Skinny Love
I don’t need words. Your eyes tell it all. Thousand hours later, and she’s still the one that can flip you. Turn your world upside down. Make your heart beating faster.
Not me. Or our skinny love.
Claire Keane

No title available

❣ Chile in a Photography ❣
I'd rather be in outer space 🛸
dirt enthusiast
we're not kids anymore.

pixel skylines
almost home
No title available

shark vs the universe

No title available
TVSTRANGERTHINGS
taylor price
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Today's Document
i don't do bad sauce passes
d e v o n
Cosmic Funnies
$LAYYYTER

★
seen from T1
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Spain

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from T1

seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Belarus

seen from Türkiye
@tarazhafira
Skinny Love
I don’t need words. Your eyes tell it all. Thousand hours later, and she’s still the one that can flip you. Turn your world upside down. Make your heart beating faster.
Not me. Or our skinny love.
i am the kind of person who says hi to dogs
Happy Birthday, Uda
Uda sayang,
Apa kabar, birthday guy? Semoga selalu baik ya, Da.
Da, Rara belum bisa memberikan hadiah secara langsung untuk Uda. Karena Rara (mengaku sebagai) penulis dan Uda selalu encourage Rara untuk kembali menulis, I think it’s nice to write you a letter. I hope it’s okay for you.
Well, shall we?
Da,
Kita tentunya sepakat bahwa dua puluh delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu Uda hidup, selama itu pula Uda bertumbuh. Dari bayi hingga saat ini. Dari saat Uda hanya bisa berbaring, hingga saat Uda sudah bisa berdiri dan berlari. Dari saat Uda harus dibantu untuk mandi, sampai Uda sudah mampu mandiri.
Dari 28 tahun itu, belum lama Rara kenal Uda. Tapi Rara bisa membayangkan, betapa bahagianya orang tua Uda saat Uda dilahirkan. Dan betapa lebih bahagianya orang tua Uda, saat melihat putranya tumbuh dewasa menjadi orang yang baik.
Da, katanya, setiap orang yang kita temui di hidup ini membawa pelajaran untuk kita. Bagi Rara, Uda pun demikian. Banyak hal yang Uda ajarkan pada Rara. Satu di antaranya adalah menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Sebelum kenal Uda, belum pernah Rara bertemu dengan orang yang memiliki cinta begitu besar untuk orang tuanya. No parents are perfect, yet you taught me how to love them unconditionally.
Uda juga mengajarkan Rara, bahwa hidup kadang tidak berjalan sesuai dengan yang kita mau, dan itu bukanlah masalah. Kita diajarkan agar memiliki cita-cita setinggi langit, namun tidak selalu diajarkan bagaimana harus bersikap saat kita belum mampu melesat sampai ke sana. Uda mengajarkan Rara pentingnya bersyukur, bersabar dalam kesulitan, serta menunjukkan bahwa menerima keadaan tidak sama dengan menyerah. Rara tahu cerita Uda. Rara mengerti perjuangan Uda untuk sampai pada saat ini. I can only imagine your struggle. How hard you must hit the floor, just to be bounced higher. But you know what? That’s what I adore from you. That’s why I fell for you in the first place. You have survived huge storm(s), and I believe you will make a good captain for a ship.
Or should I pray, our ship? *wink*
Uda, terima kasih telah mengajarkan banyak hal pada Rara. Mungkin Uda tidak menyadari, kapan Uda mengajarkan hal-hal itu. But, believe me, you did. And I am thankful for that. I am grateful that I met you.
Da,
Hari ulang tahun adalah waktu yang tepat untuk kita melihat ke belakang. Menghitung seberapa jauh kita sudah berjalan, dan menyiapkan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan. Semoga sepucuk hadiah sederhana ini dapat mengingatkan Uda, bahwa Uda adalah orang yang hebat. You already are great and inspiring, but we should strive to be better every time, don’t we?
Semoga Uda selalu bersemangat menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih baik lagi, dan selalu diberkahi Allah dalam setiap langkah Uda.
