Tulisan, Tak Sekedar Bahasa Perasaan
Assalamu’alaikum, teman-teman! Nampaknya ini tulisan pertama saya setelah menyelesaikan serial Ramadhan bertajuk Heal Yourself bulan lalu. Tulisan ini (dan beberapa tulisan ke depan) insyaAllah akan menjadi pengikat kenangan dan ingatan yang terpintal selama kegiatan Workshop Writerpreneur Accelerate (WWA) yang dipersembahkan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang saya ikuti di Bogor pada tanggal 26-29 Juni 2019 lalu. Seperti apa keseruan kegiatannya? Stay tune, ya!
Jadi, sekitar 2 minggu sebelum acara ini berlangsung, saya pernah iseng berdoa di dalam hati, “Ya Allah, capek banget habis ujian. Setelah selesai aku pengen liburan. Tapi aku enggak mau liburan geje yang cuma pergi-pergi doang. Pengennya yang berfaedah. Enggak harus jauh apalagi sampai ke LN, deket juga enggak apa-apa.” Seperti biasanya, saya kemudian lupa dengan doa itu; mungkin karena saya tidak mengingat-ingatnya lagi. Sampai kemudian, saya melihat informasi menarik di Instastory seorang editor, tentang seleksi penulis untuk mengikuti WWA ini.
Tanpa berpikir panjang dan hanya bermodal niat untuk mentoring pada para penulis senior untuk menambah kapasitas berkarya, saya pun kemudian mensubmit data-data registrasi untuk WWA dan segera mengkonfirmasi kepada panitia bahwa saya sudah mendaftar. Tidak sulit, hanya diminta untuk memiliki akun Bisma dan mengisi kelengkapan data sederhana, termasuk di dalamnya berisi tentang buku apa saja yang sudah ditulis dan akun sosial media tempat menulis sebagai bukti track record kepenulisan selama ini. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk melakukannya. Setelahnya, nothing to lose! Kalau lolos ya syukur, kalau enggak berarti saya akan mencari ide lain untuk tetap melakukan relaksasi selepas ujian dan urusan-urusan akademis lainnya.
Lima hari sebelum WWA dimulai, saya menerima pengumuman dari panitia bahwa ternyata saya lolos seleksi. Alhamdulillah. Tabarakallah. Jika ditanya apa yang membuat saya lolos, sejujurnya saya tidak tahu pasti. Sampai hari ini pun hal itu nampaknya masih misteri. Hanya saja, yang saya dengar dari salah satu mentor di WWA, penilaian utamanya adalah pada militansi alias daya juang dalam menulis dan berkarya. Tapi, soal militansi yang seperti apa dan apa yang menjadi indikator penilaiannya, saya benar-benar tidak tahu. Satu hal penting, jika kamu ingin mengikuti seleksi WWA selanjutnya (yang saya pun belum tahu kapan akan diadakan), seriuslah menulis dan berupaya berkarya dari sekarang. Sebenarnya ini bukan hanya untuk WWA; lebih jauh dari itu, ini juga untuk melatih profesionalitasmu dalam berkarya.
Empat hari bersama 50 orang teman baru dari berbagai kota di Indonesia adalah pengalaman yang menarik. Jika biasanya saya hanya lebih banyak dekat dan mengenal teman-teman yang menulis non-fiksi seperti saya, acara ini membuat saya menjalin networking dengan teman-teman yang menulis genre lain. Diantara mereka ada yang menulis novel Islami, skenario film dan FTV, buku anak, cerpen remaja, novel fiksi, media massa, dan masih banyak lagi. Saya jadi percaya kalau sebenarnya Indonesia ini tidak kekurangan penulis produktif.
Di Bogor sebagai kota ke-11 yang menyelenggarakan WWA ini, kami dimentori oleh Kirana Kejora, Khrisna Pabichara, Jia Effendie, Pidi Baiq, dan juga Agustinus Wibowo. Mereka bukan hanya piawai dalam menulis tapi juga kaya akan pengalaman selama belasan tahun ada di dunia kepenulisan. Banyak hal yang saya pelajari dari mereka di WWA ini (yang insyaAllah akan lebih detail saya sampaikan di tulisan-tulisan selanjutnya). Satu hal yang paling berkesan adalah sebuah insight bahwa menulis tak hanya sekedar membahasakan perasaan sebab tulisan juga bukanlah sekedar bahasa perasaan.

















