Ramadanans #3 | Santun(an)
dari Ramadan ke Ramadan beberapa tahun belakangan, saya invest waktu dan tenaga sebagai volunteer amil ziswaf sambil mengaplikasi kata orang-orang, “berharap kok sama manusia”.
Ramadan 1442 H. saya mengajukan beberapa tetangga yatim sebagai penerima manfaat program. beberapa waktu lalu saya diantar ibuk menyampaikan amanah donatur. kata ibuk, kami mau ke rumah temannya yang kader posyandu. suaminya baru mangkat karena kecelakaan, meninggalkan istri dan seorang anak yang lagi gemas-gemasnya, lagi di usia emasnya.
sejujurnya, saya jadi nggak expect bisa memenuhi kebutuhan dokumentasi untuk laporan. saya kira dukanya masih basah. maunya titip ibuk aja yang kasih malah, saya mah ga usah.
and so true. adik kecil kita ini, kawan, masih berkabung. ia jadi saangat pemalu, manja, dan aleman kalau istilah di Jogja mah; nggak mau turun dari gendongan, nggak mau salim, nggak mau diajak ngobrol. kamera tentu saya simpan, kali ini saya bebastugaskan.
setelah basa-basi ala orang dewasa, kami menyampaikan maksud dan saling bertukar doa. harapan-harapan diutarakan, air mata ditahan, terima kasih dilisankan. terasa erat tangan dijabat, seperti ada yang menjalar darinya dan merambati tubuh. kepedihan yang magis.
kami pun pamit. saya dan ibuk berpisah di simpangan, saya ke kantor, ibuk ke pasar.
sorenya, ibuk mengirimi saya gambar yang......
“dalam suatu riwayat dikatakan, ‘aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,’ kemudian beliau SAW mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan keduanya.” – HR. Bukhari
“orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” – QS. Al Baqarah : 262
lalu membayangkan Rasulullah bilang ini,
“apa maksudmu begini? mengaku menyantuni tapi tingkah lakumu tak santun? ingin dekat denganku seperti dua jari ini tapi menyakiti perasaan mereka?”
melihatnya, saya patah hati. meskipun kepulangan adalah pasti, tapi, adrenokortikotropik membuat hati sesak, mata berair, dan hidung berlendir. saya menyesali hal yang tidak saya ketahui, saya khawatir ada tutur dan laku yang melukai..
yaa Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang aku katakan dan lakukan. ampunilah aku atas apa yang tidak aku ketahui..
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
“yaa Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya dan di dalam lisanku (juga) cahaya. jadikanlah di dalam pendengaranku cahaya dan di dalam penglihatanku (juga) cahaya. jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku (juga) cahaya. jadikanlan dari atasku cahaya dan dari bawahku (juga) cahaya. ya Allah, berilah aku cahaya.” – HR. Bukhari dan Muslim