Pagi itu, aku memutuskan untuk keluar dari dalam masjid Wamy. Mencari tempat ternyaman untuk melanjutkan hafalanku.
"Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Maryam di dalam Kitab (Al Qur'an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis). Lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, "Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa."" (QS. 19: 16-18)
Tubuhku seketika bergidik. Ingatanku melayang pada kisah pertemuan Rasulullah saw dan Jibril saat wahyu pertama Allah turun.
"Dia (Jibril) berkata, "Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci". Dia (Maryam) berkata, "Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!" Dia (Jibril) berkata, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan". Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh." (QS. 19: 19-22)
Mataku berkaca. Ya Allah aku ga kuat untuk ngelanjutin ayatnya lagi. Aku diam, menarik nafas dalam.
"Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, "Wahai betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan." (QS. 19: 23)
Aku mengatupkan kedua tangan di wajah. Menggigit bibirku. Tak kuasa untuk melanjutkannya lagi.
Kisah Maryam bukanlah kisah yang asing di telingaku. Dan sampai kemarin, aku tak pernah benar-benar memaknai seistimewa apa sosok Maryam hingga namanya menjadi salah satu surat di Al Qur'an. Tapi hari itu, Maryam menjadi sosok wanita teladanku, sebagai refleksi diri bahwa begitulah cara Allah menggambarkan sosok wanita yang suci, sabar, yang baik budi pekertinya, yang sholihah. Sosok wanita yang Allah tiupkan ruh di rahimnya dan Dia uji hingga menuai cela dan fitnah dari orang-orang sekitarnya, sebagai tanda kebesaran dan rahmat dari Allah.