Flashfiction: Secret Revealed
Hidup memang keras. Ketika duduk di kelas dua SMP, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan, meninggalkan aku dan kakakku dalam kesengsaraan. Tidak ada kerabat yang mau merawat kami. Jarak umurku dan kakakku terpaut lima tahun, dan setahun setelah kecelakaan itu kakakku memutuskan berhenti kuliah untuk bekerja demi membiayai kehidupan kami.
Setiap kali aku menanyakan apa pekerjaan kakakku, dia akan menjawab bahwa pekerjaannya sangat mudah, dia hanya harus bersikap ramah, tersenyum dan menunjukkan wajah tampannya maka uang akan ia dapatkan. Ya, kuakui kakakku sangat tampan, dia juga bertubuh atletis, jadi aku menebak kalau dia seorang model, meski tidak pernah kutemui wajahnya terpampang di majalah atau surat kabar.
Kakak membiayai hidupku. Dia menyekolahkanku di sekolah terbaik, memasukkanku ke berbagai tempat les, membelikanku barang-barang yang terlihat mahal hingga aku tidak pernah merasa kekurangan secara materi. Kata kakak, aku harus bersekolah, karenanya aku belajar dengan rajin demi untuk membuat kakakku senang.
Semua usahaku membuahkan hasil, aku selalu mendapatkan juara pertama di sekolahku dan kini aku diterima dijurusan kedokteran pada salah satu universitas terbaik di negeri ini. Namun kegelisahanku muncul ketika mengetahui bahwa biaya masuk jurusan kedokteran tidaklah murah, dan betapa terkejutnya aku ketika kakak melunasi semua biaya tersebut pada hari pertama pendaftaran. Rasa ingin tahuku buncah, sebenarnya apa pekerjaan kakak hingga ia mudah sekali mendapatkan uang.
Malam ini selepas maghrib aku diam-diam mengikuti kakak ke tempat kerjanya. Ya, jam kerja kakak tidak menentu, tapi malam hingga pagi adalah waktu yang paling sering kakak gunakan untuk bekerja. Cukup jauh aku mengikutinya, hingga kakak berhenti di depan... what?, wait?
Sebuah club malam.
Tidak. Tidak. Tidak. Ini pasti tidak benar. Mungkin mobil kakak hanya kebetulan mogok di depan sebuah club malam. Belum hilang keterkejutanku, seorang wanita berpakaian glamor dan minim bahan keluar dari club kemudian mendekat ke arah kakak dan wanita itu... demi neptunus!
Wanita itu mencium kakakku.
Bukan hanya itu yang membuat hatiku terguncang, wanita yang kini merangkul mesra kakakku tidak lagi terlihat muda, dia wanita berusia hampir setengah abad.
God, what's going on?
Kakak dan wanita itu berjalan memasuki mobil. Aku berlari cepat ke arah mereka, air mataku mulai berjatuhan. Mesin mobil kakak berbunyi dan mobil mulai berjalan pelan. "Kakaaaaaak!" teriakku sebelum mobil itu berjalan cepat. Kakak sempat melihatku, wajahnya pucat karena terkejut, namun dia tetap mengendarai mobilnya menjauh, meninggalkanku sendirian.
Bertahun-tahun aku bertanya-tanya apa sebenarnya pekerjaan kakakku. Malam ini segalanya terbongkar, kakakku menjadi "teman" seorang wanita tua yang kaya. Ironis sekali.







