Selama ini, mungkin kita mengira bahwa menulis hanyalah berbicara tentang teknis membuat sebuat tulisan atau menjalin sebuah cerita. Dalam kelas-kelas kepenulisan, terutama bagi pemula, kebanyakan memang berbicara tentang teknis, seperti misalnya tentang bagaimana menemukan ide, mengolah ide menjadi tulisan, menuliskan lembar pertama, dan seterusnya. Jarang sekali yang membahas tentang attitude atau sikap diri seorang penulis itu sendiri yang harus dibentuk dan dipupuk sejak lama. Dari pengalaman yang saya miliki, hal-hal seperti ini memang tidak pernah saya pelajari dari kelas menulis, melainkan dari pengalaman di sepanjang proses berkarya.
Berbicara tentang menulis memang sangat bertalian dengan membicarakan prosesnya, dan di sepanjang proses itulah attitude yang baik dan positif dibutuhkan. Mustahil sebuah tulisan dan mahakarya ada tanpa ada proses di baliknya. Jungkir baliknya seorang penulis dalam mencari ide atau menyelesaikan naskah, babak belurnya naskah jadi yang ternyata direvisi, lelahnya hari-hari karena mengurus hal-hal teknis, semua itu ada di dalam proses yang sayangnya tak nyaring diceritakan. Meski demikian, hal ini adalah jantungnya karya.
Salah satu yang terpenting dari attitude seorang penulis adalah militansi. Apakah itu?
mi.li.tan.si | n ketangguhan dalam berjuang (menghadapi kesulitan, berperang, dan sebagainya) – KBBI V
Tak akan hadir sebuah karya tulis jika si penulis tak punya militansi sebagai attitude maha penting dalam dunia kepenulisan ini. Tanpa militansi, naskah-naskah hanya akan selesai setengah jalan tanpa benar-benar sampai pada garis akhirnya. Tanpa militansi, revisi sedikit dari editor atau reviewer jadi masalah besar karena merasa tidak mau disalahkan atau ingin selalu benar dan tidak ingin berlelah-lelah memperbaiki. Tanpa militansi, tidak ada konsistensi dalam berkarya, sehingga yang ada hanyalah semangat yang membuncah di awal tapi padam seiring waktu tanpa menghasilkan apapun yang menjadi pencapaian. Tanpa militansi … bisakah kamu menyebutkan apa lagi yang menjadi dampaknya?
“Hal yang terpenting dari seorang penulis adalah militansi, bukan sekedar punya buku.”
Begitulah pesan salah satu mentorku, kak Kirana Kejora, dalam diskusi kami tentang menulis dan berkarya. Lebih lanjut lagi, kak Kirana berpesan agar kita tidak menjadi penulis yang manja, meskipun harus memanjakan pembacanya. Beliau bilang,
“Setelah semangatmu terbakar, kamu mau semangat itu terbakar menjadi abu atau terus menyala?” – Kirana Kejora
Hmm, kalau dipikir-pikir, saya sangat sepakat dengan nasehat ini! Kalau mental kita manja, kita tentu akan mudah menyerah dalam proses berjuang menghasilkan karya. Kalau kita sedikit-sedikit mengeluh, tulisan yang direncanakan agar penuh inspirasi sekali pun mungkin tidak akan sampai pada pembacanya, bukan? #ntms
Masih menurut kak Kirana, militansi ini juga mengikat attitude lainnya untuk juga kita bentuk agar menjadi bagian dari sikap diri kita dalam berkarya, yaitu rendah hati, membumi, bersahabat, sinau seminau menebarkan kebaikan, rajin silaturahmi, rajin berkomunikasi, rajin menjalin networking, tidak pelit ilmu dan juga terbuka. Waaah, banyak sekali ternyata yang menjadi PR diri!
Mendengar nasehat-nasehat ini dan digembleng oleh kak Kirana selama 4 hari soal attitude dalam berkarya membuat saya banyak berkontemplasi. Duh, ternyata militansi saya masih sangat perlu ditingkatkan lagi~ Baik, selamat membangun attitude terbaik, teman-teman! Selepas itu, percayalah, setiap karya akan menemukan takdirnya sendiri-sendiri.
"Do not be too hard on yourself. There are plenty of people willing to do that for you. Love yourself & be proud of everything that you do. Even mistakes means you are trying." ♡ Yes, indeed! ♡ Powerful And inspiring. ♡ Love it! ♡ #donotbetoohardonyourself #love #loveyourself #proud #proudyourself #mistakes #trying #powerful #reminder #inspiring #inspiration #inspirationalquote #quote #etwriterpreneur #entrepreneur #writerpreneur #editor #writer #ghostwriter #elitethinker
Assalamu’alaikum, teman-teman! Nampaknya ini tulisan pertama saya setelah menyelesaikan serial Ramadhan bertajuk Heal Yourself bulan lalu. Tulisan ini (dan beberapa tulisan ke depan) insyaAllah akan menjadi pengikat kenangan dan ingatan yang terpintal selama kegiatan Workshop Writerpreneur Accelerate (WWA) yang dipersembahkan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang saya ikuti di Bogor pada tanggal 26-29 Juni 2019 lalu. Seperti apa keseruan kegiatannya? Stay tune, ya!
