Flashfiction: Titian Kasih
Pemandangan berwarna putih menyelimuti ruangan khusus yang hanya diisi oleh beberapa orang. Bunyi elektrokardiografi samar-samar terdengar, beberapa selang dan kabel terlihat melilit salah satu pasien di ruang ICU tersebut. Suara tangisan seorang perempuan pecah, turut membuat pilu hati orang-orang yang berada di sekitar ruangan.
"Kenapa Allah menguji kita dengan ujian seperti ini mas?, aku gak sanggup. Apa salahku Ya Allah", perempuan itu menangis dalam dekapan seorang laki-laki.
"Istighfar dek. Nggak boleh ngomong seperti itu. Allah selalu memberi ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Yang sabar, yang ikhlas", Dwiki mengelus kepala perempuan yang berada dalam pelukannya.
"Sabar itu seperti apa mas?, ikhlas itu yang seperti apa?, apa yang Allah mau?. Tian gak paham arti sabar dan ikhlas, Tian maunya Kasih sembuh mas", tangisannya kini semakin menjadi, beberapa kali suara sesegukan lolos dari mulutnya. Sudah dua minggu Kasih, putrinya yang baru berumur empat tahun dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ada pembekuan darah di otaknya dan sudah tiga hari ini putri kecilnya menutup mata, Kasih dinyatakan koma.
Malam beranjak. Tian jatuh tertidur, ia bermimpi. Dalam mimpinya Tian bertemu Kasih. Kasih menggunakan gamis berwarna putih dan berkerudung, cantik sekali. Kasih berada dipangkuan Tian. "Mama sayang sama Kasih?", pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Kasih. "Iya sayang, tentu saja mama sayang sama Kasih. Kasih anak mama satu-satunya", Tian memandangi wajah polos Kasih, tangan Tian membelai pipi putrinya.
"Mama sayang sama Allah?", pertanyaan Kasih membuat Tian mengerutkan kening. "Iya sayang, tentu saja mama sayang Allah", pandangan mata Tian tidak lepas dari bola mata Kasih. Kasih tersenyum, "Kasih juga sayang mama dan papa. Kasih juga sayang Allah. Kasih punyanya Allah", kemudian Kasih memeluk erat Tian, ada perasaan yang tidak terdefinisi menjalar perlahan ke dalam hati Tian, dia terbangun. Matanya telah bengkak dan pandangannya kembali kabur karena air mata.
Tampaknya malam masih belum mau beranjak, jarum jam di dinding baru saja menunjukkan pukul satu dini hari. Tian berjalan menjauh dari tempat peristirahatan, masjid rumah sakit menjadi tempat tujuannya. Diambilnya air untuk berwudhu dan dipakainya mukena berbahan rayon yang tersedia di masjid, ada yang harus Tian bicarakan dengan Tuhannya.
Tian berdiri dan mengangkat kedua tangannya, mengucapkan takbir. Ayat demi ayat diucapkannya dalam hati, diresapi maknanya dalam-dalam. Baru saja doa iftitah dilafalkannya, bulir air mata Tian telah lolos kembali. Segala rasa bercampur menjadi satu. Ada takut, sedih, malu, marah, dan rasa tidak berdaya yang memenuhi jiwanya.
Sungguh, Tian diliputi rasa malu yang teramat sangat. Dia kira cukup sabar dan ikhlas, namun ternyata ia masih saja mempertanyakan mengapa harus Kasih yang menjadi sumber ujian ini, Kasih, putri kesayangannya. Sungguh, Tian diliputi rasa malu yang teramat sangat menyadari imannya tak cukup kuat, hatinya tak cukup luas dan sabar, padahal di dalam hatinya Tian tahu bahwa Tuhan akan menguji sesuai kemampuan hamba-Nya. Malam ini, Tian larut dalam sholatnya, dia tetap berharap Kasih akan bangun dan sembuh, namun jika Tuhan berkehendak lain, dia akan menerimanya, dengan lapang dada.
Dokter dan beberapa perawat jaga masuk ke dalam ruang ICU. Bilik yang awalnya sepi itu kini terlihat lebih ramai, Tian yang sedang berjalan selepas dari masjid dihinggapi rasa takut melihat orang-orang berpakain putih masuk ke dalam ruang, tempat anaknya dirawat.
"Mas ada apa?", tanya Tian kepada Dwiki. Wajah Tian pias, tangannya dingin dan gemetaran.
Tatapan Dwiki memancarkan harapan, senyum kecil terbit di bibirnya, "Kasih, putri kita sudah sadar dek".
Hari itu, menjelang fajar, sepasang manusia telah menjadi saksi kebesaran Tuhan. Sungguh, janji itu pasti, Tuhan tidak akan menguji diluar batas kemampuan hamba-Nya. Tidakkah kita masih ragu akan takdir-Nya?
------------------------------------------------------------------------
Emang agak alay dari biasanya, sorry 😢 tapi gue nulisnya sampe kebawa emosi 😭😭😭
Sekali kali nulis yang agak sediihsedih gak papakan 😂