kadang kita terlalu sering berdoa agar si dia yang didamba menjadi milik kita. saking seringnya, sampai lupa mendoakan diri sendiri agar ikhlas dan legowo jika pada akhirnya si dia memilih orang lain.
seen from France
seen from Ireland

seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from Japan
seen from China
seen from Mexico
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Philippines

seen from Malaysia
kadang kita terlalu sering berdoa agar si dia yang didamba menjadi milik kita. saking seringnya, sampai lupa mendoakan diri sendiri agar ikhlas dan legowo jika pada akhirnya si dia memilih orang lain.
I know cause i'm not your priority ⌚ . . . . . . . . . . #ganyambung #bgtsama #fotoygdipost #yaudahsih #sekali #sekali -,- (di Tanjungpandan, Sumatera Selatan, Indonesia)
Reflections
Handphone ku terus berdering. Ini sudah kali keempat atau mungkin kelima ada panggilan masuk. Bukan karena aku malas menjawabnya, tapi karena aku capek. Sangat capek. Aku baru saja pulang dari masa orientasi ekstrakulikuler di kampusku. Paduan Suara Mahasiswa, ya, aku gemar sekali bernyanyi. Namun ternyata tak semua orang mendukung kegemaranku ini. Itulah sebabnya aku tak ingin menambah pening di kepalaku dengan mengangkat panggilan masuk yang mungkin ini sudah genap delapan.
Aku tahu, handphone nya pasti terus berdering. Ini sudah kali keempat atau entah kelima aku menelponnya. Dan aku tahu dia hanya capek. Sangat capek. Dia baru saja pulang dari masa orientasi ekstrakulikuler di kampus. Paduan Suara Mahasiswa, ya dia sangat gemar bernyanyi. Namun aku tak setuju dengan kegemarannya yang tak jelas itu. Tapi ada hal yang harus aku katakan padanya sekarang juga. Itulah sebabnya aku ingin dia menjawab panggilanku yang kini mungkin sudah genap delapan.
***
Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi. Langsung ku cek handphone ku. 12 missed call, 18 new messages. Tak heran, dia memang selalu begitu. Tak kan berhenti hingga aku memberikan kejelasan. Hingga segala sesuatunya clear. Dia pasti sekarang sudah cemas setengah mati karena aku sama sekali tak memberi kabar kepadanya. Dia bilang itu perhatian. Halah, dia itu berlebihan. Dan aku tak suka sesuatu yang kelewat batas. Eh? Apa benar?
Timbul pertanyaan besar dikepalaku saat ini, apakah dia sudah terbangun di kala matahari sudah tinggi ini. Ah, bagaimanapun, kalau dia bangun, dia pasti langsung mengecek Hp-nya. Sudah sekitar 12 missed call dan 18 messages yang aku kirim padanya. Aku memang selalu begini. Aku tak akan berhenti hingga dia memberi kejelasan. Hingga semuanya clear. Huh, tahukah dia, aku disini cemas setengah mati karena dia benar-benar tak memberi kabar apapun sejak sore kemarin. Aku hanya ingin tahu apakah dia baik-baik saja atau bagaimana pun, ya ini yang namanya perhatian, kan? Atau…aku memang berlebihan? Dan aku tahu dia tak suka sesuatu yang berlebihan.
***
Setelah segar kubersihkan badanku, akhirnya aku putuskan untuk mengiriminya pesan singkat. Cukup pesan singkat, tak usah telepon balik. Singkat sesingkat yang aku bisa, dan aku tahu dia tak suka caraku ini. aku melakukan semuanya dengan simple, dia tak bisa bersikap fleksibel. Pernah suatu kali temanku satu klub majalah mengajakku untuk menemaninya membeli kado, dia benar-benar marah dan ngambek seharian. Padahal aku hanya mengantarnya saja. Berlebihan kan? Dia juga sering kali mempermasalahkan inbox ku yang terkadang penuh dengan pesan dari orang lain. Dia suka menuduhku macam-macam. Dan itu adalah hal yang paling aku benci. Satu lagi, aku harus jujur bahwa cara dia menunjukan kasihnya padaku sedikit berlebihan. Tiap tanggal jadi kami, dia mengirimi sepucuk surat berbentuk hati, bahkan ada beberapa waktu ketika dia menambahkan coklat ataupun cake. Ya, aku bahagia dengan segala bentuk perhatiannya, namun bisakah dia bertindak sewajarnya?
