Kisah-kisah di Balik Album Pak Wir
Yang fana waktu, Wiranto abadi.
Petikan plesetan dari puisi Sapardi Djoko Darmono mengenai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto itu muncul di demonstrasi mahasiswa yang digelar akhir September hingga awal Oktober 2019.
Wiranto dianggap bertanggung jawab atas segala masalah bangsa. Tujuh tuntutan, diantara masalah Papua, Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan kriminalisasi kepada sejumlah aktivis.
Wiranto telah gagal. Kemampuan Wiranto menangani dua konflik di negara ini jadi pertanyaan besar.
Gambaran kegagalan Wiranto juga dikaitkan dengan sosok dua perwira di belakangnya. Foto Wiranto saat menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab).
Wiranto selalu punya jawaban atas jejak masa lalunya. Reformasi beralih.
"Banyak yang nggak tahu kan, bahwa Pak SBY dulu pernah jadi anak buah saya. Pak Jokowi misalnya, waktu saya menjadi Menhankam/Pangab beliau wali kota pun belum, tapi sekarang setelah menjadi presiden," ucap dia.
Wiranto menambahi kalimat itu. "Walau saya lebih senior lebih tua tapi hormat, dia adalah presiden kita, kita loyal kepada panglima tertinggi di Republik Indonesia.
Sosok Wiranto kembali menjadi perbincangan karena ditusuk orang tak dikenal di Alun-Alun Menes, Pandeglang, Banten.
Oke kita beranjak terlebih dahulu dari kabar-kabar itu. Wiranto punya cerita lain.
Laiknya seorang tentara, yang gemar berkaraoke, kemampuan vokal Wiranto dimanfaatkan dengan baik. Dia menelurkan satu album. Untukmu Indonesia-ku.
Album itu diproduksi JK Record. Di laman resminya, JK Records menulis bahwa perusahaan rekaman ini telah mengalami alih kelola, dari Judhi Kristianto ke putra sulungnya Leonard 'Nyo' Kristianto pada 2012.
Perusahaan yang didirikan dengan modal nekat itu punya penyanyi pertamanya pada 1982 dengan Chintami Atmanegara sebagai andalannya. Selain Chintami, perusahaan rekaman ini turut mempopulerkan Dian Piesesha, Pance Pondaag, Meriam Bellina, Obbie Messakh, Heidy Diana, Ria Angelina, Lydia Natalia, Helen Sparingga, Richie Ricardo, dan Deddy Dores.
Pergeseran manajemen inilah yang membuat saya agak kesulitan melacak siapa orang yang terlibat dalam pembuatan album Wiranto, Untukmu Indonesia-ku.
"Rata-rata yang terlibat di album itu sudah tidak bekerja lagi di JK (records)," kata salah seorang staf JK Records, April 2019.
Staf itu lantas memberikan kepada saya kontak karyawan yang mengurusi distribusi dan penjualan cakram digital. Orang itu bernama Edi Yuli.
Saya tak bertanya perihal proses pembuatan album. Tapi, mengenai jumlah dan ketersediaan rilisan fisik album Wiranto.
"Saya di toko masih empat. Kalau di gudang belum cek lagi," kata Edi.
Peluncuran album Wiranto tercatat pada Minggu, 22 Oktober 2000. Liputan6.com memberi judul artikel peluncuran album Wiranto, Jenderal Wiranto Menjadi Artis.
Wiranto menyebut, peluncuran album ini bukan hanya cari popularitas dan mengisi waktu luang. Di titik ini, kita semua akan paham Wiranto merupakan musisi sejati, yang membiarkan suara emasnya muncul dalam satu album dan kemudian menghilang.
Album ini disebut sebagai upaya penggalangan dana untuk membantu pengungsi di beberapa tempat, misalnya, Aceh, Maluku, dan Timor Timur. Di malam peluncuran itu, dia berhasil menjual
7.000 keping compac disc. Bahkan, lelang CD emasnya berhasil mencapai angka Rp 1,5 miliar. Tapi, kata Wiranto, seluruh dana yang terkumpul itu akan diserahkan pada para pengungsi.
"Itu pun setelah dikurangi biaya produksi," ujar dia.
Album debut yang luar biasa!
Kerani Indonesia Boekoe, Muhidin M. Dahlan pernah menulis begini soal Wiranto:
Salah satu foto legendaris yang disumbang Pak Wiranto buat NKRI adalah ketika ia memberikan punggungnya menjadi ‘meja’ buat Soehartomenuliskan sebuah nota. Ya, ia adalah pelayan Sang Jenderal Besar yang loyal!
“Saya bukan sosok yang mengambil kesempatan kudeta walau kesempatan di tahun 1998 itu ada,” begitu beliau mengulang-ngulang pernyataan kala ditanyakan masa lalunya yang ‘mengharu-biru’ di tahun 1998 yang ribut.
Tapi, bagi generasi ini dengan segala hiruk pikuknya. Wiranto menyimpan sisi misterius. Lihat saja halaman depan album miliknya, Untukmu Indonesia-ku.
Tatapan wajahnya yang (seolah) polos tergambar di halaman album. Tak seperti banyak artis, desain yang dibuat `terburu-buru` menyisipkan empat bintang di sisi kiri atas.
Berdasarkan layanan musik digital Spotify ada 12 lagu yang dinyanyikan Wiranto.
Album dibuka dengan suara bass Wiranto di lagu Kau Selalu di Hatiku, Indonesia Sungguh Indah Permai, Kemuning, Sonata yang Indah, Juwita Malam, Melati di Tapal Batas, Tinggi Gunung Seribu Janji, Payung Fantasi, Melati Dari Jayagiri, Flamboyan, Mungkinkah, dan Symphoni yang Indah.
Wiranto punya suara yang tepat untuk lagu-lagu tersebut. Bergaya Bob Tutupoli, meski sering kali intonasi lidah Jawanya begitu kental.
Jika suatu waktu Pak Wiranto ingin comeback, saya menyarankan, album Wiranto yang kedua harus punya nilai, value, yang spesial. Gelombang musik indie bisa dimanfaatkan untuk mendobrak dominasi solois pria semacam, Pamungkas, Hindia, Sal Pribadi, atau Jason Ranti.
Saya punya beberapa rekomendasi musisi indie dan lagu yang bisa Wiranto nyanyikan. Salah satu yang mungkin Pak Wiranto bisa ajak berduet yaitu Danilla Riyadi.
Sejak album Wiranto menjadi perbincangan, saya membayangkan Wiranto berduet dengan Danilla Riyadi. Danila yang bergaya bad girls bertemu sosok santun layaknya `ayah`.
Keduanya silih berganti bertukar lirik di lagu Kalapuna.
Danilla: Resah kala kau jaga//Murka jika ku dengar//Letih tanpamu, arungi lautan rindu
Wiranto: Remang tiada tara//Namun sungguh terasa//Harum belaimu, seakan terus menunggu
Danilla dan Wiranto: Lepas jua jasadmu//Biar buyar asaku