Rumput hasil ngebabat kebon depan rumah yang udah ketakutan kalo kalo ada uler masuk rumah. Udah dicicil sampe DUA HARI BOOOSSHH, dua karung, kok ngggak kelar kelar ya book. Bada sampe rontok ngebabat kebon ini. Untungnya sekarang lagi doyan bikin kompos. Ada motivasi biar cepet kelar yoookk. #witandoeran #komposwitandoeran #composting https://www.instagram.com/p/COFJhoBliak/?igshid=jolflt9jebtb
Daun sirih-sirihan yang diperbanyak biar bisa jadi vertical garden. Si variegata dan kuning lemon ini emang juara. Pertumbuhannya yg super lambat, jadi nggak bikin peer buat mindah tanam cepet cepet. #epipremnumpinnatumvariegata #epipremnumpinnatum #witandoeran #farmingforhealing (at Witandoeran) https://www.instagram.com/p/CN6CQ5bF7j3/?igshid=sqbbnk15y2vl
Jadi ceritanya, kakak saya satu-satunya itu lamaran di daerah Banjarnegara. Emang nggak tau diri sih saya, acara keluarga kelar. Langsung tepe tepe liat kebon si calon kakak ipar yg buanyaaak bgt tanaman. Rasanya pengen tunjuk bawa pulang ini itu ini itu. Salah satunya tanaman ini. Si kecil mungil yg lupa namanya, udah lama pengen dipinang, tapi si ibuknya terlalu malas membeli. Sedang meminta teman juga rasanya tak mungkin. Yaaah semoga betah yaa book. Btw buk ibuk, kalau ada yg tau nama tanamannya, tlg saya dibisikin dong 🤣 #witandoeran #farmingforhealing #RealisasiSemampunya #yangpentingjadinya (at Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/CMI5MZsFIfr/?igshid=o2v88ly8e197
Kebun di atap rumah itu fungsinya rangkep-rangkep. Ya kebun, ya jemuran, ya tempat semedi kalau lagi sumpek kepala sama kerjaan dan hidup. Multi fungsi!
Lokasinya ada di atap rumah yang sebelumnya mau dijadiin kamar. Sengaja dikasih atap, karena pengalaman di awal tahun pasca renovasi selesai dan nggak ada atapnya, dak rumahnya lama-lama jamuran di bagian bawah.
Kalau di tanyain, mending ngebun di atap rumah atau di tanah. So pasti, so bersih, pengen banget ngebon di tanah langsung! Lebih luwes, hemat dan perkembangan tanamannya paripurna mandiri. Walaupun udah seoptimal mungkin menyediakan media tanam yang luas untuk tipe tanaman-tanaman yang akan tumbuh besar, tetap saja, pertumbuhannya terbatas.
Tapi yah hidup yaaak buuk, sawang sinawang. Syukuri saja yang ada. Sayangi dan dirawat. Percayalah si anak ijo sudah berupaya seoptimal mungkin untuk berbakti pada kita setiap pertumbuhannya.
Weekend kemarin, saya ikut teman saya yang ada proyek survey kelompok tani tanaman nilam di Desa Kare, Madiun. Lokasinya cukup jauh dari hiruk pikuk dan panasnya suasana Kota Madiun.
Nah pas udah nyampai di sana, buanyaaak banget tanaman-tanaman yang biasa diliat di mamak mamak penjual tanaman hias. Tapi tumbuh subur dan bahagia banget disana. Untungnya, saya tidak cukup kalap dengan berbagai rupa-rupa tanaman hias yaa bukk. Cuma sekedar punya dan pengen beberapa jenis.
Jadi mikir, gimana bisa, tanaman yg tumbuh di hutan aja bisa cuma-cuma, tapi bisa mahal gilak kalau udah ada campur tangan manusia. Oh em di jeee, sebegitu kapitalismenya kah kita sebagai manusia? Atau memang itulah prinsip bisnis, dimana supply dan demand, yaa biarkan nilai ekonomis berlaku.
Cara Mengatasi Tanaman Lidah Buaya yang Udah Mulai Mati | by Witandoeran
Di Jogja, beberapa hari ini hujan turun terus setiap hari. Intensitasnya bisa seharian full atau cuma setengah hari tapi full badai.
Kondisi kayak gini, bikin tanaman yang jenisnya sukulen jadi gampang banget busuk. Biasanya awalnya akan berubah jadi gelap, coklat, yang ujung-ujungnya busuk.
Kalau udah kayak gini, kita sebagai ibuk, harus gercep dan tangkas melihat situasi kondisi si anak.
Buruan ambil tanaman dan pindah ke tempat yang lebih kering. Kalau media tanam yang digunakan terlalu lembab, ganti pake media tanam yg lebih kering. Sebelum si tanaman pelan-pelan die.
Biasanya, kalau penanganannya tepat, si lidah buaya ini nanti akan pelan-pelan beradaptasi kok. Ditandai dengan ujung akarnya nanti lama-lama menghijau kembali, sampai nanti ujungnya juga menghijau.
Based on experience aja sih Buk. Insya Allah manjur, selamat mencoba !
Suplir temuan yang bertengger syantiq banget di vertical garden. Pas mau motret ini, duh kok unyu banget sih ini pohon. Gratisan aja cantik. Kan sukaaa yaaa. Emang berkebon itu menuntut pede dan kreatif. Nggak harus miskin buat berkebon. Cukup memaksimalin apa yang ada di sekitar rumah. Kalo bisa gratis, nggak usah beli. Kalo bisa barter nggak usah beli. Kalo bisa minta nggak usah beli.
Beli itu udah jalan mentok dalam berkebun. Udah puingin banget dan cuma bisa kalau beli. Yaudah monggo.
Inget ya buk, kalau bisa, di jaman pandemi, jaman serba susah gini. Bijak dalam berpijak. Bijak dalam membelanjakan setiap rupiah yang kita punya.
Nah kalau kapan hari tentang biji telang yang udah bombastis hasil panennya ya. Hari ini saya mau metik si biji kemangi. Di rumah ini pohon kemangi juga buanyak banget. Saking banyaknya, si biji kering ini sering banget terbang ketiup angin. Jadi banyak banget pohon kemangi yang tiba-tiba muncul di sela-sela tanaman lainnya
Dibandingin jenis tanaman herbs lainnya. Pasukan daun basil-basilan ini termasuk yang guampang banget ditanam dan pasti tumbuhnya. Perawatannya juga nggak rempong dan pasti panennya.
Kalau mau irit lagi, pilih satu pohon tanaman yang dibiarkan tua hingga keluar bijinya. Nah si biji ini bisa ditanam lagi, biar nggak usah beli biji lagi. Dibandingkan kemangi, saya sebenernya lebih suka sama sweet basil. Rasanya lebih kalem, enak banget kalau dijadikan salad.
Oh yaa buk ibuuk, ini biji bisa awet tahan lama juga. Asalkan di taroh di tempat yang kering, tidak lembab dan tidak terpapar cahaya matahari langsung.