Akhirnya dia mengirimiku pesan singkat. Hanya pesan singkattanpa telepon balik setelah aku mengiriminya banyak sekali pesan? Aku tahu dia tahu bahwa aku membenci cara dia ini. dia memang pribadi yang simple, bahkan terkadang terlampau cuek. Pernah suatu kali teman satu klub majalahnya meminta dia untuk mengantarkannya membeli kado, dia menurut saja, bahkan tanpa memberitahuku. Alhasil, aku pun ngambek seharian, tapi dia bukannya meminta maaf, malah ikut-ikutan diam dan berbalik marah padaku. Keterlaluan kan? Dia juga sering saling mengirim pesan singkat dengan orang lain berisikan berbagai pesan ramah seperti, “selamat tidur” yang membuatku makin geram. Maka tak salah kan aku mencurigai dia macam-macam? Kurang apalagi aku ini, telah kulakukan hal-hal yang bisa membuatnya melting. Tiap hari jadi kami, aku memberinya surat berbentuk love dengan kata-kata sweet, bahkan sering aku sengaja membeli kue atau coklat sebagai hadiah tambahan. Ya, aku bahagia bisa bersamanya tapi bisakah dia menghargai segala bentuk perhatianku?
***
Sepertinya aku sudah tak tahan lagi dengan sikap kekanak-kanakannya. Dia membuat suatu masalah kecil menjadi masalah sangat besar. Seperti pesan singkat yang barusan aku kirimi, langsung dia balas dengan pernyataan panjang dan membuatku muak. Ya, benar, aku mulai muak. Sepertinya aku harus membicarakan semuanya sekarang. Aku mengirimi pesan singkat lagi mengajaknya bertemu di Café I’M, café pertama kali kami kencan. Akan menjadi sangat memorable jika kami dipertemukan dan dipisahkan pula di café yang sama. Tunggu, aku tak berniat untuk berpisah dengannya. Lebih tepatnya belum seratus persen yakin.
Dipikir-pikir aku tak tahan lagi dengan sikap cueknya. Dia selalu menganggap remeh apapun. Seperti pesan singkat yang barusan dia kirim, dia hanya membalas “ada apa?” padahal sudah jelas seharusnya dia mengabariku dari kemarin, maka aku membalasnya dengan seluruh unek-unek yang dari kemarin aku rasakan sambil berlinang air mata. Aku sepertinya mulai capek dengan segala sesuatunya. Aku tak ingin sakit lebih jauh lagi. Sambil menyeka air mataku yang telah daritadi turun, aku membuka pesannya, ternyata ajakan untuk bertemu di Café I’M, oh ya! Ini café dimana pertama kali kami berkencan. Berdesir pikiran curigaku, apakah yang ingin dikatakannya? Apakah dia akan memutuskan hubungan kami? Ah, jujur aku belum siap untuk ditinggalkannya.
***
Selama di perjalanan, banyak berkelibat memori bersamanya. Saat pertama kali aku melihat matanya yang tak bisa lepas dari soft lense, karena minus dimatanya sudah cukup parah. Saat pertama kali aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. Ketika akhirnya dia merespon usahaku mendekatinya. Harus kuakui dia adalah satu-satunya perempuan yang bisa menerimaku apa adanya sejauh ini. aku juga merasa beruntung karena diantara banyak lelaki yang mengejarnya, akulah yang dia pilih. Keluarganya pun sangat menyambutku dengan baik. Dan yang paling penting dia memberi rekor baru untuk masa ku bersama seseorang.
Selama perjalanan, aku memikirkan banyak hal tentangnya. Saat pertama kali aku melihat matanya yang bulat. Saat pertama kali aku secara langsung dimintai nomor kontak oleh orang asing. Ketika akhirnya aku luluh dengan usahanya mendekatiku. Ah, tunggu, aku tak yakin dia benar-benar berusaha. Aku memang meresponnya langsung. Nah, mungkin inilah yang membuat dia berperilaku seenaknya dalam hubungan kami. Harusnya dia ingat apa yang pernah dia bilang bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang tetap bertahan disampingnya selama ini. Dia menyukai keluargaku. Dia menyukai bagaimana aku memberi rekor baru dalam masa dia berhubungan dengan seseorang.
***
Ah, tidak. Niat awalku adalah mengakhiri semuanya hari ini, walaupun aku belum seratus persen yakin dengan niatanku ini. tapi aku benar-benar harus mengakhiri sesegera mungkin. Jauh didalam hatiku, aku tak ingin melihatnya mengeluarkan air matanya karenaku. Aku juga tak ingin lagi membuat pikiran dan hatinya tak menentu hanya karena lelaki macam sepertiku. Sepertinya dia tak pantas untuk semua kesakitan ini. ya, aku tahu dia sakit selama ini. maka bukankah niatan ku untuk mengakhirinya hari ini demi kebaikan dia lebih baik? Aku hanya kasihan padanya. Ataukah perasaanku yang dulu padanya memang sudah memudar?
