Sepaket penuh rindu.. (2)
Saya suka Bandung. Saya sudah suka Bandung. Saya sudah suka Bandung sebelum saya kenal kamu. Kamu suka Bandung. Kamu cinta Bandung sepertinya. Saya dan kamu punya alasan sendiri sebelumnya tentang Bandung. Tentang mengapa suka dan cinta Bandung. Sekarang, buat saya, Bandung itu kamu. Ketika mendengar atau membaca kata Bandung, atau seseorang menyebutkan Bandung, kamu yang pertama muncul #ea. Eh tapi seriusan.
Bandung itu kamu – buat saya.
Dua hari lalu saya berangkat ke Bandung. Bisa dibaca di Sepaket penuh rindu.. Change of plan. Saya emang random, tapi setelah random itu terencana. Naon sih Sep ah. Hahah iya maksudnya gini, kalau pergi tujuannya suka random, tapi setelah tujuannya udah ada semua terencana dengan matang. Tapi kadang ngga juga sih. Hehe
Ditulisan sebelumnya saya bilang ada bagian terbaiknya kan. Nah, bagian terbaiknya adalah semua balik ke rencana pertama. Teman saya ga jadi izin, kelas ada yang pegang, saya bisa berangkat jam 12 siang. Berangkatlah saya. Bismillah.
Sempat istirahat di km 19 untuk makan dan sholat. Saya merekomendasikan untuk istriahat di km 19. Masjidnya Masya Allah bagus, besar, dan nyaman. Mukenanya bersih dan wangi. Disediakan tempat untuk isi daya ponsel dengan box kecil dan ada kuncinya. Jadi aman. Keren lah pokoknya.
Sampai pintu tol Pasteur jam enam sorean. Disambut dengan gerimis dan macet. Bandung ketika akhir pekan itu ga beda sama Jakarta. Kami check in di Amaris Hotel di belakang Gedung Sate. Beberes sebentar, lalu makan di HDL yang deket Shabu Hachi. Uenak seafoodnya. Habis makan, ada yang pada mau nongkrong, ada yang langsung balik ke hotel. Saya salah satu yang langsung balik ke hotel.
Aneh rasanya ke Bandung tapi ga main kemana-mana. Aneh rasanya ke Bandung bukan untuk ketemu kamu. Aneh rasanya. Bisa dibilang saya orang yang cukup sering ke Bandung, tapi kalau dilepas suru jalan sendiri pasti nyasar. Dan perjalanan kemarin rasanya ga seperti ke Bandung.
Jakarta, 21 Maret 2017; 08:15