I pray for every best thing in the world for you.
Da,
Thank you for always ‘pushing’ me to write (lol). I said something earlier that sadness is my main inspiration to write. I write usually because I am sad. But hey, today I am willing to make an exception. I write because I am happy.
I am happy because of you, and I am happy for you.
Selamat ulang tahun, Uda sayang.
Rara.
An apple a day keeps the doctor away; but if the doctor’s cute, forget the fruit!
Included in a description of a story I read today (via samsilly12345)
Rebloging my own post cause @cranquis actually wanted to see it! EEEE!
(via samsilly12345)
When she is happy she can’t stop talking. When she is sad she doesn’t say a word.
Ann Brashares (via onlinecounsellingcollege)
I needed this.
This just changed my approach to suicidal patients, permanently.
(Original post here. Dated 26 Jan, 2013. Thanks to reader @mursejesse for the heads-up!)
Heei. May i know you??
Yeah. Who's this?
How would your life be different if…you stopped allowing other people to dilute or poison your day with their words or opinions?
Steve Maraboli (via onlinecounsellingcollege)
Perempuan di Ujung Senja
Senja kali ini, kau kembali ke sini. Berdiri sendirian menikmati langit yang dihiasi semburat jingga. Tatapmu hampa, seakan menanti kekasihmu turun dari sana. Entah kapan.
Manis—bolehkah ku memanggilmu demikian?
Cinta seakan tak pernah habis dari matamu. Meski sendu tak pula ketinggalan bersemayam di sudut-sudutnya, yang sekali dua larut bersama air mata. Sekali dua, ada biru yang menyaru di situ. Lebam yang kau pelihara atas nama cinta.
***
Manis, sepadankah ia kau tukar dengan masa mudamu?
Dengan senyum yang perlahan pudar dari wajahmu?
Dengan tawa yang tak lagi jadi karibmu?
Sepadankah ia kau tukar dengan senjamu yang kian sunyi?
***
Manis, air matamu kembali jatuh. Meriak di pipimu yang keriput. Tenggelam dibawa ombak yang mulai pasang, bersama buih yang kian menjauh. Begitu pula kau.
Berjalan menuju cakrawala, ke pelukan banyu yang memantulkan jingga.
Ke pelukan senjamu yang kini bisu.
Ditulis untuk proyek @PosCinta #30HariMenulisSuratCinta
Hari Ke-11
Your destiny isn’t tied to the people who walked away.
Joel Osteen (via onlinecounsellingcollege)
A Love Letter to The Fighters
Selamat pagi, para pejuang
Beberapa bulan yang lalu, aku diberi kesempatan untuk bertemu denganmu. Kita mungkin sempat bercakap-cakap, bertukar senyum, atau hanya berpapasan di lorong rumah sakit. Aku masih pakai jas lab dan baju jaga warna abu-abu, dan kau memanggilku dengan banyak nama: dok, sus, teh, bu.
Kau pun tampak beragam. Satu di antara kau terlihat serupa dengan orang sehat, sementara satu lainnya terbaring lemah. Beberapa hanya dapat terpejam menahan nyeri, beberapa lainnya bisa berlarian di lorong bangsal—biasanya anak-anak, yang masih bisa bermain dan tertawa meski rambutnya sudah rontok dimakan kemoterapi. Keadaanmu berbeda satu sama lain, namun aku menemukan satu hal yang serupa: kau sama-sama sedang berjuang. Meskipun hasil pemeriksaanmu tak cukup bagus, dan statistik tak berpihak padamu.
Sering aku berpikir, berapa banyak waktu yang kau dan keluargamu perlukan untuk akhirnya menerima keadaan. Tentu terdapat penolakan, kemarahan, dan depresi sebelumnya. Hingga kau menerima, hidupmu tak akan sama lagi. Hari-harimu akan banyak dihabiskan di rumah sakit, dengan berbagai macam tes dan tindakan yang harus dijalani, yang sangat mungkin membuatmu bosan setengah mati.
Untuk itu, aku mengagumimu. Kau berada di tempat kita bertemu tentu karena kau ingin memenangkan pertempuran yang sedang menggerogoti tubuhmu pelan-pelan. Barangkali kau tak pernah tahu, tapi aku belajar banyak darimu dan keluargamu. Tentang kesabaran, rasa syukur, dan perjuangan.
