/ Normalnya, Taufan kalo tidur emg susah kalem. Malam selimutan, paginya udah terbuka kemana-mana. Tapi kalau sampe ences banyak, itu dia lagi capek bgtt. Malah kalau Taufan tidur tenang itu perlu dipertanyakan, soalnya pasti badannya lagi nggak sehat alias sakit. /
/ Management stress-nya Taufan tuh, ngobrol. Dia bisa ngocehin apa saja sejam penuh but not boring at all. Yg dengerin ga ngerasa bosan, soalnya Taufan receh bgt anaknya. Dia klo cerita yang sebenarnya cuma hal sederhana, bisa jadi menarik. /
.
.
More. (HC akan terus diperbarui setiap kali muncul.)
Summary : Yaya sangat mencintai pekerjaannya sebagai detektif. Namun suatu hari ia dihadapkan pada kenyataan bahwa kekasihnya adalah seorang pembunuh.
Contain : mengisyaratkan bunuh diri.
Fandom : BoBoiBoy
Sebuah keluarga tajir menyewa Yaya, yang merupakan seorang detektif swasta lokal untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai pada keluarganya.
Dari bukti-bukti yang didapat, ada satu yang paling mengganggu Yaya. Untuk menanyakan beberapa hal, hari ini ia mengunjungi rumah Taufan, seorang rekan kerja sekaligus kekasihnya sendiri.
Yaya telah sampai di depan pintu rumah Taufan. Ia sudah berdiri selama menit. Berungkali menarik-nafas-buang. Berusaha menenangkan hati. Ia tepis semua keraguan dan kecemasan yang memenuhi hatinya, lantas ia memencet bel.
"Oh Yaya! Sudah sampai rupanya! Ayo masuk."
Yaya disambut ekspresi antusias dari Taufan yang langsung membukakan pintu lebar-lebar.
Taufan segera menariknya ke dalam dan memeluknya erat. "Kangen.."
Biasanya Yaya akan menikmati pelukan Taufan seperti biasa, namun karena ia datang dengan maksud tertentu, ia jadi tegang dan tidak bisa santai.
"Hmm?" Taufan melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajah Yaya. "Ada apa?"
Yaya tersenyum canggung. Ia melihat kemana saja selain wajah Taufan. "Cuma masalah pekerjaan saja kok."
"Ooh begitu.. Sekarang bagaimana perkembangannya? Lihatlah cantikku ini sampai kelelahan seperti inii." Taufan memperlihatkan ekspresi wajah cemas sambil mengusap wajah Yaya.
"Gapapa.. Kan sudah pekerjaanku." Yaya melepaskan tangan Taufan dengan perasaan tidak nyaman.
Taufan memimpin jalan masuk. "Ngobrolnya sambil di dalam aja yuk. Kamu mau minum apa? Aku lagi nyetok banyak nih."
"Apa saja boleh." Yaya menyusul di belakang Taufan.
"Baiklah. Kamu duduk aja dulu, Ya."
"Oke.." Yaya ragu-ragu hendak mengatakan sesuatu. "Mm.. Taufan, aku boleh liat-liat rumahmu?"
"Boleh dong! Kok ragu-ragu gitu. Kayak sama siapa aja." Taufan tersenyum. "Ohiya, jangan mampir ke area dekat gudang ya. Kotor banget soalnya."
Yaya mengangguk dan segera meninggalkan Taufan. Sambil melihat-lihat, Yaya harap ia tidak menemukan sesuatu yang menganggu pikirannya itu. Tapi kakinya tak sengaja menyenggol sebuah benda.
Yaya mengambil benda itu yang ternyata adalah parfum. Matanya melotot saat mencium aromanya. Itu adalah parfum yang beraroma sama dengan yang ia cium di tempat lokasi kejadian.
Dengan hati-hati, ia berjalan ke arah lain dan menemukan sepasang sarung tangan latex yang berbercak darah di dalam tempat sampah dekat kamar mandi. Pikiran Yaya semakin kalut. Ia lekas mengirimkan bukti pada ahli digital forensik.
Beberapa saat kemudian, data telah selesai diselidiki dan hati Yaya terasa jatuh sejatuh-jatuhnya saat melihat hasilnya.
"Ta..Taufan." Yaya menghampiri Taufan. Ia mencoba menstabilkan suaranya setenang mungkin.
"Yya?" Taufan menjawab tanpa menoleh.
"Sejak kapan kamu pakai parfum ini?"
Taufan menoleh sejenak, lalu ia menjawab santai sambil melanjutkan memotong daging. "Oh itu parfum khusus pas aku kerja. Aku sengaja bedain pas lagi sama kamu. Kalau lagi sama kamu, aku pakenya yang lebih soft biar kamu nyaman."
"Oh.." Yaya tidak bisa menahan keterkejutannya saat melihat cara Taufan memotong daging. Pola dari goresan pisau yang Taufan lakukan itu.. sama dengan baretan pisau yang ada di tubuh korban.
"T-taufan dagingnya."
"Hm? Kenapa?" Taufan menoleh.
Wajah Yaya tegang. Ia gemetar ingin menangis dan ketakutan. Otak rasionalnya sedang bertengkar dengan hatinya mengetahui semua bukti yang ia temukan mengarah orang yang ia sayang.
