Menyambut September.
Rasanya seperti baru kemarin kemeriahan menjelang malam tahun baru terasa. Nyatanya, kuartal ketika sudah hampir berlalu. Ada yang resolusi tahun ini sudah tercapai? Ada yang sudah, tapi tidak sedikit yang belum. Semoga Allah Swt. memudahkan jalan kita. Aamiin Allahumma aamiin.
Resolusi saya banyak yang belum tercapai tahun ini. Salah satunya, project menulis yang saya gaungkan dengan seorang teman, pun belum tercapai. Sudah molor enam bulan. Semoga selesai sebelum 2017 berakhir.
Banyak yang ingin saya lakukan, banyak tempat yang ingin saya kunjungi, banyak barang yang ingin saya beli, banyak hal yang ingin saya berikan untuk Ibu dan Bapak, banyak sekali. (hampir) Dua puluh enam tahun saya hidup, apa yang sudah saya lakukan untuk dunia? Terlalu luas. Apa yang sudah saya lakukan untuk sesama manusia? Terlalu umum. Apa yang sudah saya lakukan untuk Ibu dan Bapak? Masih sedikit. Terkadang saya terlalu egois. Sehabis sholat, yang saya doakan pertama kali adalah diri saya sendiri.
Ketika saya tiba di suatu titik, saya berhenti. Menoleh ke belakang sejenak untuk melihat sudah sejauh mana saya melangkah dari titik sebelumnya. Masih adakah kotoran yang berserakan yang belum saya bersihkan? Masih adakah rasa sakit hati yang masih belum bisa terlepaskan? Masih ada ternyata; dan tidak sekecil yang saya duga sebelumnya.
Sebaik-baiknya pembolak-balik hati ialah Allah Yang Maha Memiliki. Tidak ada kebetulan yang terjadi di muka bumi ini, melainkan Dia yang sudah mengaturnya. Rasa senang yang diberikan oleh seorang teman ketika dia memberimu oleh-oleh sehabis dia pergi ke suatu tempat, rasa nyaman yang diberikan seseorang hanya dengan menanyakan kabarmu hari itu, rasa dipercaya ketika seseorang menumpahkan keluh kesahnya kepadamu, rasa hangat ketika kamu menjadi tempat pulang seseorang. Hingga rasa sakit yang kamu rasakan ketika kepercayaan yang kamu berikan dirusak oleh seseorang. Semua sudah ada yang mengaturnya.
Masih ada yang mengganjal. Saya tidak bisa memberi jawaban kapan saya akan bisa melupakannya, tapi saya yakin saya bisa. Saya hanya tidak tahu kapan. Sama seperti dulu ketika orang bertanya “Kapan pakai hijab?”, yang selalu saya jawab dengan jawaban “doakan saja supaya disegerakan pakai hijab”. Dalam hati saya menjawab “saya yakin saya akan pakai hijab, tapi tidak tahu kapan”. Saya tidak mau sembrono menyebutkan kapan padahal saya tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan satu detik dari sekarang. Hati saya hanya yakin akan hal itu, dan benar apa yang saya yakini itu kejadian di awal kuartal kedua di tahun lalu. Sama seperti hal yang saat ini masih mengganjal hati saya. Saya masih belum bisa sembuh dari luka yang sudah lama terjadi. Saya yakin akan sembuh, saya hanya tidak tahu kapan.
Saat ini yang saya lakukan perbanyak berdoa. Doa yang banyak. Minta yang banyak kepada Yang Maha Kaya. Semoga yang sakit segera diberi kesembuhan. Semoga yang jauh segera didekatkan. Semoga yang belum bahagia segera diberikan kebahagiaan. Semoga yang sedang menanti segera berakhir masa penantiannya.
Aamiin Allahumma aamiin...
Jakarta, 2 September 2017 | 16.35 WIB












