Perjalanan PDKT FISIP UI 2014 ke Taman Baca Bulian
Oleh TITI HK – NOVIANA BU
Jika memperhatikan Indonesia, banyak sekali mimpi yang ingin dicapai demi kesejahteraan bangsa. Mimpi-mimpi itu telah diperjuangkan sejak dahulu oleh para pahlawan nasional atas penjajahan yang dilakukan negeri barat untuk menguasai kekayaan serta keindahan bumi pertiwi ini. Mereka berjuang tumpah darah demi kemerdekaan bangsa. Namun, perjuangan ini seolah hanya bertahan hingga di situ saja ketika kita melihat keadaan Indonesia sekarang yang jauh dari pencapaian harapan yang diimpikan.
Indonesia ini kaya, tapi mengapa mimpi itu tidak pernah terwujud? Aspek yang harus dibenahi seakan-akan tak ada habisnya. Berbicara tentang problematika yang dimiliki Indonesia mungkin butuh waktu yang panjang untuk merunutkannya. Apalagi ketika kita berbicara tentang keadaan negara lain lalu disandingkan dengan keadaan Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, Indonesia sangat ketinggalan dari beberapa negara di ASEAN.
Bisa dilihat bahwa akar permasalahan ini sebenarnya muncul dari para penggerak yang ada di dalamnya. Penggerak itu berasal dari seluruh khalayak bangsa Indonesia. Sebenarnya, hal itu merupakan paradoks untuk menyebunya sebagai “penggerak” melihat kenyataan yang selama ini terjadi. Kenyataan ini memang sangat miris melihat kondisi yang ada di Indonesia. Mulai dari aspek lingkungan, pembangunan, bahkan pendidikan yang merupakan tonggak dari kemajuan bangsa dan negara belum mencapai targetnya. Bagaimana ingin membangun Indonesia, jika para generasinya saja tidak mendapatkan pendidikan dan pengajaran untuk membenahi negara ini? Sangat menyedihkan, bukan?
“Indonesia sedang tidak baik-baik saja.”
Kata-kata yang diungkapkan oleh Kak Bara, Ketua BEM FISIP UI 2014, menyadarkan sekaligus menampar kami, PDKT FISIP UI 2014. Dari sanalah semua cerita ini dimulai. Memaknai kalimat tersebut, tersadar kami akan problematika yang dihadapi Indonesia. Negara ini harus diperjuangkan lagi akan harapan dan mimpinya melalui para generasi bangsa. Nyatanya, kami merupakan bagian dari generasi yang akan meneruskan perjuangan pahlawan terdahulu. Kami sebagai generasi bangsa harus mengeluarkan Indonesia dari belenggu masalah tersebut demi pencapaian sila ke-5 Pancasila, kesejahteraan yang adil dan beradab.
Seperti kutipan dari Harriet Tubman, “Every great dream begins with a dreamer”, mimpi tanpa gerakan itu sama artinya tidak melakukan apa-apa. Kami adalah pemimpi sekaligus penggerak sebagai generasi muda bangsa Indonesia. Dengan berbagai variasi mimpi dan harapan, kami, PDKT FISIP UI 2014, bersama membangun sebuah visi dan misi sebagai tantangan kami. Empat puluh anggota pun merundingkan visi dan misi yang harus kami bawakan sebagai perwujudan nyata sebagai generasi muda. Kami pun memutuskan visi kami, yaitu menjadi keluarga penggerak dan misi kami adalah pengabdian masyarakat dalam bidang pendidikan.
Perwujudan visi dan misi ini tentunya memakan waktu yang tak singkat. Banyak pilihan yang harus kami pertimbangkan. Ide yang bervariasi muncul sebagai perwujudan pengabdian masyarakat di Indonesia. Pertempuan tiap pertemuan kami lalui, hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk bekerja sama dengan salah satu senior PDKT FISIP UI 2012, Kak Dinda Larasati. Sebelumnya, beliau pernah memberikan sebuah sesi talkshow pada pelatihan kami tentang Taman Baca Bulian yang beliau bangun bersama kedua temannya. Di sana pun kami mulai berpikir bahwa Taman Baca Bullian sesuai dengan visi dan misi yang kami bawakan.
