Pergi dari bilur
“Kita pisah.” Ucapku kepada diri sendiri dengan tersenyum. Bentuk lain dari berbesar hati itu saya melepas apa saja waktu bersama kalian; detik yang salah alamat; menit yang kurang tepat; jam-jam di mana saya mengutuk diri sendiri setelah ditinggal pergi. Purna sudah janji saya setelah kalian abai terhadap apa yang telah saya bangun. Biarlah ia kembali tidur hingga menemukan seseorang yang mampu menghargai usaha saya. Selain itu, jika dirasa untukmu kembali ialah cara yang pas untuk mengobati. Urungkan saja niatmu itu, sebab perahu saya sudah jauh berlayar. Ia ingin berlabuh di dermaga yang dapat menerima saya dengan bijak.
Letakkan kekagumanku di dadanya, saya hanya seseorang yang sedang getol mengupayakan proses. Selain itu hanyalah omong kosong sebab sekarang saya tidak memiliki apa-apa yang pantas dibanggakan. Sudahi kesedihan saya, kukira kau tidak akan ada ruginya ditinggal saya. Masih banyak orang-orang yang telanjur mendekatimu dengan sungguh. Saya hanya akan membersamai seseorang yang dengan senang hati menjalani hidup yang biasa-biasa saja dengan saya.
Jangan paksakan saya untuk kembali. Saya sudah muak atas segala sisa pertengkaran yang tidak akan pernah ada ujungnya. Hanya akan menjadi angka delapan yang berputar-putar atau angka nol yang jalanya hanya itu-itu saja. Akan lebih baik jika kita seperti ini, “Kita pisah.” Tidak ada kalimat lain yang lebih meneduhnya selain itu. Kalaupun ada, hanyalah bualmu agar aku selalu ada untukmu. Sebaliknya, kau nadir yang tiba-tiba semenjana. Tidak ada lagi kuali yang isinya renjana. Tidak ada lagi mayapada yang isinya semesta kita. Jika kita terus melakukan perjalanan bersama hanya akan membuat asa menjadi salah kata; sia-sia.
@karenapuisiituindah @hujanmimpi @aksarannyta








