“Aku ingin melihat Tuhan di dalam kamu, membuatku memuji Tuhan di tiap kali kamu tersenyum.”
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Australia
seen from China
seen from Australia

seen from China
seen from Ukraine

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Romania
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Ukraine

seen from Russia

seen from Germany
seen from Italy

seen from China
seen from Ukraine
seen from China
“Aku ingin melihat Tuhan di dalam kamu, membuatku memuji Tuhan di tiap kali kamu tersenyum.”
Sekarangku
Aku sering ada di malam-malam yang sepi,
namun yang sekarang lain. Menyimak suara jam dinding. Hening yang syahdu. Ku duduk di sofa yang barangkali ingat sesuatu,
tapi merahasiakannya.
Ku ditemani bantal-bantal kecil yang bisu,
atau jangan-jangan pura-pura mati.
Menahan tawa. Selucu ini diri mengenang. Betapa ragu itu terulang. Lagi.
Perlukah mengeluh?
Heran.
Bahagia datangnya terlalu tiba-tiba.
Demikian pula luka.
Aku bosan berperasaan. Aku lelah berkekurangan. Aku ingin selalu melayang. Aku benci sekali pulang. Sekarang. Sekarang di mana engkau, hai Sekarangku? Di kegelapan mencari tenang. Memberi kepuasaan. Melukai kemudian. Ada perih yang selalu kambuh di setiap kusendirian. Pelukanmu dalam ingatan. Ada cinta yang kubuat tak berkesudahan. Itu kekasihku, yang cuma dalam tulisan.
SEMOGA TIDAK KAMU LAGI
Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia
Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia
Melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu
Itu menyakitkan,
seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar
Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk
Supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan
Sehingga doa dapat melahirkan semangat
Dan kemudian buatku bangkit
Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu
Ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku
Dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku
Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku
Itu karena aku mampu terima kamu apa adanya
Aku meminta ampun kepada Tuhan
Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat
Ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu
Aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi
Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin
Aku harus menjadi paku
Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya
Memukul aku,
memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.
Pada akhirnya,
semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat
Sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas
Semoga tidak kamu lagi...
Bercermin
Ia adalah refleksi dari cinta
Rasa yang hidup dan mematikan
Dan mencintainya seperti bercermin
Namun dari matanya aku melihat ke kuranganku itu menjadi berharga
Pada Kenyataannya.
Kau membasuh keringat di dahiku, kau memberikan aku semangat. Kau memberikan peluk yang hangat, kau mengerti benar air mataku. Kau menanyakan isi perutku, kau mengajakku makan, dan sesekali kau menyuapiku dengan tawa kecil yang bisa segera aku rindukan. Kau mengantarkanku pulang, kau menemuiku di tengah-tengah keramaian. Kau membuatku tetap tersenyum dan bertahan, sekalipun siang sudah berganti malam. Pada kenyataannya kau tidak mencintaiku, kau hanya seorang penyayang.
- Zarry Hendrik.
Perhentian
Perhentian kita adalah karena sadar bahwa di ujung sana adalah kebuntuan. Ini bukan keputusan yang bodoh, tetapi keputusan yang sulit. Memang tidaklah mudah untuk berjalan mundur sambil menangisi keadaan, lalu dengan secepat kilat mengangkat dagu dan menatap hidup baru tanpa hadirmu. Akan tetapi palu sudah diketuk, air mata yang jatuh juga tidak mungkin kembali ketempat asalnya. Kita tidak lagi satu, di mata mereka.
Lihatlah sekarang perbuatanku!
Sekarang kau menangisinya dengan rasa sakit yang mendalam, seakan aku telah mempermalukan dirimu di depan banyak orang.
Demi Tuhan, mengambil keputusan ini adalah bukan tanpa air mata dan kepedihan.
Jadi jangan siksa aku dengan tuduhan yang bertubi-tubi, karena sekarang aku menjadi mudah sekali mati. Ketahuilah, aku merangkak dan meminta maaf.
Jadi untuk cinta dan kebaikan yang mungkin bakal dianggap klise, di dalam kesedihan yang mendalam sekarang aku melepasmu.
Karena tidak mungkin aku menunggu kamu, si manja yang pemberani, yang enggan berani memulai penderitaan ini.
Sayang, kamu adalah milik-Nya, bukan milikku.
- Zarry Hendrik.
Aku suka melihat kamu tersenyum. Tapi kamu lebih suka tersenyum tanpa aku.
Zarry Hendrik