Sejak saat itu, kami mulai menyusun pembagian tugas kegiatan per orang. Dipimpin oleh Dewi Indriana (Dede) sebagai Project Officer kegiatan ini, kami menyusun rencana A, B, C, dan sebagainya yang berakar dari ide-ide para anggota. Kami juga gencar menghubungi Kak Dinda selaku stakeholder yang akan bekerja sama dengan kami. Syukurlah, kesan pertama yang kami peroleh dari Kak Dinda sangat menggembirakan. Beliau malah sangat terbuka ketika kami ingin mengajak kerja sama dengan Taman Baca Bulian. Akhirnya, kami pun mendapat saran dan ide dari Kak Dinda tentang apa yang harus kami lakukan dalam pengabdian masyarakat tersebut. Hal-hal yang telah diberikan beliau sangatlah berguna untuk kami sebagai inovasi baru dari pengabdian masyarakat tersebut.
Tanggal 24 Desember, pertama kali kami menginjakkan kaki ke Taman Baca Bulian. Kami bertemu dengan Kak Tofan, Ketua Taman Baca Bulian. Saat itu, kami berbincang dengan Kak Tofan tentang awal mula Taman Baca Bulian dibangun, keadaan yang sering terjadi disana, dan yang paling penting dari target kami ialah anak-anak yang sering berkunjung ke Taman Baca Bulian. Mendengar cerita Kak Tofan, kami sangat tertarik dan tidak sabar untuk melakukan kegiatan yang akan kami wujudkan di Taman Baca Bulian bersama anak-anak di sana.
Setelah mendapat informasi dari Kak Tofan, kami mulai merancang kegiatan yang akan kami kami laksanakan. Kami melakukannya selama kurang lebih 1 bulan. Tentunya tidaklah mudah untuk mengkreasikan sebuah ide yang besar tanpa keterlibatan kami, anggota PDKT 2014. Hal penting yang harus dilakukan adalah meneliti keadaan di lapangan. Di sana kami mengamati lalu menganalisis dengan informasi yang telah kami dapatkan. Anak-anak berusia 5-10 tahun sebagai variabel dalam pengamatan ini. Sebenarnya, terlalu berat untuk menyebutkan ini sebagai penelitian, tetapi apa yang kami lakukan secara harfiah ialah menganalisis yang diperlukan oleh anak-anak seusia itu. Hasil dari analisis ini pun menambah variasi ide yang kami dapatkan. Di saat itu kami seakan-akan berhenti bagaimana mengambil sebuah keputusan dengan cost dan demand yang seimbang. Namun, kami tidak berhenti sampai di situ saja. Kami ingat akan visi dan misi yang kami bawakan, sehingga kami refleksikan visi dan misi tersebut ke dalam sebuah ide. Ide yang kami bawakan ini mungkin umum, tetapi karena umum inilah sehingga tidak mendapatkan perhatian oleh masyarakat Indonesia.
Membaca adalah salah satu kegiatan yang sangat penting guna menambah wawasan dan pengetahuan manusia. Kegiatan membaca sebaiknya diajarkan dan dibiasakan sejak dini oleh orang tua kepada anak-anak mereka agar Indonesia memiliki generasi yang cerdas dan berwawasan tinggi. Namun, kenyataannya berbeda, minat baca anak usia sekolah Indonesia terbilang rendah. Bahkan lembaga pendidikan dunia (UNESCO) menetapkan anak-anak Indonesia usia sekolah mengalami tragedi “nol buku”, artinya tidak ada buku yang dibaca oleh rata-rata anak sekolah usia 6-18 tahun selama setahun. Hal tersebut menandakan bahwa Indonesia memiliki generasi muda yang krisis akan minat baca. Padahal dengan membaca, wawasan dan pengetahuan anak tentang dunia luar semakin bertambah.
Semakin banyaknya wawasan dan pengetahuan yang dimiliki seorang anak akan mendorongnya menghasilkan karya yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Semakin sering seorang anak menulis sejak dini, maka semakin besar potensi anak tersebut untuk menghasilkan sebuah karya. Namun, data dari Scimagojr, Journal and Country Rank tahun 2011 menunjukkan selama kurun 1996–2010 Indonesia telah memiliki 13.047 jurnal ilmiah, dari 236 negara yang diranking Indonesia berada di posisi ke-64, sedangkan Malaysia dan Thailand memiliki lebih dari 50.000 jurnal ilmiah. Hal ini membuktikan bahwa minat menulis masyarakat Indonesia masih rendah. Oleh sebab itu, minat untuk menulis harus dibiasakan sejak dini oleh orang tua kepada anak mereka.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, kami dari PDKT FISIP UI 2014 ingin membantu menanamkan minat membaca dan menulis kepada anak-anak, khususnya pengunjung Taman Baca Bulian sejak dini. Selain membaca dan menulis, kami juga mencoba memperkenalkan nilai-nilai sosial dan politik yang terkandung dalam kegiatan keseharian mereka. Hal ini bertujuan untuk mengasah dan meningkatkan kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar. Dalam kesempatan ini, kami pun berusaha memperkenalkan profesi-profesi yang dapat dicapai oleh mereka kelak yang berhubungan dengan dunia sosial.
