post-mortem
kau tahu, ketika kau jatuh cinta: kau mengukir sejuta perasaan di hati, di limpa, di pojok-pojok usus besar; kau merajut namanya di kepala, di dada, dan di pertemuan kedua paha. kau memujanya lebih dari kau mengagumi semesta, kau menyimpan wajahnya dalam pesistensi retina; kau tahu dia segalanya, dan memang begitulah keadaannya.
kau tahu, ketika kau jatuh cinta: dia bisa menjadi segalanya: malaikatmu, penyapihmu, pembunuhmu, algojomu, atau perapal mantera di sampingmu. dia bisa menyerupa apa saja: kabut, angin, halimun, embun, atau hujan. dia adalah pelangimu yang melengkung, dia adalah badai bergemuruh, dia adalah darah saat kau terluka. dia memang menjelma apa saja.
kau tahu, ketika kau jatuh cinta: kau bisa mati karena melindunginya. kau rela jatuh saat bersamanya, kau sedia hina jika dimintanya; kau mau, kau selalu mau. kau menghamba dalam standar perbudakan paling nista, kau menjadi jalan tempatnya berpijak, kau mengangkatnya memutari angkasa; kau tahu, kau akan melakukan apa saja untuknya.
kau tahu, ketika kau jatuh cinta: otak tak lagi bersuara. hati memplester bibirnya. dan rasio ditelanjangi cinta. kau tahu, ketika kau jatuh cinta: saat itulah dunia memangsamu melalui dirinya.
kau tahu, ketika kau jatuh cinta: kau tak lagi bermakna.












