via Liviya Kraemer’s Instagram story (June 13, 2022)
seen from United States
seen from Poland

seen from Japan
seen from India
seen from China
seen from Poland
seen from Saudi Arabia
seen from China

seen from Poland
seen from United States
seen from Philippines
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
via Liviya Kraemer’s Instagram story (June 13, 2022)
Very few things are funnier to me than identifying famous actors only by their most obscure and/or embarrassing roles. For example:
Oh my god! It’s The Guy from Spy Kids 3: Game Over!!!
No way! Lane from the ABC Family made-for-tv movie Beauty and the Briefcase?!?
No... no it can’t be... oh my god! It is! It’s James from Pokemon Live! (the Pokemon live-action stage musical)
Dude. DUDE. Lindy AND Will from Beastly?!?
OMG what - it’s one of the girls from that 1997 Commercial Federal Bank advert that was a parody of the song Summer Nights from Grease and coincidentally also had James from Pokemon Live in it!?!
Oh wow, oh my gosh, I can’t believe this... David from The Baby-Sitter’s Club’s TV adaptation, episode 11, ‘Dawn Saves The Trees’?!?!?
I’m dead. I’m literally dead. I can’t believe it. It’s really him.
It’s the guy from that 1986 Cornflakes commercial.
#ZacBraff and #DavidDuchovny
THE LAST KISS (2006)
Kepopuleran sebuah film bisa saya tebak dari banyaknya foto adegan yang beredar di internet atau quotenya. The Last Kiss, baru saya sadari-hampir tidak ada di tumblr, pinterest, atau diperbincangkan dilakangan pecinta film, atau romcom pada umumnya. Sebuah film underrated. FIlm ini merupakan adaptasi atau mungkin lebih tepatnya versi amerika dari film italia berjudul “L’ultimate Bacio” / The Last Kiss tahun 2001 karena scriptwriternya sendiri pun sama, Gabriele Muccino (known for Will Smith’s The Pursuit of Happyness) . Untuk keterangan lebih lanjut mengenai masing-masing film anda bisa membacanya sendiri di wikipedia atau imdb-mereka lebih jago.
Film ini tidak sengaja masuk kedalam perhatian saya setelah melihat intensif mengenai berita Zac Braff yang berpacaran dengan Florence Pugh-banyak dicerca karena perbedaan usia yang cukup banyak yaitu 21 tahun, tapi mungkin Pugh jatuh cinta kepada Braff karena Braff adalah pribadi yang unik yang memiliki spektrum berbeda dalam menjelaskan hal-hal didunia ini. Paling tidak itu yang saya pelajari dari Braff dan film-filmnya- tidak banyak, tidak box office, tapi selalu mengena di hati saya. Saya memiliki kebiasaan untuk mencari trailer film di youtube sebelum akhirnya memutuskan untuk menontonnya atau tidak. Pada saat mencari The Last Kiss, saya langsung mengklik video pertama di hasil pencarian youtube, dan ternyata adalah.......full filmnya hahah karena sudah kadung, yasudah lanjutkan saja.
The Last Kiss ini menceritakan karakter Michael yang diperankan oleh Braff, seorang arsitek berumur tigapuluh sekian memiliki hubungan yang serius dengan pacarnya Jenna (Jacinda Barret). Sudah serius karena mereka sedang menanti anak dikandungan Jenna. Disinilah masalah dimulai. Ingat bahwa kadang jika kehidupan kita terlalu sempurna kita malah merasa aneh, seperti segalanya sudah jelas dan ya sudah itu. Hal tersebut yang menghantui Michael, dia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang salah, keraguan seseorang laki-laki yang akan menanggung tanggung jawab yang besar. Jenna sendiri digambarkan bukan sosok yang pusher, Jenna tidak membicarakan pernikahan bahkan setelah mereka mengetahui bahwa mereka akan memiliki anak. Krisisnya dimulai saat Jenna dan Michael pergi ke pernikahan sahabatnya, disana Michael bertemu Kim (Rachel Bilson) wanita muda yang masih berkuliah dan berbeda sekali dengan Jenna, sedikit wild, sedikit pusher, sedikit menggoda. Ok, saya akan berhenti disitu saja. Sisanya anda tonton sendiri. Hal yang menggelitik untuk saya tulis adalah begitu realnya permasalahan Michael dan sahabat laki-lakinya yaitu tanggung jawab. Bahkan diumur 30an Michael merasa belum siap dan ada sesuatu yang salah dalam hidupnya karena sudah tertata rapi.