Kegiatan ini dimulai dengan pertemuan mingguan yang akan berlangsung selama empat minggu. Setiap hari Jumat dalam seminggu kami berkunjung ke Taman Baca Bulian dengan membawakan tema yang berbeda-beda. Minggu pertama, tanggal 28 Februari 2015 kami membawakan tema “Keluarga dan Budaya” yang diambil dari nilai sosiologi dan antropologi. Untuk menambah ketertarikan anak terhadap acara ini, panitia membuat sebuah cerita pendek yang disusun oleh tim kurikulum. Judul dari cerita ini adalah “Pace dan Lima Sekawan”. Cerita ini menceritakan lima kumpulan anak dengan latar belakang suku yang berbeda ditambah seorang lagi, yaitu Pace yang berasal dari Papua. Ia memiliki ciri fisik yang berbeda dengan teman-teman lain sehingga ia diolok-olok di kelas. Namun, Pace adalah anak yang baik, terbukti ketika lima sekawan ini mendapat masalah, Pace dengan ikhlas membantu mereka. Lewat cerita ini panitia berharap anak-anak dapat mengambil nilai kekeluargaan tanpa membeda-bedakan antara sesama.
Acara minggu ke-2 dilaksanakan pada hari Jumat, 6 Maret 2015 dengan tema “Interaksi Keluar dan ke Dalam” yang mengambil nilai disiplin ilmu komunikasi dan administrasi. Seperti minggu sebelumnya, panitia merancang sebuah cerita yang menarik agar tema yang kita bawa pada setiap minggu dapat tersampaikan keppada anak-anak. Judul cerita minggu ke-2 adalah “Dadang: Disiplin dan Sopan Santun Itu Baik”. Cerita ini menceritakan kehidupan seorang siswa bernama Dadang yang selalu terlambat masuk sekolah sehingga merepotkan Ibunya. Suatu hari Dadang terlambat bangun sehingga ia buru-buru berangkat dari sekolahnya. Saat di jalan ia tidak sengaja menabrak mobil seseorang sehingga membuat pemilik mobil tersebut marah dan menuntut ganti rugi kepada keluarga Dadang. Akhirnya pemilik mobil membawa Dadang menuju rumahnya dan menceritakan semua yang terjadi kepada ayah dan ibu Dadang. Mendengar cerita itu ayah dan ibu dadang menasihati Dadang dan memberi hukuman kepadanya dengan memotong uang saku dadang sebagai bentuk dari tanggung jawab atas perbuatan Dadang. Lewat cerita ini, panitia berharap anak-anak akan lebih bertanggung jawab dengan yang telah mereka perbuat serta membiasakan diri bersikap disiplin dan menghargai waktu dalam melakukan aktivitas mereka.
Acara minggu ke-3 dilaksanakan pada hari yang sama, yaitu Jumat, 13 Maret 2015 dengan membawa tema “Baik dan Buruk” yang mengambil nilai dari disiplin ilmu kesejahterahan sosial dan kriminologi. Kembali lagi disini panitia membuat sebuah cerita yang berjudul “Saling Membantu dalam Kebaikan”. Cerita ini berisi dua orang anak yang tidak mau belajar ketika ada ujian dan hanya mengandalkan bantuan teman yang lain untuk mencontek. Namun, saat ujian berlangsung, aksi mereka diketahui oleh guru mata pelajaran tersebut sehingga mereka dimarahi. Akhirnya, mereka mengaku bersalah dan meminta maaf kepada teman yang mereka paksa untuk memberi contekan. Melalui cerita ini, anak-anak diharapkan mengerti bahwa kebiasaan mencontek dan bergantung kepada orang lain itu tidak baik, sedangkan berusaha dengan kemampuan sendiri itu ialah hal yang baik.
Acara mingguan terakhir, yaitu acara minggu ke-4 dilaksanakan pada hari Jumat, 20 Maret 2015 dengan tema “Presiden dan Negara-Negara di Dunia” yang mengambil nilai dari disiplin ilmu politik dan hubungan internasional. Cerita kali ini berjudul “Kita dan Cita-Cita”. Cerita ini mengisahkan sekumpulan anak dalam sebuah kelas yang menyuarakan keinginan mereka di masa depan, dibimbing oleh seorang guru yang mengayomi serta menjawab setiap pertanyaan yang anak-anak tanyakan. Cita-cita dari setiap anak-anak tersebut berbeda-beda, ada yang ingin menjadi seorang presiden, koki, juragan bajaj, dan sebagainya. Namun, dari semua hal yang dilontarkan para siswa tersebut mereka semua berkeinginan memperbaiki keadaan Indonesia melalui cita-cita mereka. Dalam cerita ini, panitia berharap bahwa anak-anak akan memperoleh gambaran dari cita-cita mereka atau keinginan mereka di masa depan. Sesi ini ditutup dengan pemberian kertas kepada anak-anak yang akan mereka gunakan untuk menulis cita-cita mereka. Setelah mereka menulis cita-cita mereka di masa depan, terdapat sesi menceritakan kembali secara acak mengenai cita-cita yang telah mereka tulis. Setiap anak yang mau berdiri dan menceritakan cita-cita dari kertas yang telah mereka pilih akan mendapatkan hadiah berupa permen dan makanan ringan.
