PERKS(&JERKS) OF BEING NOCTURNAL
-Nocturnal; (adj): done, occuring, or active at night.
Bulan ini, bulan Agustus, adalah tepat 8 bulan aku jadi anak malam. Eits, jangan dulu heboh, bukan jadi yang mangkal di tempat karaoke Jepang Blok M loh (amit-amit, ya Allah), pun bukan nax gA00LL yang ngabisin berjuta-juta cuma buat nyewa table. Aku jadi anak malam, karena KEJRA!! ya, nguli (menjadi kuli).
Iya, as you know, aku jadi buruh produksi di salah satu TV berita. Dan, salah satu konsekuensi dari pekerjaan ini adalah, harus siap selalu siaga selamanya untuk dapat jam kerja yang gak menentu. Singkatnya gini, namanya TV berita, itu tiap jam ada aja berita yang harus diupdate, dan ada aja program2nya tiap saat. entah itu tengah malem, atau pun subuh-subuh. Nah, kami lah yang banting mouse, keyboard, kadang kepala juga buat layar tercinta. *tsah…
Nah, jadi lupakan tentang rencana kencan di weekend, atau pun candle light dinner pulang kerja. Cause u never know where u will be placed. Di tahun pertama, alhamdulillah, aku dapet program Newsroom yang tayangnya jam 17.00-18.00 WIB. Which is, jam kerja ku adalah sekitar jam 11.00-19.00. Hampir sama lah kayak office hour nya PNS atau pekerja swasta lain. Namun, karena program ini tayang setiap hari alias Sabtu-Minggu juga harus LIVE, jadilah bawahan sepertiku gak dapet libur weekend. Awalnya, kungerasa maleeeeeees karena kebayang gak sih, harus masuk di saat org lain bisa reunian, atau piknik sama orang tua, aku harus melangkahkan kaki ke gedung demi layar orang lain. But, lama-lama ku sangat menikmati masuk di saat weekend. Entah kenapa, suasana nya enak aja. Gak hectic. Gak banyak saingan bikin berita. Bisa pakai komputer mana pun daaaan pakai baju bebas. Dan the best thing is… libur di saat org lain berjibaku demi secercah harapan masa depan, kubisa lenjeh-lenjeh di pojokan kosan sambil nonton dram-kor terbaru. Sumpah, libur di hari biasa itu… seenak itu. Gabisa dijelasin. Kalau yg pernah ngalamin, pasti ngerti dan ketagihan! Asli.
Setahun berlalu, di awal tahun ini, ku diberi mandat untuk pegang program yang tayang di TV saudara (by accident), dan tayangnya TENGAH MALEM. Yas, midnight cuy! Well, kalau dipikir, dulu, ku memang pernah bergumam iseng, “kayanya masuk program malem enak deh!” dan… voila! ku benar-benar ditempatkan di sana. Allah really hears my pray (even it was just gambling). Dan… ku menjadi yang tercantik di program ini, karena temen seprogramku cowok semua. Dan jam kerjanya itu dari mulai jam 17.00 - waktu yang belum ditentukan. What? Jadi gini, lemme tell you something sucks bout being on this program. Jam tayangnya gak tentu coy. Jadi, kita gak punya jam tayang pasti, kita kudu nunggu update an slot waktu dari TV saudara. It means, kami pun gak tau bisa pulang jam berapa tiap harinya. Yang pasti sih di atas jam 12 malem. itu yg pasti. Jangan sedih, bahkan kami pernah pulang jam 4 subuh, karena harus pegang Breaking News yang ada pengeboman di Kp. Melayu itu (kzl bet ama teroris napa juga harus ngebom malem2). Itu satu, yang kedua, karena program kami jadi yang terakhir tayang di akhir hari, jadilah source beritanya dikit. semuanya udah dibuat sama program sebelumnya. Kami kehabisan berita bosss. Kami bingung harus buat apa agar layar kami bagus. Nah, ini berhubungan sama RATING. Yes, this is another suck thing. Jadi, beda sama program lain di TV kami, program ini karena tayang di TV saudara, kami bergelut dengan rating. And I hate the fact that another TV station leads the rating. Deuh, tiap liat grafik rating tiap harinya, bikin pening, bikin pengen ngacak-ngacak satu Indonesia. Lemme tell a lil fuckin fact, rating tinggi masih dipegang oleh acara joget-joget komedi gajelas yang majang artisnya itu-itu mulu. Dan, kalau udah gini, kita pun angkat tangan kalau harus bertarung sama acara recehan begitu. Eh, maap.