Untuk itu, jangan pernah berhenti. Bila lelah, beristirahatlah sekali-sekali. Namun, jangan berhenti. Demi dirimu sendiri dan tubuhmu yang lambat laun mengecil. Demi keluargamu yang tak pernah menyerah. Demi kami yang telah kau berikan motivasi dan inspirasi. Karena, kau tahu, meski perjuangan kita berbeda, kau dan aku berada di medan perang yang sama.
Dan kita sama-sama ingin menang, bukan?
Selamat (bersama-sama) meneruskan perjuangan, para pejuang.
- dr.
Ditulis sebagai bagian dari kampanye World Cancer Day yang diperingati tiap tanggal 4 Februari. Key message tahun ini hingga 2018 adalah “We Can, I Can”.
Take a look at the site and be a part of the campaign!
#30HariMenulisSuratCinta
Hari Ke-5
The best way to get along with people is not to expect them to be like you.
Joyce Meyer (via onlinecounsellingcollege)
Di Kedai Kopi
Inilah menariknya pekerjaan sebagai seorang barista. Kalau sedang tidak bertugas, kau bisa pura-pura jadi detektif dan menebak-nebak karakter orang yang berkunjung di kedai kopimu. Siapa mereka. Siapa yang mereka tunggu. Apa yang mereka kerjakan. Terlihat kurang berfaedah, memang. Yah, namanya juga mengisi waktu.
Sore ini pengunjung tidak terlalu ramai. Pandanganku tertuju pada seorang perempuan yang duduk sendiri di meja kopi dekat jendela. Ia tertegun membaca kertas dalam genggamannya. Usianya mungkin akhir 20-an. Pakaiannya hitam-hitam. Wajahnya manis, tapi jelas ada gurat sedih di situ. Lama-lama, pipinya basah.
Aku jadi penasaran. Apa, ya, yang dia baca?
***
Eliana, sayang,
Saat kau membaca kalimat ini, aku sudah tak berada lagi di dunia yang sama denganmu. Aku sudah tak lagi mengutuki nyeri yang mendera hingga ke sumsum tulangku. I am free as a bird, now. My question is, are you?
Eliana,
Ada banyak yang terjadi setelah kita saling kenal. Tentu tak pernah kusangka, kau akan menjadi orang yang begitu berarti untukku. Seorang perempuan dari kota kecil, dengan keluguannya, menantang ibu kota. Pertama kali aku melihatmu dengan sebelah mata. Dan jujur saja, aku sama sekali tidak terkesan. Dengan rambutmu yang kau kepang dua. Dengan kemejamu yang kebesaran. Dengan rok selututmu yang lebar bermotif bunga-bunga. You looked like you just popped out from the 60s, you know? Kau sama sekali tak terlihat sebagai calon mahasiswa. Sama sekali berbeda dari teman sekolahku selama ini. Namun karena itulah aku ingin mengenalmu.
“Hai. Gue Alamanda. Lo? Maba juga, kan?”
“Iya… Saya Eliana”
Sesederhana itu kita mulai mengenal satu sama lain. Dan sesederhana itu pula kita jadi sahabat.
Kau tahu, Eliana, ribuan kata terima kasih tak akan pernah cukup kusampaikan padamu. Untuk kesediaanmu menjadi pendengar setia semua ceritaku, mulai cerita yang biasa saja hingga yang penuh drama. Untuk kesabaranmu menghadapi semua ulahku, mulai yang wajar saja hingga hampir membuat kita berdua di-drop out. Untuk kerelaanmu menemaniku di saat-saat yang paling menyedihkan buatku: saat ibuku meninggal sampai saat aku divonis menderita limfoma terminal. Untuk semua nasihat bijak yang kau berikan secara cuma-cuma, meski kadang, aku terlalu keras kepala untuk menerimanya. Meski kadang, kau juga sama keras kepalanya dengan diriku.
Tapi, Eliana. Kali ini, dengarkan aku untuk yang terakhir kalinya.
Kau tak pernah cerita, namun memar kebiruan di wajahmu sudah mengatakan semuanya untukku. Ibuku pun memiliki jejas yang serupa bahkan di sekujur tubuhnya. Aku tahu. Aku juga mengerti, kau terlalu takut untuk ditinggalkan. Kau terlalu malu dianggap sebagai korban. Tapi, Eliana, bukankah kau yang bilang padaku, mencintai diri sendiri adalah hal terpenting dalam hidup ini? Bukankah salah, menyakiti dirimu sendiri terus menerus?
Eliana, tinggalkan dia. Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia. Yang tak cepat marah dan menganggapmu samsak tinjunya. Yang menghargaimu selalu, bukan hanya saat ia butuh dipeluk.
Maafkan aku terlalu terus terang padamu. But hey, this is what you said one of the perks of being my friend, right? Semua yang kukatakan padamu, karena aku menyayangimu, Eliana.