Beberapa kali saya mengalami kegagalan hubungan karena ketakutan yang sama menghampiri Michael datang kepada laki-laki yang pada saat itu menjalin hubungan dengan saya, tanggung jawab lebih. Film ini menggambarkan perjuangan empat sahabat laki-laki dengan level tanggung jawab mereka masing-masing. Ada yang muak dengan istri dan anak bayinya karena mereka selalu bertengkar dan hubungan sudah tidak sehat, ada yang tidak bisa move on dengan mantan pacarnya, ada yang senang bergonta ganti pasangan dan mundur pada saat pasangannya sudah mulai mengenalkannya pada orang tua wanita tersebut, dan yang epic adalah Michael-hidup sudah sempurna tetapi masih saja merasa ada yang salah. Bukankan itu kita semua? Jiwa-jiwa yang selalu mencari jawaban atas kegundahan pilihan hidup kita sendiri?
Butuh beberapa hubungan yang gagal, waktu waktu sendiri, hubungan yang hebat untuk menyadari bahwa saya tidak bisa memaksakan sebuah tanggung jawab dalam sebuah hubungan kepada laki-laki, karena sama saja dengan saya, mereka memiliki tuntutan sosial yang dua kali lebih besar dari wanita dan jika laki-laki itu belum merasa yakin maka (sampai kapanpun) dia tidak akan yakin. Michael perlu melalui jalan ekstrem untuk membuktikan bahwa Jenna adalah orang yang dia inginkan, jalan yang dipilih menguji kesetiaan dan akal sehatnya untuk mempertaruhkan apa yang sudah dia miliki.
Pada akhirnya saya pikir, bahwa kita semua membutuhkan gratifikasi atas keyakinan dan jalan yang kita tempuh. Baik membuat hubungan menjadi lebih serius, memilih untuk tinggal dalam sebuah perusahaan, memilih untuk setia atau tidak setia. Pilihan baik dan buruk akan membuat diri kita menjadi versi yang lebih baik, seperti Jenna memberikan waktu berhari-hari untuk Michael tinggal di teras rumah mereka untuk memohon dan merenungi kesalahannya. Seperti kita yang selalu diberikan waktu untuk merenungi setiap pilihan ganda yang kita coret dalam kehidupan kita. Tokoh Michael bukan merupakan tokoh ultra protagonis tapi juga bukan tokoh yang bejat, tapi saya rasa saya bisa melihat gambaran cowo-cowo yang sedang berpikir dikarakter Michael dan teman-temannya. Saya merekomendasikan film ini kepada wanita: agar kita semua memahami bahwa, juga seperti kita, laki-laki memiliki labirin pemikiran dan lapisan-lapisan ego dan kepentingan yang kadang memerlukan waktu untuk mendapatkan jawabannya; kepada laki-laki bahwa: wanita akan selalu menerima anda apa adanya jika anda mau jujur hahaha. Hal lain yang saya suka dari film ini adalah...jeng jeng jeng jeng......SOUNDTRACKNYA! hahaha film ini mengingatkan saya bahwa Warning Sign merupakan salah satu lagu terbaik dari Coldplay.
Selamat Menonton!
Rating: 8,1/10
He only knew Ben for a day and was in tears because of his diagnosis. I don't pretend to actually watch scrubs but I do own Brendan Fraser's three episodes and I think they are so important psychology wise. Like this is a comedy about the medical profession and it flashes between truth and the imagined outcome in a way the fools the audience because it fools the protagonist. Anyway Brendan's three episodes make me cry every time I watch them. Every time.
Scrubs S07E04
Wish I Was Here (2014) dir. Zac Braff
Well the wisdom that came up for me was that, the things left unsaid, stay with us forever. I wish nothing more than if I could tell my sister how much I loved her and that I always idolized her, but we never said those things. We just weren't like that. Then suddenly one day she's gone. And I have all these things to say, but no one to say them to.