Mengenai jam tidur. Well, ku memang night owl (even sebelum pindah jadi malam), but not this late. Maksudnya ku memang bisa kuat begadang, sampai larut, tapi gak sampai subuh juga. Dan sekarang, ku gabisa tidur sampai menjelang subuh. Ya, tiap mau masuk adzan subuh, entah kenapa mata yang tadinya melek banget, susah nutup jadi perlahan-lahan beraaaaaaattt banget, that I can’t handle it anymore. Jadilah, bablas tuh subuhnya jam 6 pagi or even lebih siang :( Astagfirullah :( Udah gitu, abis subuh nih ya, kalau berhasil survive, ku pasti langsung terlelap as soon as I finish solat subuh. Dan, tau gak, bangun jam berapa? Coba tebak! Ya, dzuhur bosss. tepat adzan dzuhur. siang maning. Matahari udah terang, orang-orang mah udah istirahat makan siang, chit-chat sama temen kantor, udah setengah jalan jam kerja di kantornya, ini ku baru gresek grasak di kasur, ngumpulin nyawa sampe bener-bener melek. Dan, it happens every single day. Jadinya apa? Ku gapunya waktu for myself, waktu buat exercise (gaya, kaya yg suka aja), exploring myself. Gak ada banget cuy. siklus hidupnya tidur-bangun-makan-kerja. And repeat and repeat. Karena jam tidurku yang gak bener, ini berpengaruh juga sama asupan makanan ku. Ku jarang sekali makan bener. Entah kenapa waktu kerasanya mepet banget even buat makan. Tapi tenang, ku tak pernah tumbang dan gak turun berat badan juga. Malah makin chubby, entah dari mana ini pipi :(
Wanna know what the worst thing bout being nocturnal? It’s the loneliness you feel. It kills you slowly. Kebayang gak sih, kamu harus jalan sendirian ngelewatin kuburan, gang sempit yang banyak tikus, cowok-cowok gajelas yang main siulin, di tengah malem. Sekali lagi, sendirian. Ya, and it really happened to me. Abis mikir di kantor, ke sana kemari demi ON AIR, udahnya ketika capek, bukan bisa bergaul sama temen-temen, atau ngisi perut dengan jajanan depan kantor, ku harus pasang masker, jaket, sambil jalan secepat kilat berharap selamat sampai kosan. I’ve been thru all the odd things, kek digodain Mas-Mas Grab yang maksa nganterin pulang, ngegepin dua sejoli lagi bercumbu, ataupun papasan sama pekerja malam sesungguhnya (if u know what I mean). Dan ketika laper, jangan harap bisa ngisi perut selain pake angin. Karena depan kantor yang biasanya penuh sama penjaja ini-itu, kini sepi. sesepi-sepinya. Saking sepinya u can even hear the sound of ur cliche sigh. Dan, entah sensitif ku aja, atau emang iya. But, I think, my inner circle turns to smaller semenjak ku dipindah ke malam. Temen-temen hang out kini gapernah ngajakin maen lagi, temen curhat udah jarang ketemu, temen ngegalau udah gapernah tau gosip ini itu lagi. They just go with their lifes. I feel abandoned. I am lonely.