Ah, tidak. Kemudian aku terpikir tentang niatnya menemuiku hari ini di café yang sama. Apakah dia akan mengakhiri semuanya? Feelingku mengatakan iya. Mengingat telah banyaknya air mata yang aku keluarkan demi dia, aku sepertinya sudah siap dengan semuanya. Jauh di dalam hatiku, aku merasa malu mengeluarkan air mata hanya untuk lelaki seperti dia. Aku juga sering kali merasa bersalah pada diri sendiri tiap kali aku memikirkannya terlalu sering. Sepertinya dia tak berhak untuk semua kesakitan ini. Bagaimanapun, aku tahu dia tahu aku sakit. Maka tekadku sudah bulat jika pada akhirnya dia akan memutuskanku hari ini, aku sudah siap. Walaupun aku tahu, perasaanku padanya masih sama seperti dulu dan belum memudar.
***
Aku tiba di café tempat kami akan bertemu. Aku melihat sekeliling, di meja 3A sudah ada dia. Aku langsung menghampirinya. “Udah lama?” rupanya sapaanku itu membuatnya kaget. Aku langsung duduk di kursi dihadapannya. Dia terlihat cantik dengan rambut digerai seperti ini. “Pesen dulu aja, aku udah tadi.” Katanya dengan sangat kaku seperti sedang berbicara pada stranger. Kemudian dia meneguk jus strawberry dihadapannya. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, “Jadi gimana?”
Aku tiba di café pertama. Aku akhirnya duduk di meja 3A. Beberapa menit kemudian, dia datang menghampiriku. “Udah lama?” sapaannya itu membuatku kaget. Dia langsung duduk di kursi dihadapanku tanpa menunggu jawabanku atas pertanyaannnya. Dia terlihat segar dengan kumis yang telah dia cukur. Aku kemudian membuka keheningan dengan, “Pesen dulu aja, aku udah tadi.” Namun perkataanku sangat kaku dan aku tahu dia menyadari itu. Untuk menghindari salah tingkah, aku meneguk jus strawberry dihadapanku. Aku tak mau berlama-lama, aku harus menyelesaikannya sekarang juga, “jadi gimana?”
***
Aku cukup kaget mendengar pertanyaannya yang begitu lugas. Aku pun spontan menjawab, “santai lah. Aku ini bukan robot kan.” Dia lalu memicingkan kedua matanya yang kali ini terlihat sangat lelah, atau mungkin hasil menangis semalaman. Aku tahu dia membenci kalimat ini, kalimat yang sering aku utarakan ketika dia tak sabar dalam melakukan apapun terhadapku. “terus aku harus bagaimana?” tanyanya lagi. “bagaimana apanya?” pertanyaan dibalas pertanyaan itu membuatnya mulai kesal. Dia lalu memalingkan wajahnya kea rah lain. Kemudian dengan suara bergetar, dia berkata, “aku tak bisa lama-lama. Cepat katakana, apa yang mau kau bicarakan?” aku terkejut mendengar pernyataannya kali ini. begitu tegar dan berani.
Dia terlihat kaget mendengar pertanyaanku. Dia pun langsung menjawab, “santai lah, aku ini kan bukan robot.” Lagi-lagi kalimat itu yang dia katakana. Aku lalu memicingkan mataku yang sudah sebisa mungkin aku poles supaya tak terlihat sembap. Aku sangat membenci kalimatnya itu. Terkesan aku selalu menuntut dia melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya. “Terus aku harus bagaimana?” tanyaku lagi. “bagaimana apanya?” aku mulai kesal dengan pertanyaanku yang dibalas dengan pertanyaan juga. Aku sontak memalingkan wajahku kea rah lain untuk mengumpulkan keberanianku. Akhirnya, dengan suara sedikit bergetar, aku berkata “Aku tak bisa lama-lama. Cepat katakana apa yang mau kau bicarakan?” haha! Dia pasti terkejut mendengar perkataanku kali ini. aku terlihat tegar dan berani bukan?
***
“Oke kalau begitu, aku, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mulai capek dengan segala hal berlebihan yang kau lakukan.”
“Aku juga.”
“Maksudmu?”
“Aku juga muak dengan sikapmu yang tak acuh terhadap hal apapun.”
“Kau tahu aku kan memang tipe pribadi yang cuek.”
“Tak bisakah kau berubah?”
“Dari dulu aku katakan, inilah aku. Aku taakan bisa menjadi orang lain atau siapapun atau apapun.”
“Aku tak memintamu berubah seperti itu, berubah demi kebaikan tidak salah kan?”
“Kebaikan untuk siapa?”