So… I guess this is it. This is the time when we have to say goodbye to each other. Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku yakin kau tak akan kesepian, karena kau punya sahabat lain selain aku: dirimu sendiri.
I’m sure you can love yourself more than I love you.
Alamanda
***
Perempuan itu mengusap-usap matanya, tersenyum, kemudian beranjak. Terlihat kopinya masih utuh tak tersentuh. Aku menyerah, tidak mampu menebak siapa dia dan apa yang dia baca sampai ia pergi.
Seorang waiter membereskan mejanya. Saat itulah aku melihat sesuatu yang berkilauan di antara cangkir dengan tatakannya. Itu kan—
“Mbak, mbak! Ini cincinnya ketinggalan!”
Ditulis untuk proyek @PosCinta #30HariMenulisSuratCinta
Hari Ke-4
Untuk Putri Kecil dalam Pangkuan
Putri Kecil Ibu tersayang,
Salam kenal. Saat ini kita belum dipertemukan, tapi aku dapat menjamin bahwa akulah orang yang paling pertama mencintaimu. Sejak kau masih berupa dua garis merah, dan akan terus bertambah hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.
Putri Kecil,
Menimangmu tentu akan menjadi hal terbaik yang kurasakan sebagai seorang ibu. Mengadzanimu tentu akan dilakukan ayahmu dengan penuh haru. Ada harap dan doa yang kami panjatkan sungguh-sungguh untuk putri kecil kami tersayang. Agar kau bertumbuh dan berkembang dengan baik. Agar menjadi perempuan yang pandai, kuat, sekaligus lembut hati. Agar menjadi insan yang bertuhan, beragama, dan manusiawi. Agar tidak menjadi perempuan yang biasa-biasa saja, namun memiliki cita-cita yang tinggi.
Agar Putri selalu mencintai ayah dan ibu. Karena, anakku, aku mengerti tidak selamanya kau akan berada di sisiku. Suatu saat, seorang pangeran pilihan akan menjemputmu. Dan hingga saat itu tiba, mungkin hatimu akan sering dipatahkan oleh laki-laki yang salah. Tidak mengapa, anakku. Bahuku akan selalu ada untuk tempatmu bersandar. Lenganku akan selalu terbuka untuk memelukmu. Menangis dan patah hatilah hingga kau dipertemukan dengan orang yang tepat. Kau hanya perlu mengingat bahwa aku selalu mencintaimu.
Putri Kecil,
Selamat datang di dunia yang tidak akan pernah menunggu. Selamat datang di tempatmu belajar bukan hanya hitam putih, melainkan juga abu-abu. Satu hal yang ingin kusampaikan sejak saat ini padamu, bahwa hidup kadang tak sesuai harapan. Tapi aku berharap itu tak menjadikan hatimu sekeras batu. Kau ingat doa yang aku dan ayahmu rapal bahkan sebelum kau melihat dunia, kan? Sekeras apa pun dunia memperlakukanmu, semoga kau tetap menjadi wanita yang lembut. Karena itulah keunggulanmu sebagai seorang perempuan dibanding laki-laki.
Bicara mengenai laki-laki, Putri Kecil, janganlah kaget bila pada suatu masa dalam hidupmu, kau dihadapkan dengan orang yang merendahkanmu hanya karena kau seorang perempuan. Jangan heran masih ada saja orang primitif yang menganggap kau tak layak meraih cita-citamu hanya karena kau perempuan. Tak perlu mencerca balik. Sesungguhnya, akan lebih baik bila kau membuktikan bahwa mereka salah.
Jadilah seorang yang besar. Jadilah insinyur yang bekerja di lepas pantai. Jadilah dokter yang menemukan vaksin HIV/AIDS. Jadilah sastrawan yang memperoleh nobel. Jadilah astronot yang pertama kali menginjakkan kaki di galaksi Andromeda. Jadilah seorang politikus yang jujur dan mengayomi. Jadilah presiden perempuan kedua di Indonesia. Jadilah profesor dengan ratusan penelitian. Jadilah guru yang melahirkan banyak profesor. Berambisilah, jadilah apa pun cita-cita tinggimu.
Namun, sebelum semua itu, jadilah dirimu sendiri. Janganlah kehilangan itu dalam perjalanan mengejar cita-citamu.
Ah, Putri Kecil,
Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin kuutarakan padamu. Sementara akan kusimpan dulu dalam dada, untuk kukatakan langsung padamu.
Untuk itu, sampai berjumpa di masa depan, Putri Kecil. Doakan aku segera dipertemukan dengan ayahmu, ya?
Salam sayang,
Ibu