Setelah acara mingguan selesai, maka acara terakhir yang kami agendakan adalah acara puncak. Acara puncak merupakan akhir dari rangkaian acara “Kado Goes to Bulian 2015”. Acara ini dikemas secara menarik dengan me-review cerita-cerita yang dibawakan disetiap minggunya. Acara puncak dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Maret 2015 bertempat di Taman Baca Bullian. Sebelum acara ini dilaksanakan, panitia telah melakukan sosialisasi kepada anak-anak pengunjung Taman Baca Bullian dan warga yang tinggal di sekitar Taman Baca Bullian. Ketika hari pelaksanaan acara, panitia telah berkumpul di Taman Baca Bulian sejak pukul 09:00 WIB dengan agenda mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam acara. Acara ini dimulai pukul 13.00 WIB. Namun, ternyata antusias anak-anak melebihi ekspetasi kami sebab mereka sudah datang sejak pukul 11.00 WIB. Acara dibuka dengan sambutan meriah oleh MC, dilanjutkan dengan permainan ringan untuk memberi kesan menarik kepada anak-anak. Seperti yang telah dikatakan di atas, akan ada mata acara cerita-cerita di setiap minggu akan diceritakan kembali melalui sebuah adegan. Adegan tersebut diperankan oleh anggota KADO PDKT FISIP UI 2015. Anak-anak terlihat antusias dalam mengikuti setiap adegan yang diperankan oleh para pemain. Setelah acara penampilan ini selesai, diadakan sesi tanya jawab, anak-anak dituntut untuk mengingat kembali nilai apa saja yang dapat mereka ambil dari penampilan tersebut. Untuk anak yang berani menjawab diberi hadiah berupa makanan ringan. Setelah sesi ini selesai, anak-anak diajak menulis kesan-kesan atau harapan mereka di sebuah kertas yang berbentuk daun yang selanjutnya akan ditempel di sebuah gambar pohon yang kami sebut “Pohon Harapan”. Acara puncak ini ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada anak-anak, yaitu camilan dan stiker yang didesain khusus oleh panitia. Walaupun ada kendala hujan, acara ini dapat selesai pada pukul 16:00 WIB. Setelah anak-anak pulang, panitia KADO PDKT FISIP UI 2015 beserta anggota PDKT lain dan para senior yang datang mengadakan evaluasi kerja. Di sini hadir pula Kak Tofan yang telah menemani serta mendukung penuh acara ini dari awal hingga akhir. Acara ini resmi selesai pada pukul 17:00 WIB dengan hasil yang memuaskan.
Dalam melaksanakan acara ini panitia juga selalu melakukan evaluasi setelah acara dilakukan, serta mengadakan briefing setiap kegiatan akan dilakukan. Dalam perjalanannya, panitia sering menemukan kelemahan atau kesalahan yang berasal dari diri panitia sendiri, tetapi untuk setiap kesalahan yang terjadi akan ada solusi yang diputuskan secara bersama.
Banyak pengalaman menarik yang dapat kami peroleh dari kegiatan ini, salah satunya adalah bertanggung jawab atas yang kita mulai. Walaupun kesibukan selalu menjadi masalah utama bagi anggota KADO PDKT FISIP UI 2014, tetapi didasari tanggung jawab yang besar maka kami mampu melaksanakan salah satu program kerja yang telah kami rancang. Dalam kegiatan ini pula kami belajar arti kontribusi secara nyata kepada masyarakat serta Indonesia. Walaupun kontribusi yang kami lakukan masih sangatlah kecil, tetapi kami sudah bergerak. Kami sudah memulai suatu hal kecil dan kami berharap hal kecil tersebut mampu memberi dampak yang berarti bagi mereka yang merasakannya. Kami juga berharap bahwa ini adalah awal serta pembelajaran bagi kami untuk siap melakukan hal besar yang mampu membawa perubahan berarti bagi masyarakat Indonesia.