“Untuk dirimu sendiri!”
“Untukku atau untukmu?”
“Kau ini masih saja kepala batu”
“Lalu kau apa? Aku tak pernah kan menuntutmu untuk berubah sedikitpun, walau aku capek dengan sikapmu yang berlebihan. Tapi pernahkah aku memintamu untuk berubah?”
“Tidak. Karena kau tidak peduli. Jika kau peduli, kau pasti mengutarakan keinginanmu untuk kebaikanku. I don’t mind if you ask me to change.”
“Oh ya? Mengapa kau mau?”
“Karena aku percaya kepadamu. Aku percaya pada orang yang aku sayangi.”
“Jangan biarkan perasaanmu mengontrol pikiranmu terlalu jauh. Kau bukan boneka.”
“Ya, aku bukan boneka yang bisa kau perlakukan semaumu!”
“Hanya karena aku cuek kau bilang aku bertindak semauku?”
“Memang benar kan?”
“Kau ingat kata-kata mamamu ketika kita bertengkar?”
“Aku ingat dan aku kira dia tak mengerti perasaanku karena aku tak menceritakan semuanya.”
“Apa bedanya?”
“Kalau aku menceritakan semuanya, mungkin mama akan menyuruhku menjauhimu dari dulu. Cih, aku memang bodoh selama ini.”
“Ya, kau memang bodoh. Bodoh karena percaya dengan orang sepertiku.”
“Aku tak bilang seperti itu.”
“Tapi kau akan”
“Tidak!”
“I’m done.”
***
Handphone ku terus berdering. Mungkin ini kali keempat atau kelima atau mungkin lebih. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya. Aku sudah tahu dia akan melakukannya. Cepat atau lambat. Namun sesuatu telah menyadarkanku bahwa mungkin dia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya. Dia hanya takut sendirian. Dia tak benar-benar menemukan refleksi dirinya di diriku. Dan kami bertahan karena itu. Hanya itu. Aku memijit tombol reject akhirnya. Dan segera mencari nomor baru untuk handphone ku ini.
Aku terus menelponnya. Mungkin ini kali keempat atau kelima atau mungkin lebih. Setelah kami membicarakan semuanya di Café itu, kami akhirnya memilih berjalan masing-masing. Di jalur kami masing-masing. Namun, sesuatu telah menyadarkanku bahwa dia adalah wanita yang kubutuhkan. Juga kuinginkan. Aku hanya terlalu tinggi hati untuk mengakuinya. Aku menemukan refleksi diriku didirinya. Dan hal itu sebenarnya yang membuat aku bertahan disampingnya. Tapi nampaknya, pintu itu telah ia tutup. Dan penyesalan ini memecah hingga sel-sel dalam tubuhku. Nomornya tak pernah bisa dihubungi lagi.
» Kamu mau tinggal di desa kaya' gini? « Mau lah. » Hah...mana bisa?jauh dari mana mana lho.Akses kemanamana susah. « Buat apa kemanamana? Kalau yg dibutuhkan bisa kita "buat" sendiri. Kita akan menanam berbagai jenis sayuran,mulai dari bawang,tomat,cabe,bayam,kangkung,sawi,brokoli...juga umbi umbian. Yaaa sesekali ke pasar, boleh lah. » sayur mulu.hewaninya mana? « kita batasi asupan yg bs bkin kolesterol.aku mau hidup sehat menua.bersamamu :p » apa lagi? « Kita tanam bibit pohon mangga.5 tahun lagi tuk manjat anak anak. . _____________________ Demikian dialog Yoko dan Veronica. . Loc: Selo. Kaki gunung Merbabu. . #yaudahsih #janaloka #hidupdidesa #yokodanveronica
listen,don't forget bel :') (2)
vidi : sok bu biar sakanteunan bu rina : sakanteunan vid bu mila : mau jadi org sunda vid? bu rina : iya mau jadi org sunda bu mila : ohiya kan mau nikah sama orang sunda bu rina : engga dia mah sama orang sana vidi : orang sunda mah buat main main aja bu mila : ih gila orang sunda buat main main aja
Rupanya saya ga setangguh yg kalian pikir. Capeeeeek................. 😩😫😨😵😲 . . . #pengennanggis #pengenaja #yaudahsih #gituajasewot #unfollowjuganih #ribet
Ini juga kece lho 😂😂😂 #photoSendiri #mujiDiriSendiri #yaudahSih #cuekkinAja #orangnyaMemangGitu
#kurangpiknik #lebarangakliburan #yaudahsih . . . . . #aquarelle #drawing #watercolor #sketch #illustration #art #artwork #brush #picture #picoftheday #artoftheday #holiday