Leyeh-leyeh selepas dzuhur adalah sebuah kenikmatan, bersama beberapa teman yang singgah di kamar kosan. Sebenarnya kami menunggu dosen berikutnya yang hendak mengisi mata kuliah jauh dari jam mata kuliah pagi. Karena tidak mungkin terlelap dalam kebersamaan maka topik obrolan random yang dipilih adalah tentang seseorang, astaghfirullah abis shalat malah ghibah!
“Kamu tahu gak pacarnya anak kelas sebelah itu? Yang kemarin kejar-kejaran di koridor lantai dua?” tanya si teman perempuan.
“Si cupu,” jawab si teman laki.
“Ih parah, dia player gitu kamu bilang cupu? Mantannya aja bejibun dari semester satu, bahkan katanya sambil pacaran dengan yang satu dia pacaran sama yang lain. Itu namanya berengsek kali bukan cupu,” protes si teman perempuan.
“Kamu gak tahu aja dia di SMP kayak apa, cupunya udah akut banget tahu gak. Pas SMA dia banyak berubah, udah kayak dapat warisan mendadak dia make over penampilannya. Tapi sih buatku dia cupu aja tetep. Dia tuh dikucilkan, dibully, meski cupu begitu dia emang gak pinter juga. Aku aneh aja kok sekarang berubahnya jadi berengsek, kayak bales dendam gitu sama dirinya di masa lalu,” si teman laki berkomentar sambil tidak lepas pandangannya dari game yang dia mainkan di handphone.
Aku menyimak. Aku tahu siapa yang mereka bicarakan meskipun tidak terlalu kenal. Jadi, seminggu ini ada pasangan yang lagi menjadi buah bibir di kampus kami. Seminggu yang lalu tampak drama kejar-kejaran ala sinetron di koridor lantai dua. Yang laki mengejar sambil menarik lengan perempuannya sesekali, yang perempuan marah dan menapik genggaman tangannya kemudian berteriak kencang sekali yang berlanjut perang mulut di depan khalayak. Sungguh bukan tontonan yang pantas, tapi ya seru aja sih orang yang lihat mah apalagi nontonnya ramean sambil nyemilin cilor.
Kebetulan si laki itu teman sekolahnya temanku yang laki dan temanku yang perempuan si ratu gosip yang tahu aja gosip seputaran anak-anak kampus yang lagi hits. Sementara aku adalah kawannya mereka berdua yang lebih sering menyimak kayak nonton talkshow secara live kalau mereka lagi bahas sebuah perbincangan hangat.
“Kalau dihitung-hitung ya dalam dua tahun itu mantannya aja udah 28 orang,” kata si teman perempuan.
“Dua bulan sekali dia ganti pacar?” celetukku.
“Mending itu mah. Lah ini kadang dalam satu waktu aja dia macarin dua atau tiga cewek,” jawabnya lagi.
“Dulu mah boro-boro lah, dia dapet satu pacar aja kayaknya mustahil. Cupu abis bener cupu dah,” kata si teman laki.
“Yang aku tahu nih karena kemarin sampai ada drama di koridor itu karena ceweknya hamil mau lapor ke orang tuanya si cowok minta nikah, gak cuma itu, dia juga marah karena nemu chat yang katanya ada cewek lain minta dia tanggung jawab dan ceweknya ngancam bunuh diri.”
Aku kaget, separah itu konflik yang orang ini alami?
“Dasar ulaaaarr! Ingin rasanya berkata kasar,” si teman perempuan emosi sambil remes-remes bantalku.
“Makanya kalian nih ya cewek-cewek jangan ketipu cowok yang kelihatannya baik tapi ada maunya,” si teman laki mulai berceramah.
“Kamu masuknya cowok mana? Cupu apa berengsek?” tanyaku.
“Cowok sholeh.”
Aku dan si teman perempuan saling pandang kemudian membisu.
“Kenapa jadi sepi, gak percaya?” si teman laki memandang kami berdua.
Dia memperbaiki posisi tubuhnya, duduk bersila dan menyimpan handphonenya.
“Gini ya, aku gak mau buka-buka aib orang dengan ceritain betapa cupunya dia ke kalian buat jadi konsumsi gosip. Buat aku buka aib orang itu really really cupu, aku kan juga berlumur dosa. Dan juga aku gak mau cerita betapa aku gak pernah "ngapa-ngapain” waktu dulu sama mantanku, pasti dibilang bohong. Katanya cowok tuh kalau gak berengsek ya homo, bikin gatel telinga banget dengarnya. Kemudian dengan bangganya cewek malah mau-maunya aja lebih pilih cowok berengsek. Makanya kalian yang pilih cowok begitu banyakannya drama mulu kan dan dikibulin abis. Apa kalian gak mau punya cowok baik-baik yang lebih pantes buat kalian? Kalian juga sih kadang yang rela diberengsekin. Terlepas dari itu cowok emang berengsek beneran apa ulah kalian yang bikin dia berengsek. Tapi komen aku buat hot topic di kampus kita sekarang ini sih bisa dibilang aku setuju kalau cowoknya emang berengsek meski cupu.“
Panjang lebar si teman laki bertausiyah, dan masih ada lagi kalimat terakhir yang bikin kami semakin tertohok.
"Buat aku cowok paling berengsek itu adalah cowok yang gak malu sama Tuhan, kok bisa-bisanya jadi hamba berengsek amat seenak jidat buat dosa. Nyakitin cewek, gak bisa menjaga kehormatan, ingkar, dan playing victims semisal ngomongin kejelekan mantannya setelah putus, apa-apaan banget coba? Ini berlaku juga buat cewek, kaum kalian juga sama aja. Cowok baik-baik tuh yang menjaga bukan merusak cewek yang disayanginya, cowok sholeh tuh.”
“Kamu kesambet apa dah?” tanya si teman perempuan sambil cengo melihat si teman laki.
“KAMU TUH! CARI COWOK BAIK-BAIK AJA YA JANGAN YANG BEGITU,” jawab si teman cowok; ngegas bro.
“Tapi gak kamu juga sih.”
“SIAPA YANG SURUH SAMA AKU SIH? YAKALI! AKU KAN CUMA BILANG.”
“Jadi dulu dia secupu apa?” tanyaku yang malah penasaran sama komentar menggantungnya si teman laki.
“UDAH DIBILANG AKU GAK MAU BUKA AIB ORANG, YAELAH! KALAU GITU AKU SAMA BERENGSEKNYA JUGA DONG.”
Ghibah siang itu berakhir karena mata kuliah sore akan segera dimulai. Kami kembali menuju kampus dengan pemandangan kedua temanku masih berdebat tentang cowok berengsek sepanjang perjalanan.
.
*Disini versi flash fiction-nya lebih detail dibandingkan dengan yang di Instagram karena keterbatasan karakter caption