Satu sudut pandang
Kurang dan lebihnya percakapan diam ini hanyalah keingintahuan belaka. Mengapa kau beri ucapan selamat tinggal sebelum sempat mengucap sapa? Kau harus tahu, aku tidak pernah setidak-berdayanya begini merayakan rindu. Mungkin demikian, ucapan para mantan gebetanku setelah aku menentukan pilihan untuk menetap. Entah sindiran entah perasaan yang menguap menjadi kata-kata seperti yang mereka buat sebagai story.
Dulu, di tengah riuh-lantang suara anak-anak meminta uang lebaran kesendirianku mengaku aku. Dia meminta ruangan hati menjadi lebih lapang sebelum membuka pintu. Katanya, agar beberapa tamu yang datang juga menetap salah satunya dan ternyata itu kamu; sosok yang dulu pernah kubanggakan dan sampai detik ini masih kucintai meski aku sudah berpindah-pindah tempat tinggal.
Dulu sekali, aku berpikir bahwa siapa pun jodohku, yang belum atau sudah kukenal, yang aku tahu atau tidak tahu selalu kudoakan untuk terus berbahagia dalam tualangnya, aku juga. Sebab dua kali pacaran dengan menggunakan perasaan utuh malah membuat tubuhku jatuh. Darinya aku belajar lagi, lalu dua kali menggunakan perasaan utuh tanpa berstatus pacaran juga membuatku semakin rapuh. Kedua kalinya aku belajar bagaimana harus menyikapi hal tersebut.
Sampai pada akhirnya aku kembali pulang menuju orang pertama di mana ia benar-benar menjadi tolok ukur untuk berubah. Wilda, ialah perempuan yang kumaksud. Sebenarnya tidak ada niat untuk kembali padanya sebab dulu ia pernah menyakitiku. Tetapi entah mengapa, aku masih tetap saja mencintainya hingga aku bertemu ketiga orang setelahnya. Bagaimanapun keadaannya, cintaku tetap saja sama meski ia berubah begitu drastis.
Beberapa perjalanan hingga aku bisa kembali kepadanya sudah membuatku lelah. Lebih baik aku tidak bersama orang baru sebab aku tidak mau mereka tahu masa silam paling buruk dariku. Kukira Wilda sudah cukup paham siapa aku. Toh mengapa aku tidak dengan orang atau dengan orang-orang yang kuanggap aku menyimpan rasa sebab mereka sendiri yang membuat aku merasa sia-sia. Wilda datang dengan segala kekurangannya juga kembali pulang meski dengan rasa bersalah berlebih. Katanya, ia ingin memperbaiki dan kujawab aku ingin mempertahankan apa yang dulu tidak bisa kupertahankan.
Untuk kalian, yang sudah telanjur memberi, jangan khawatir. Terima kasih sudah mau peduli pada seseorang yang bernasib sial sepertiku. Namun apalah daya, aku tidak bisa menuju kalian dengan beberapa alasan tertentu. Cukup. Aku bukan orang baik dan kalian harus bisa menemukan orang yang lebih baik dari aku. Cukup. Untuk orang-orang yang berhasil menyia-nyiakanku jangan kalian lakukan lagi pada lelaki lain. Cukup aku.
Terima kasih kalian sudah menaruh hati. Maaf aku hanya sekadar singgah. Kalian harus belajar bahwa semesta ini sangat lucu. Sudahi kekecewaan kalian sebab bahagiamu tergantung dengan apa yang kalian bangun. Tidak ada yang salah dengan memberi apalagi sekalian menaruh hati. Selalu ada pelajaran di dalamnya yang mampu membuat kalian semakin dewasa.
@karenapuisiituindah @hujanmimpi @aksarannyta