Ditulis untuk proyek @PosCinta #30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-3
Untuk Lelaki yang Masih Tuhan Rahasiakan
Calon ayah anak-anakku tersayang,
Saat kamu membaca surat ini, barangkali kamu sedang berada di kantor. Memulai minggu dengan semangat dan energi yang baru. Mungkin kamu sedang jaga di IGD, bertemu seorang klien sambil makan siang, meeting bersama direksi, atau sedang merencanakan proyek off-shore yang baru. Mungkin, tebakanku di atas tidak ada yang betul. Tak masalah, karena saat ini aku belum tahu siapa dirimu.
Apa pun yang sedang kamu lakukan saat ini, tak apa, kan, sejenak kuganggu dengan datangnya suratku?
Sayang,
Lucu, ya, cara Tuhan menjatuhkan hati hamba-Nya? Cara-Nya mempertemukanku denganmu, juga mungkin tak pernah kuduga. Sebelum bertemu denganmu, Tuhan telah mempertemukanku dengan yang lain. Tidak banyak, memang, tapi cukup membuatku yakin untuk memilihmu. Ia pernah menjatuhkan hatiku pada orang yang tak terduga. Pada orang dari masa lalu. Pada orang yang hatinya telah dimiliki orang lain. Pada orang yang tak pernah sungguh menyayangiku.
Dengan bermacam cara Tuhan mengajariku rasanya patah hati. Kuharap, kamu pun sudah mengalaminya agar tak ada lagi ruang untuk kita saling menyakiti. Semoga, kita sudah bosan dengan jatuh cinta yang setengah-setengah. Semoga, kita adalah yang terakhir bagi satu sama lain, ya?
Sayang,
Bila aku telah berkata ya padamu, itu artinya aku percaya sepenuhnya padamu untuk menjadi pemimpinku dan keluarga kecil kita. Namun, ketahuilah, aku tak mau kamu menganggapku bawahanmu. Bukan, sayang. Rumah tangga dimulai dengan dua orang yang saling jatuh cinta, dan bersama mendayung biduk. Bersama menjaga agar perahu tak oleng kemudian terjatuh, karam, atau tenggelam. Diperlukan dua orang yang sama-sama kuat untuk menjalaninya. Berjalan bersama bersisian, bukan yang satu menarik yang lain.
But I can assure you, that doesn’t make me respect you less. Karena bila aku telah menjadi istrimu, aku telah setuju bahwa kamu adalah orang terbaik yang dapat kupercaya bahwa arah yang kamu tunjukkan benar adanya. Aku menghormatimu, sama seperti kamu menghormatiku sebagai partner hidupmu.
Sayang,
Selain mencintaimu, aku juga mencintai pekerjaanku. Aku seorang dokter, dan kuharap kamu tak cemburu pada pasienku. Mungkin, aku akan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit dibanding ada di sampingmu di rumah. Mungkin, kamu juga sama sibuknya dan jarang bertemu denganku. Tak mengapa, karena itu yang kusukai darimu. Laki-laki yang punya cita-cita dan ambisi.
Namun, sesibuk apa pun kita, kuharap kita tak keasyikan. Aku akan berusaha memanfaatkan waktuku sebaik mungkin bersamamu, dan kuharap kamu pun begitu. It’s a quality that counts, not the quantity, no?
Sayang,
Bila saat ini Tuhan mempertemukanmu denganku, kamu mungkin akan menyadari aku bukanlah gambaran seorang istri maupun ibu yang ideal. Aku tidak bisa memasak, menjahit, atau melakukan hal-hal lain yang seharusnya bisa dilakukan seorang perempuan sejati. Kamu akan menganggapku sebagai teman, dan memang itulah yang kuharapkan. Aku mau semua yang kita miliki di masa depan dimulai dari sebuah pertemanan. Kamu mengenalku, dan aku pun mengenalmu di kehidupan nyata.
Meskipun begitu, sayang, aku akan selalu belajar menjadi perempuan seutuhnya. Tidak sebentar dan tidak langsung sempurna, mungkin. But hey, I will keep trying for you.
Sayang, surat ini sudah banyak menyita waktumu, ya? Baiknya kuakhiri saja sampai di sini.
Selamat melanjutkan semua perjuanganmu saat ini. Sampai saatnya kita dipertemukan, doaku hanya satu:
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sampai tiba saatnya Tuhan menjatuhkan hatiku padamu, dan hatimu padaku.
Salam sayang,
Calon ibu anak-anakmu.
Ditulis untuk proyek @poscinta #30HariMenulisSuratCinta
Hari Ke-2
You need to stop comparing yourself to everyone you meet.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)