"Ke tempat jauh, tempat yang mungkin belum pernah kamu kunjungi"
"Ya, bahkan di depan rumahmu."
Aku terperangah, kamu dan segala hal yang tidak terduga adalah teman baik yang tidak terpisah. Bahkan tanpa menunggu iyaku kamu menutup begitu saja dan apa tadi katamu? Sedang menuju ke rumahku. Ahh.. rasanya aku ingin sekali memukul kepalamu itu. Namun sepertinya harus ku tahan karena teriakan ibu yang menyuruhku lekas bersiap dan bisa kupastikan kamu pasti sudah bertemu dengan ibuku.
"Kita mau kemana?" Tanyaku setelah kami meninggalkan area rumahku.
"Ke tempat jauh." Singkat dan menyebalkan, dua kata itu memang tak bisa dipisahkan darimu.
"Sejauh kita." Aku diam, malas membalas celotehan abstraknya.
Laki-laki ini entah bagaimana kami bisa menjadi dekat, semua terjadi begitu saja. Dia tidak berasal dari kota ini, setauku saat ini dia juga sudah tidak lagi bekerja disini tapi belakangan aku sering melihatnya mampir di halaman rumahku setiap akhir pekan dan itu menyebalkan. Karena ibu akan selalu menyuruhku untuk mandi, hahhh… kalian pasti tau seberapa menyebalkannya mandi di minggu pagi.
Aku tidak tau sudah seberapa jauh perjalanan kami, karena yang kulakukan hanya menikmati angin dan punggungnya. Aku membiarkannya membawa sendiri perjalanan ini, toh dia juga tak pernah memberi jawab yang jelas atas tanyaku.
"Kamu lelah?" Suaranya mampir di indraku, bersautan dengan suara angin yang berisik.
"Sangat, bukan hanya karena perjalanan ini yang tak kunjung sampai tapi juga dengan segala tanya yang mampir di kepala yang tak kunjung kamu jawab." Tawa renyahnya terdengar, hah… selalu saja begitu.
Laju motornya melambat. Ini pemukiman nelayan, bau asin dan amis mulai terhidu, mungkin setelahnya akan terlihat pantai di depan sana. Apa dia akan membawaku ke pantai? Tanya itu hinggap di kepalaku. Matahari bersinar cukup terik dan arlojiku menunjukkan pukul 12 tepat, lalu menikmati pantai? Sepertinya itu sedikit berlebihan, meski aku sangat menyukai laut.
Motornya berhenti di sebuah rumah panggung yang berjarak tak jauh dari bibir pantai tapi sepertinya perkiraanku sedikit keliru, ini memang benar pantai tapi kenapa tulisan di depannya taman baca?
"MAS OZANN." Pekikan itu terdengar dari dalam rumah panggung, disusul kaki-kaki kecil yang berlari ke arah kami lebih tepatnya ke arah lelaki disampingku.
Baiklah, aku paham. Dia membawaku ke rumah belajar, tapi untuk apa?
"Aku tau kamu rindu main bareng sama anak-anak." bisiknya.
Iya, aku rindu. Tapi tau darimana dia? Lelaki itu tertawa kecil, sepertinya dia bisa membaca pikiranku.
"Kamu semangat sekali menceritakan kenangan itu di perjalanan terakhir kita." Baiklah, sekarang aku mengerti.
"Mas, kakak itu siapa?" Akhirnya ada dari mereka yang menyadari keberadaanku.
"Ohiya, kenalin ini teman mas, kalian bisa panggil Mbak Nara. Kakak ini pengen main sama kalian. Ayukk ajak kakaknya masuk." Anak-anak itu terlihat bersemangat dan menarikku masuk ke dalam rumah panggung.
Matahari kembali ke peraduannya, senja menyapa dengan jingga, aku duduk sendiri di belakang rumah panggung menikmati semilir angin sore. Anak-anak sudah kembali ke rumah mereka masing-masing setelah seharian bermain dan mencoba banyak hal. Lelaki itu? Entahlah apa sedang yang dia lakukan sekarang di depan rumah.
"Jangan melamun." Baru saja terpikir, orangnya sudah muncul saja.
"Darimana?" tanyaku langsung
"Minta kelapa sama si mbah." Dia menunjukkan dua buah kelapa yang sudah siap minum yang salah satunya di berikan padaku.
Dia mengambil duduk di sebelahku dengan meja sebagai pemisahnya. "Jadi gimana hari ini?" tanyanya
"Aku senang, sepertinya rinduku terobati. Terima kasih ya." Ucapku dengan tulus yang dibalasnya dengan anggukan. "Kalau kamu?"
"Aku senang karena kamu senang. Terima kasih ya sudah senang." Aku menatapnya malas. Sudah kubilang, dia dan keabsurd-an adalah teman baik.
"Padahal kita udah kenal lama, tapi aku tetap aja ngak bisa paham sama kamu dan jalan pikiranmu. Aku kira kamu bakal bawa aku nongkrong di pantai tengah hari." Aku tertawa mengingat prasangkaku sepanjang jalan tadi kepadanya.
"Hahaha… memang tidak akan ada yang benar-benar bisa memahami orang lain, Ra. Yang ada adalah mereka yang melapangkan hatinya untuk menerima kehadiran seseorang lengkap dengan karakternya." Aku mengangguk paham.
"Jadi aku sudah kamu terima atau belum, Ra?"
"Sudah mau malam, ayuk pulang."