Tapi, tenang. I’m fine, really. Karena ku sedikit demi sedikit menemukan banyak hikmah di balik kesendirian ini (udah macam lagu Dgyta). Salah satunya yang paling kurasakan adalah, seberapa produktif nya aku untuk program. Well, sebagai bawahan, awalnya kerjaanku adalah nungguin para Produser beres bikin naskah, dan ku cuma nunggu diminta buat ke sana kemari buat ngurusin keperluan on air. Namun, kini, di saat anggota program makin dikit, aku semakin produktif buat bikin naskah. Mulanya dari feature (yang emang my favourite), sampai ke berita yang jadi headline. Even politics which I hate and not care at all. Karena keproduktifan ini pula, lama-lama yang tadinya gak aware sama isu-isu sekitar yang lagi hits, sekarang jadi kayak, cari tau lebih banyak, dan berbuat lebih banyak. Iya, salah satu yang perlu disukuri dari program ini adalah, bapak-bapak yang seprogram denganku ini sungguh sungguh sangat baik. Mereka bukan tipe baper kalau ada kesalahan. Atau pun yang terlalu ambisius harus punya program yang perfect. Gak sama sekali, ku bahkan sering mengusulkan ini-itu untuk kebaikan program, dan mereka mau denger. Beda sama dulu, aku bahkan gak berani ngejawab “ah” kalau disuruh (udah kayak ke orang tua). Terus balik lagi ke sepinya kantor ketika malam yang ternyata ada hikmahknya juga. Suasana kantor yang sepi ini beneran bikin otak makin encer coy. Ku yang biasanya cuma bikin 1 naskah lah per hari, kini boost up bisa sampai 3-4 naskah paket berita. Gimana nggak coba ya, ruang kerja kami itu, meja komputer antara satu orang dengan yang lainnya, gak disekat sama apa pun. Jadilah kalau kita ngapa-ngapain itu bisa ketauan banget sama orang di sebelah. Begitu pun kalau kita ngomong. Dan itu, tiap lorong, jaraknya cuma sekitar 1 meter doang.
Kebayang gak sih, kalau itu semua penuh? Mau kerja gimana coba? Sedangkan di sebelah ada yang ngegosip, ada yang curhat galau, ada yang ngomongin berita, atau pun yang teriak-teriak gak jelas ngucapin happy birthday (kalau ada yang ulang taun). Jangan harap deh bisa streaming dram-kor atau Running Man episode terbaru kalau kalian masuk office hour.
Okay, lanjut. Semenjak jadi nocturnal, entah kenapa jadi punya banyak waktu buat mikir (iya mikir doang, produktifnya nggak). Mikir banyak hal. Tentang hidup, jodoh, kebahagiaan, temen dan lain-lain. Mungkin suasana malam emang bikin makin sensitif dan baper. Kujadi mikir kenapa ada siang dan malam, kenapa manusia harus punya jam produktif tertentu, kenapa badan harus dicintai juga kenapa kita butuh ruang sendiri. Beneran deh, lama-lama, aku kayak addict sama suasana malam yang tenang, nyaman dan damai. Aku bahkan mikir, kalau aku dipindah program lagi, atau pun punya kerjaan lain yang kembali ke jam normal, bisa gak ya? Mengingat jam tidurku udah gak teratur.
Ohiya, selain mengubah semua siklus hidupku, being nocturnal juga ngubah perangaiku. Dulu, aku adalah anak yang easy going, kinda girl that will give her nicest smile to everybody she meets, but not now. Iya, kini, karena di malam ketemunya sama orang yang itu-itu aja, which is gaperlu adaptasi dan basa-basi busuk, ku jadi jarang mengasah kemampuan SKSD ku. Duh, sumpah, buat yang ini, ku sangat merasakan dan menyadarinya sendiri. Dulu, kalau diajak kenalan sama orang baru, ku sangat welcome. Bahkan bisa langsung ikrib lebih dari temen lama. Tapi sekarang, jangan harap deh kenalan terus ngobrol banyak sama aku, cause I didn’t do that any more. I just can’t. Seriously, aku lupa caranya basa-basi sama orang baru, gatau caranya behave sama kenalan baru, lupa aja gitu. kayak gagu tiap ketemu orang baru. Tapi, entah kenapa, aku malah merasa… am in peace for being truly myself. Bukannya kemaren2 aku fake, tapi aku ngerasa, dulu I’m living the way the world works, but now the world lives the way I wants. hahaha. I mean, aku kayak bisa aja nunjukin kesukaan aku sama orang, atau pun sebaliknya. Gak ada lagi yang namanya “gaenak” lah, atau apa. That’s why, semenjak being nocturnal, my inner circle has getting smaller and smaller. Tapi, serius, ini adalah perasaan nyaman yang mungkin baru aku sadarin after all this time.
Duh, sebenernya masih banyak yang bisa aku tulis tentang perasaanku menjadi ‘Wanita Malam’. Tapi, udah lah ya. Cukup kayanya bikin menghantui siapa pun yang berniat bekerja di media yang jam kerjanya gak menentu. Jangan deh. Gausah nyari uang segininya. Mending cari suami kaya, jadi ibu arisan sosialita, terus leha-leha di rumah mewah.
Dan, matahari udah mulai tinggi nih, saatnya matiin lampu, peluk Mangda&Kepik, dan boboooooooooooo shyantikkkkk.