagai seorang pejuang lingkungan yang punya pendirian teguh dan komitmen melawan ketidakadilan terhadap rakyat tertindas. Ia bersama PPLP-KP tegas dan keras menolak tambang dan segala bentuk perampasan ruang hidup. Aku merasa setiap geraknya menularkan hal itu kepada siapapun. Meskipun aku tidak pernah merasa ikut berjuang bersamanya di lapangan seperti yang ia torehkan dalam buku karyanya--tetapi aku tidak sekedar membaca kiprahnya--aku tahu bagaimana ia punya energi dan semangat besar untuk menyambangi warga yang sedang menghadapi konflik agraria. Ia datang memberikan dukungan dan juga penguatan, seperti kepada warga Jomboran, Wadas, Pakel, dan lainnya (mungkin kawan-kawan yang telah lama mengenal Mas Wid lebih banyak tahu).
Mas Wid adalah salah satu kawan yang menunjukkan padaku tentang bagaimana menjadi orang yang tak punya pamrih dalam perkawanan. Ia juga bukan orang yang membiarkan kawannya merasa sendiri dan kesusahan. Perkawanan tulus dan solidaritas, adalah kunci nafas panjang gerakan sosial di akar rumput. Barangkali itu konsistensi yang terus ia rawat sampai akhir masa hidupnya. Aku yakin setiap orang yang pernah bersinggungan langsung dengan Mas Wid, punya kesan tersendiri yang tidak akan dilupakan.
Seperti itulah memoriku mengenang sosok Mas Wid. Pertemuan yang terasa begitu singkat. Ketika aku merasa intens berinteraksi dan berkabar, justru itu adalah waktu-waktu menjelang kepergiannya. Terkadang kata-katanya padaku terdengar menyebalkan, tapi begitulah Mas Wid. Sosoknya akan selalu dirindukan banyak orang.
"Cah kok suwung. Arep dadi kuntilanak po kowe? Suwung terus. Dijogo awakmu, Chel. Urip ki keras je... Mboottt!" (maaf, ini sudah template Mas Wid, tidak bisa aku translate).
Terimakasih Mas Wid, semoga terang jalanmu ke langit.
Penyidik Polres Konawe Periksa Widodo Pemilik Akun Facebook Widodo Wido, Diduga Langgar UU ITE
Penyidik Polres Konawe Periksa Widodo Pemilik Akun Facebook Widodo Wido, Diduga Langgar UU ITE
KALOSARA NEWS : Penyidik Polres Konawe memeriksa Widodo, Pemilik Akun Facebook Widodo Wido di ruangan Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Reskrim Polres Konawe atas dugaan pelanggaran Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Nomor 11 Tahun 2018, Rabu (12/8/2020). (more…)
View On WordPress
Strategi Pemasaran Properti ditengah Pandemi Virus Corona
Strategi Pemasaran Properti ditengah Pandemi Virus Corona #coronavirus #viruscorona #covid19 #dirumahaja #opini #investasi #properti #beritaproperti #beritaterbaru #beritaterkini #propertiterkini
Oleh: WIDODO
PropertiTerkini.com, (JAKARTA) – Pada medio Desember 2019 di Wuhan, China digegerkan adanya wabah virus Corona atau Covid 19adalah jenis penyakit flu yang menyerang manusia. Saat ini telah menjadi pandemi global menjangkiti ratusan negara dengan jumlah korban positif mencapai ratusan ribu orang termasuk Indonesia. Virus Corona di Indonesia terdeteksi pada awal Maret 2020 pada suatu…
View On WordPress