Tadi siang aku pergi ke perpustakaan kampus. Diperjalanan berasa berjejer orang-orang yang ... Melakukan sesuatu yang ... Begini, keluar kosan aku jalan kaki (dengan langkah cepat) seperti biasa. Sekitar 20 meter dari rumah ada seorang Bapak yang sedang berdiri, aku melewatinya, kemudian ia berkata "Ayo Neng! Semangat, Neng!!" Aku, stay cool (tahan ketawa). Di pertigaan baru tertawa (dengan jaim). Jalan lagi (diperlambat), ada cahaya matahari. Hangat. Saat memasuki area belakang kampus, aku semakin memperlambat langkahku, karena akan melewati warung. Kemudian Aa penjaga warung rapi berkata "tu. wa. ga. tu. wa. ga." Aku (...) Dalam hati, "Harus apa Tuhan... ada apa... denganku?" Kulanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di perpustakaan. Setelah menyimpan tas, aku menghampiri Ibu Denda. Iya, aku terlambat mengembalikan buku. Ketika ia sedang mendata buku dariku, ada permen jatuh (dari buku), Ibu Denda berkata, "Neng, ini permen gak dimakan?" Aku menjawab, "Mm. Itu ... (adalah pembatas buku, Bu) Ibu mau?" "Oh, nggak ah punya Eneng." ucap Ibu Denda. Aku (....) "baiklah, Bu." Kemudian aku menuju komputer untuk mencari buku politik. Kumasukkan kata kunci dan, "Aha!" aku membalikan badan. Tiba-tiba dihadapanku ada Bapak berkumis dengan gigi depan yang ompong. Iya, itu Bapak penjaga perpustakaan. Aku sedikit kaget saat itu. Selanjutnya, Bapak kumis itu berbicara "Jadi gini, Neng. .........." Tak jelas selanjutnya ia membicarakan apa, aku hanya tertawa, mengerutkan dahi, dan berkata "iya, Pak.. Iya... Oh..." (Apalagi ini.... Tuhan) Percakapan yang tak kumengerti itu diakhiri olehku yang bergegas pergi ke lantai 2 dengan berkata, "Oke Pak, saya.... harus kesini."