Mewujudkan Keinginan Orang Lain
Sore itu banyak anak desa yang main ke rumah baca. Biasanya tidak semua anak-anak berniat untuk membaca buku. Ada yang sekadar menyapa, ada yang minta diajarin mengerjakan tugas, ada juga yang ingin bermain dengan teman-temannya yang lain.
Satu anak terlihat asik sekali membaca sebuah buku, “Seru kali nih bacanya.” Sapaku tepat disampingnya.
Dia tersenyum, giginya terlihat. Tampak ia sedang melihat gambar gedung perkotaan dan dilembar sebelahnya terdapat gambar persawahan, desa yang terlihat tenteram didalam buku itu.
“Abang mau pilih mana jika diajak pergi kesuatu tempat dari buku itu?” Tanyaku melihat buku yang ia baca.
“Mau kesini (ia menunjuk gambar gedung), tapi ingin tinggal disini aja (ia tunjuk gambar persawahan).” Jawabnya sambil menatap ke arahku. “Mau main ke tempat kakak” Tambahnya lagi.
Ya, yang dia maksud ‘tempat kakak’ adalah gambar gedung perkotaan itu.
Aku tersenyum, “Iya insyaAllah main kesana.” Balasku menunjuk gambar gedung.
Ia mengernyitkan dahi, “Caranya?”
“Do’a ke Allah, agar abang dan kawan-kawan disini bisa main-main ke tempat kakak.”
Ia hanya terdiam. Bibir yang tadinya tersenyum, sekarang tampak seperti garis lurus layaknya orang-orang berpikir. “Iya kak berarti kami harus rajin sholat ya berdo’a ke Allah.” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum, menganggukkan ucapannya itu.
Aku terpikir bahwa, jika aku bisa melakukan segalanya, maka apa pun yang diinginkan oleh orang-orang disekelilingku akan aku penuhi. Ingin sekali rasanya mewujudkan keinginan orang-orang terdekat. Namun aku sadar, tugas sebagai manusia tidak sepenuhnya begitu. Sungguh mulia ketika kita memiliki niat membahagiakan orang lain, tetapi untuk mewujudkan keinginan mereka bukan lah tugas utama kita. Kita merupakan perantara , sebab yang mewujudkannya adalah Allaah, atas kehendak-Nya.













