Narasi Pagi
Hujan semalam telah reda. Entah bersembunyi dimana, ia tak lagi datang, pun tak menimbulkan sisa. Tanah memang masih basah, namun genangannya telah hilang, kering terpapar sang surya. Bagai hari yang benar-benar berbeda, segalanya berbeda hanya dalam satu malam. Seperti tak ada hujan, aku menyaksikan mentari tengah tersenyum dengan bahagianya.
Namun bencana dalam kepalaku belum juga berubah. Hampir pecah. Satu bagian diriku tak dapat melupakan sisa mimpi buruk yang kulalui di setiapku terlelap. Sementara satu bagian lainnya, tak mampu meyakinkan otakku bahwa hari ini akan baik-baik saja.
Pagi ini berlalu begitu saja. Siang, senja dan malam akan segera tiba. Lantas mimpi buruk akan kembali mendekap raga yang telah terlampau kubuat sedemikian kuat. Pagi ini menandakan hari baru terus datang, meski bagiku, tak ada yang berbeda. Lukaku masih sama. Ia tak hilang, bahkan tak pernah kering, terus terguyur hujan, bahkan tanpa sedikitpun pengampunan.
Kurasa, gelap telah menelanku bulat-bulat.
-Yustiazari | Surabaya, 21 Januari 2019