Jadi, sekitar 2 minggu sebelum acara ini berlangsung, saya pernah iseng berdoa di dalam hati, “Ya Allah, capek banget habis ujian. Setelah selesai aku pengen liburan. Tapi aku enggak mau liburan geje yang cuma pergi-pergi doang. Pengennya yang berfaedah. Enggak harus jauh apalagi sampai ke LN, deket juga enggak apa-apa.” Seperti biasanya, saya kemudian lupa dengan doa itu; mungkin karena saya tidak mengingat-ingatnya lagi. Sampai kemudian, saya melihat informasi menarik di Instastory seorang editor, tentang seleksi penulis untuk mengikuti WWA ini.
Tanpa berpikir panjang dan hanya bermodal niat untuk mentoring pada para penulis senior untuk menambah kapasitas berkarya, saya pun kemudian mensubmit data-data registrasi untuk WWA dan segera mengkonfirmasi kepada panitia bahwa saya sudah mendaftar. Tidak sulit, hanya diminta untuk memiliki akun Bisma dan mengisi kelengkapan data sederhana, termasuk di dalamnya berisi tentang buku apa saja yang sudah ditulis dan akun sosial media tempat menulis sebagai bukti track record kepenulisan selama ini. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk melakukannya. Setelahnya, nothing to lose! Kalau lolos ya syukur, kalau enggak berarti saya akan mencari ide lain untuk tetap melakukan relaksasi selepas ujian dan urusan-urusan akademis lainnya.
Lima hari sebelum WWA dimulai, saya menerima pengumuman dari panitia bahwa ternyata saya lolos seleksi. Alhamdulillah. Tabarakallah. Jika ditanya apa yang membuat saya lolos, sejujurnya saya tidak tahu pasti. Sampai hari ini pun hal itu nampaknya masih misteri. Hanya saja, yang saya dengar dari salah satu mentor di WWA, penilaian utamanya adalah pada militansi alias daya juang dalam menulis dan berkarya. Tapi, soal militansi yang seperti apa dan apa yang menjadi indikator penilaiannya, saya benar-benar tidak tahu. Satu hal penting, jika kamu ingin mengikuti seleksi WWA selanjutnya (yang saya pun belum tahu kapan akan diadakan), seriuslah menulis dan berupaya berkarya dari sekarang. Sebenarnya ini bukan hanya untuk WWA; lebih jauh dari itu, ini juga untuk melatih profesionalitasmu dalam berkarya.
Empat hari bersama 50 orang teman baru dari berbagai kota di Indonesia adalah pengalaman yang menarik. Jika biasanya saya hanya lebih banyak dekat dan mengenal teman-teman yang menulis non-fiksi seperti saya, acara ini membuat saya menjalin networking dengan teman-teman yang menulis genre lain. Diantara mereka ada yang menulis novel Islami, skenario film dan FTV, buku anak, cerpen remaja, novel fiksi, media massa, dan masih banyak lagi. Saya jadi percaya kalau sebenarnya Indonesia ini tidak kekurangan penulis produktif.
Di Bogor sebagai kota ke-11 yang menyelenggarakan WWA ini, kami dimentori oleh Kirana Kejora, Khrisna Pabichara, Jia Effendie, Pidi Baiq, dan juga Agustinus Wibowo. Mereka bukan hanya piawai dalam menulis tapi juga kaya akan pengalaman selama belasan tahun ada di dunia kepenulisan. Banyak hal yang saya pelajari dari mereka di WWA ini (yang insyaAllah akan lebih detail saya sampaikan di tulisan-tulisan selanjutnya). Satu hal yang paling berkesan adalah sebuah insight bahwa menulis tak hanya sekedar membahasakan perasaan sebab tulisan juga bukanlah sekedar bahasa perasaan.
Lebih dari itu, menulis juga membutuhkan kemampuan untuk (1) peka dan meningkatkan kepekaan, (2) menggunakan teknik dan kemauan untuk mengasah kemampuan teknis, serta (3) belajar dan terus menjadi pembelajar dalam hal apapun, baik itu dalam hal-hal seputar kepenulisan maupun soal attitude dan setting diri sebagai pribadi yang layak dikatakan sebagai seorang penulis.
Bicara tentang skill atau kemampuan ini, saya jadi ingat pada celoteh-celoteh yang terjadi di teman sesama kelompok saat kami baru saja berkenalan dan bertukar akun Instagram di hari pertama WWA. Salah satu dari kami dengan spontan mengatakan, “Waah, followersnya pada ribuan, nih!” Tidak dipungkiri, masing-masing dari kami memang memiliki jumlah followers yang tidak sedikit. Tapi, hal menarik kemudian dikatakan oleh seorang teman yang lain, “Followers itu cuma angka. Buat apa nambah followers terus kalau ternyata enggak upgrade skillnya? Jumlah followers itu enggak menjamin kualitas tulisan.” Oow! Really hit my heart! Celotehan ini membuat saya mengintrospeksi diri yang, sudahlah followers belum seberapa, kualitas tulisan masih alakadarnya, skill juga segitu-segitunya. Duh, berbahaya! Warning untuk terus belajar nih~
Kabar baiknya, meski kamu tidak hadir di WWA, insyaAllah saya akan menuliskan ilmu dan insight yang saya dapat dari acara tersebut lewat beberapa tulisan di blog ini. We’ll talk it later, ya! See you. InsyaAllah.