GANJA DALAM MEDIA DAN ROKOK YANG MULAI MENJADI ANAK TIRI
PERHATIAN SEBELUM MEMBACA!!!
Tulisan ini hanya bentuk opini saya semata ketika melihat yang terjadi dalam media-media baik dalam maupun luar negeri. Jangan terlalu serius membacanya, cukup jadi pembelajaran aja bro.
Kebetulan saya mulai membuat tulisan ini pada pukul 4.20 wib. Bagi yang tidak mengerti maksudnya silakan searching google atau tanya teman anda yang mukanya sering terlihat beler dan suka ketawa sendiri.
Di Indonesia, ganja masih termasuk dalam obat-obatan terlarang dan pengguna serta bandarnya bisa terkena hukuman yang sangat berat kalau ketahuan membawanya. Namun di beberapa negara, legalisasi ganja sudah bukanlah hal aneh dan malah menjadi trend sendiri, walaupun dalam kadar yang masih sangat terbatas. Hal ini sangat menarik karena dalam waktu yang terbilang cepat ganja menjadi tidak lagi konsumsi tabu oleh masyarakat, dan menurut saya popularitas ganja mulai mengalahkan asap rokok yang sebelumnya menjadi asap penghilang stress bagi sebagian orang.
Timbul pertanyaan, apa yang bisa menyebabkan semua ini?
Salah satu jawaban yang kuat menurut saya MEDIA.
Jika anda sering menonton film Hollywood atau mungkin serial-serial HBO, pasti anda sering memperhatikan karakter yang menghisap ganja. Karakter ini sering digambarkan sebagai sosok konyol, dan lucu, serta selalu selow dalam menghadapi masalah. Kalau anda pernah menonton film seperti Cheech And Chong atau semua film James Franco dan Seth Rogen. Ganja digambarkan sebagai bentuk adiksi hiburan yang baru seperti alkohol atau rokok.
Bukan hanya di film, dunia musik populer juga sudah mempromosikan ganja secara terang-terangan. Sebutlah Snoop Dogg, Lil Wayne atau bahkan Miley Cyrus. Kalau dulu kita melihat ganja identik dengan rambut gimbal, baju pantai, dan lagu Reaggae. Maka sekarang ini semua sedang mengalami perubahan drastis.
Hingga media informasi, seperti berita-pun mulai berani mengangkat tema tentang ganja sebagai topik utama mereka, ini terjadi terutama di kantor berita yang bersifat progresif dan liberal. Selain itu bidang ilmu pengetahuan juga turut ambil bagian dalam popularitas ganja, sebuah studi menyebutkan bahwa ganja bisa menjadi alternatif untuk mengurangi efek negatif kemoterapi pada kanker. Bahkan sekarang bisa dibilang negara-negara yang melegalkan ganja bisa mengambil keuntungan miliaran dolar dari industri ini.
Uniknya popularitas ganja ternyata berbanding terbalik dengan rokok. Kini perokok di negara-negara besar dan maju mulai berkurang drastis. Ini dikarenakan regulasi larangan merokok yang semakin ketat, lalu studi-studi yang menyebutkan rokok sebagai penyebab kanker dan sakit jantung, dan salah satu faktor lagi yaitu MEDIA.
Kini media-media besar di negara maju, mulai menempatkan stigma negatif yang sangat kuat terhadap rokok. Kalau dulu tahun 1950-90an oleh media, perokok digambarkan sebagai orang yang jantan dan modern (sebuah stigma yang masih kuat di Indonesia) maka kini perokok lebih (lagi oleh media) digambarkan sebagai orang yang kolot dan merugikan sekitarnya. Ini bisa dilihat dari propaganda baik bersifat implisit maupun eksplisit. Hal tersebut menyebabkan industri rokok merugi besar. Hingga industri rokok raksasa seperti Phillip Morris terpaksa mencari pasar lain yang potensial, termasuk Indonesia.
Di Indonesia sendiri, rokok masih menjadi pasar yang sangatlah besar dan hampir tidak mungkin tergeser. Walaupun larangan merokok, gambar horor dibungkusnya atau pembatasan iklan di media sudah diterapkan, budaya “kejantanan” yang sudah mengakar bagi perokok belum bisa dihilangkan. Selain itu industri rokok di Indonesia masih terbilang sangatlah penting untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Lah, orang terkaya di Indonesia aja pengusaha rokok, miris.
Tidak bisa dipungkiri kekuatan media sangatlah besar dalam merubah pergeseran nilai dan norma terkait ganja maupun rokok. Media mempunyai semacam magnet tak terlihat yang mampu menggiring opini kita ke kutub yang diinginkan oleh mereka. Sehingga secara tidak sadar keinginan mereka bertransformasi menjadi keinginan kita. Namun jangan lupa dibalik semua informasi itu, yang sebenarnya mengatur adalah yang membayar media untuk menjadi corong mereka.
Lalu menurut anda apakah tulisan ini membuat anda ingin menghisap ganja atau berhenti merokok atau mungkin tidak keduanya? Semua pilihan tetaplah ada di tangan anda.















