Jurnal Hexagonia-13
Saat menulis ini, aku sedang mendorong trolley belanja di Supermarket Yogya. Ponsel di tangan kanan, trolley di kanan kiri, Muhammad di dalam trolley, pun belanjaan. What a busy! No, I don’t want to be busy, just be productive, hehe.
Pekan ini, Hexagonia masih berkutat di Growth Zone. Namun, kali ini kami mendapat materi yang berbeda: Six Thinking Hats. Rasa-rasanya aku ingat materi ini pernah disampaikan oleh Mba Vasthi saat mengambil materi Creative Thinking semasa kuliah dulu. Dan tugasnya pun juga sama. Menggunakan creative hats ini dalam project passion yang dibuat. Oh, so nostalgic! Miss being a college stu again!
Intinya, ada enam warna topi yang mengasah pemikiran kita: biru, putih, hijau, kuning, hitam dan merah. Masing-masing warna topi memiliki karakteristiknya masing-masing. Gagasan ini dipopulerkan oleh Edward de Bono di tahun 1985. Topi putih misalnya, sama seperti warnanya yang bersifat netral, hanya menyediakan fakta dan data. Topi merah untuk melihat kegiatan secara emosi atau intuisi, atau topi hijau untuk mewakili sisi kreatif. Saya lupa bentuk persis tugasnya seperti apa di masa kuliah dulu, yang jelas saya juga suka dengan materi ini.
Untuk mengerjakan tugas ini, co-housing kami melakukan zoom meeting. Kami mengidentifikasi segala fakta, masalah, emosi, kegelisahan, serta obrolan seputar Hexagon City. Ritme jurnal memang agak sedikit meredup tapi bukan berarti menutup. Semangat kami tentu saja tetap membara! Setelah lebih dari satu jam membahas tentang isi dari topi-topi ini, kami bertanya satu sama lain apakah akan istirahat sejenak atau lanjut ke Bunda Shalehah? Hmm.. Akupun masih ragu. Bunda Shalehah terdengar menantang dan aku suka tantangan. Tapi, aku agak sedikit takut jika jadwal berantakan. Apalagi setelah protes suami dan anak-anak kemarin, aku mulai mengurangi kegiatanku di depan laptop. Atau mungkin aku harus istikharah dulu, untuk menemukan pilihanku selanjutnya.









