Insya Allah
Iyaa saya tau ini udah bulan Mei; pertengahan. I’m trying to finish what I’ve started.
Saya mau cerita sesuatu. Kata ini jadi mengalami pergeseran makna karena asal pakai. Jadi gini:
Sep, hari Sabtu dateng ga ke acara X. Jam 7 kan? Iya, Insya Allah dateng. Kok Insya Allah sih? Loh ada yang salah? Kalau Insya Allah berarti ga dateng kan. Yang begini nih.
Insya Allah memiliki arti Bila Allah menghendaki.
Jika ada seorang muslim yang menjawab pertanyaan dengan jawaban Insya Allah, bisa dikatakan dia pasti datang. Takarannya itu 99% pasti datang, 1% keputusan Allah. Artinya, orang tersebut sudah pasti akan menghadiri suatu undangan. Akan tetapi, sebagai manusia tidak boleh mendahului kehendak Sang Pencipta, maka dari itu 1% lagi adalah keputusan Allah (yang tidak bisa ditawar-tawar oleh manusia), karena tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi bahkan satu detik dari sekarang. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang manusia tidak tahu.
Bisa saja terjadi, kamu sudah pasti bisa hadir dalam acara undangan pernikahan temanmu, tapi Allah berkehendak lain. Dalam perjalanan menuju lokasi, kamu mengalami kecelakaan (naudzubillah), dan membuat kamu tidak dapat menghadiri acara tersebut. Makanya dikatakan 1% nya lagi adalah keputusan Allah.
Jadi, untuk kalian yang masih salah tafsir dengan jawaban Insya Allah, semoga dengan tulisan ini dapat memberi kejelasan. Bahwa jawaban Insya Allah adalah jawaban paling pasti yang dapat diberikan oleh seorang manusia, tanpa mendahului Sang Maha Mengetahui.
Ada lagi yang bertanya, bagaimana penulisan Insya Allah yang benar? Apakah Inysa Allah, Insha Allah, atau Inshaa Allah?
Untuk pertanyaan tersebut, saya sudah mencari-cari referensi, dan menemukan penjabaran dari Ust. Felix secara rinci mengenai bagaimana penulisan Insya Allah yang seharusnya. Berikut link nya (Inysa Allah atau In Shaa Allah oleh Ust. Felix). Semoga bermanfaat :)
Jakarta, 12 Mei 2017; 15.22 WIB














