Sumatera hari ini bukan hanya basah oleh banjir, ia basah oleh pengkhianatan yang sudah lama dibiarkan.
Air memang turun dari langit, tapi bencana itu lahir dari bumi yang dipaksa telanjang oleh manusia-manusia yang tamak.
Dulu, hutan-hutan Sumatera berdiri seperti para penjaga: menahan hujan, menyimpan air, memeluk tanah agar tidak runtuh.
Kini penjaga itu roboh satu per satu. Digunduli, dihabisi, dipereteli atas nama keuntungan yang tak pernah cukup.
Maka bukan salah langit ketika kota-kota tenggelam, bukan salah sungai ketika ia meluap mencari jalan.
Salahkan tangan-tangan yang menebang pohon tanpa memikirkan apapun yang tumbuh selain uang di kantong mereka.
Kini banjir datang seperti bisikan gelap:
‘Aku tidak lahir dari hujan. Aku lahir dari keserakahan kalian.’
Sumatera tidak sedang dihukum. Ia hanya sedang menunjukkan apa yang terjadi ketika hutan dijadikan korban.
Ya Allah, Lindungilah Sumatera dari bencana dan keserakahan. Kuatkan yang terdampak, sembuhkan yang terluka, dan jadikan hujan sebagai berkah, bukan musibah.
Amiin.
#deaksara













