Saya gagal. Hahah gagal komit sama projek iseng #writingperday ini. Sampai tulisan ini dibuat masih ke tulisan duabelas, padahal harusnya sudah selesai. Bisa dibilang gagal kan kalau tidak sesuai target? Tapi saya akan tetap melanjutkan tulisan ini sampai menyentuh tulisan ke tiga puluh satu. Ditargetkan April selesai.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kalau kamu ditanya begini, “Sebutkan satu kata menurut kamu yang menggambarkan Jakarta?” kamu akan jawab apa?
Macet akan jadi kata pertama yang paling banyak menjadi jawaban sepertinya.
Ya tapi memang iya sih. Macet sudah melekat dengan wajah Jakarta sebagai Ibukota. Mau pergi kemana-mana dibutuhkan waktu 2 hingga 3 kali lipat dari waktu normal yang harus ditempuh. Semakin tahun, macetnya Jakarta bukannya membaik, malah makin parah. Presentasenya? Cari aja sendiri ya. Hahah lagi bisa dirasakan juga tiap hari kan.
Untuk menghindari si macet, banyak orang mencari alternatif kendaraan yang cepat sampai tujuan. Atau kalaupun tidak memungkinkan cepat, setidaknya mencari yang nyaman. Kalau disuruh memilih, saya pilih motor. Bisa nyelap-nyelip. Cuma ga enaknya, kalau panas ya kepanasan, kalau hujan ya basah kehujanan, baju jadi bau knalpot kendaraan juga. Kalau mau tetep “cantik”, saya saranin jangan naik motor ya.
Saya salah satu pengendara motor. Pertama kali mulai bisa mengendarai motor itu ketika SMA. Diajarin sama seorang teman cara mengendarai motor (selanjutnya akan saya sebut naik motor ya) manual tanpa kopling, sebut saja namanya Puput. Berlanjut hingga sekarang, motor jadi salah satu transportasi pilihan saya untuk menghemat waktu.
Selain bisa menghemat waktu, apa alasan kamu suka naik motor Sep? Hmm apa ya. Lebih ke seru kali ya. Seru bisa ngebut kalau jalanan kosong (ehe), bisa ngebut kalau jalanan kosong dan lagi kesel sampe pengen nangis tapi ga bisa ngapa-ngapain (ehehe), bisa nyanyi-nyanyi pas motor lagi jalan. Ada lagi yang seru dari naik motor. Bayangin deh; hujan deras, kamu naik motor, pakai jas hujan lengkap atas bawah, helm, alas kakinya crocs malindi. Seru kan! Kamu hujan-hujanan di atas motor tapi baju kamu ga basah. Kamu hujan-hujanan di atas motor tapi baju kamu ga basah dan tetap bisa menikmati hujan. Kamu hujan-hujanan di atas motor tapi baju kamu ga basah dan tetap bisa menikmati hujan dan kalau nangis kejer pun ga ada yang tau. HAHAH
Tapi serunya akan berasa kalau kamu yang bawa motornya sendiri ya, bukan dibonceng.
Tenang, saya juga sudah punya lisensi mengendarai sepeda motor kok, alias sudah punya SIM C. Pasti bikin SIM nya baru-baru ini ya Sep? Enak aja, saya punya SIM C dari SMA. Pernah dengar SIM Kolektif? Hahah saya ikut itu waktu SMA kelas 2. Usia minimal seseorang untuk membuat SIM adalah 17 tahun, tapi dengan SIM kolektif, usia minimalnya menjadi 16 tahun. Dikoordinasikan dengan Ketua OSIS, waktu itu Kak Della. Peserta langsung datang ke Daan Mogot, ikut tes tertulis dan tes praktek. Tada~ SIM C ditangan!
Setelah punya SIM C, saya ke sekolah jadi bawa motor. Ada yang bilang, “masa-masa SMA adalah masa yang paling indah”, dan buat saya itu benar adanya. Kenapa? Ah banyak sekali yang indah-indah di SMA tuh. Lain kali saya ceritakan. Salah satunya adalah kami (saya dan tiga orang teman), dua diantara membawa motor ke sekolah. Jadi kami berempat suka berkeliling ke daerah-daerah sekitaran sekolah sebelum pulang ke rumah. Sore-sore, saat panasnya matahari sudah tidak terlalu menyengat ditambah angin sepoi-sepoi sore hari yang ugh enak banget kalau dinikmati diatas motor. Indah~
Itu secuil keindahan masa SMA yang masih bisa saya rasakan sampai sekarang.
Kita hidup di dunia pasti ga hanya enaknya aja kan. Saya sudah pernah jabarkan dan sebut beberapa kali pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Naik motor pun ada ga enaknya. Selama sepuluh tahun saya mengendarai motor, tiga kali saya jatuh dari motor.
Jarak paling jauh yang pernah saya tempuh mengendarai motor sendiri itu dari rumah hingga ke Kantor PDAM Kabupaten Bogor di daerah Cibinong. Rumah saya di Kemayoran. Jaraknya? Hitung weh coba sendiri. Ada keperluan untuk Skripsi waktu itu. Rasanya? Hahah capek. Waktu tempuhnya kira-kira satu setengah jam dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/jam.
Sampai beberapa minggu lalu, saya pergi ke pusat perbelanjaan untuk nonton. Saya kesana dengan sepeda motor yang saya kendarai sendiri dan diwaktu jam pulang kantor. Muacetnya subhanallah. Saya masih bisa nyelap-nyelip diantara mobil-mobil. Hahah seru!
Jakarta, 7 April 2017; 14:55 WIB