"Taufan, aku mencium aroma parfum yang sama dari baju korban." Sambil menguatkan hati, Yaya tetap mengedepankan profesionalitasnya. "Aku yakin banyak yang memberikan kesaksian yang sama pada orang-orang yang berada di lokasi."
Taufan menghentikan pekerjaannya, sementara Yaya bergegas melanjutkan. "Bukti sidik jarimu ditemukan pada sarung tangan latex di tempat sampah di dekat kamar mandi." Yaya menunjukkan data yang telah ia unduh dari ponselnya.
Pada titik ini, Yaya benar-benar ingin menangis. Ia diliputi kebingungan dan ketakutan yang luar biasa. "Taufan.. Kenapa?"
"Maaf mengecewakanmu, Sayang."
Yaya tercengang saat melihat aura wajah Taufan berubah. Ia secara otomatis melangkah mundur ketika Taufan berjalan mendekat.
"Mereka pantas mati." Yaya dapat merasakan tekanan amarah dari intonasi suara yang senada dengan ekspresi wajah Taufan. "Mereka adalah orang-orang yang tidak sopan mencari-cari informasi latar belakang seseorang tanpa izin."
"Sama halnya dengan detektif sepertimu." Taufan berjalan semakin dekat. "Bukankah itu sama saja dengan mencuri?"
Yaya gemetar semakin keras ketika ia tersudutkan ke tembok sementara Taufan hanya beberapa lagi darinya.
"Taufan, itu tidak benar." Yaya mencicit.
"Menurutmu, kenapa kamu masih aman di rumahku?"
Yaya tercekat. Taufan menghentakkan tangan kanannya ke tembok dengan keras, persis di sebelah Yaya sampai bahunya meloncat karena kaget.
"Tentu saja aku mengetahui maksud kedatanganmu, Sayang. Aku membiarkanmu melihat-lihat, membiarkan parfum itu terletak begitu saja, membiarkan sarung tanganku terlihat di tempat sampah. Menyenangkan sekali melihatmu bersusah payah, ketakutan."
"Taufan, kamu gila."
Taufan menampilkan seringai di wajahnya. "Kalau begitu, kenapa kamu tidak menangkapku, detektif kecilku yang cantik?"
Yaya memandang Taufan tanpa ekspresi. Orang yang ia cintai di depannya ini adalah seorang pembunuh. Ia seharusnya mengaktifkan alat perekam, dan lekas melaporkan ke pihak berwenang, tapi tubuhnya mendadak kaku dan ia kehilangan kata-kata.
"Lagipula." Taufan membuyarkan pikiran Yaya. "Kamu selalu bisa untuk kabur. Sebelah kirimu kosong, dan pintu tidak terkunci. Tapi kamu malah memilih untuk tinggal. Kamu seharusnya takut, Yaya. Aku ini pembunuh."
Yaya masih membeku di tempat.
Taufan menghela nafas gusar. Ia memundurkan badannya. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
_
Di luar hujan turun deras dan Yaya terguyur di bawahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Kenapa ia harus mengetahui fakta semenyakitkan ini? Taufan gila, tapi ia lebih gila karena masih menaruh rasa sayang pada kriminal.
Di sisi lain ia juga tak akan sanggup menanggung dosa akibat melanggar kode etik profesinya. Ia sangat menyukai dua-duanya dan tak ingin kehilangan mereka.
Yaya kembali pulang dalam kondisi berantakan. Ia tak bisa berpikir jernih. Sekeras apapun ia mencari jalan keluar, tak punya opsi lain yang lebih baik selain dirinya-lah yang menghilang. Benar, dengan menghilang, mungkin.. itu adalah satu-satunya jalan untuk tidak menghadapi sakitnya kehilangan.
Yaya membulatkan keputusannya. Ia mengirimkan pesan singkat pada Taufan malam ini.
Taufan, aku mencintaimu.
Ping! Pesan terkirim dan beberapa detik kemudian, pesan itu terbaca.
Butuh beberapa menit sebelum balasan lainnya masuk.
Yaya, aku sudah memesankan bunga kesukaanmu dan besok akan diantar ke rumahmu. Tolong diterima ya? Jaga diri baik-baik. Aku juga mencintaimu.
Sayangnya, bunga dan pesan itu tak akan pernah sampai kepada Yaya.
Summary : Solar sadar bahwa ia telah mengabaikanmu akhir-akhir ini. Ia tidak begitu memperhatikan bahwa kamu protes soal kebersamaan kalian yang hilang. Jadi Solar terus menganggap kamu baik-baik saja sampai suatu malam, ada sesuatu yang ganjil dari perilakumu.
Solar berprofesi sebagai chemical engineer, yang tahun ini sedang merancang salah satu proyek besar; memproduksi biodegradable—dalam rangka mengkampanyekan program GO GREEN untuk meningkatkan dampak yang lebih positif bagi lingkungan.
Tanggung jawabnya sebagai kepala proyek membuatnya harus mengeluarkan tenaga dan pikirannya secara ekstra. Ia jadi sering berangkat pagi dan pulang malam. Menghabiskan waktu seharian berada di tempat kerja.
Solar memeriksa sebuah pesan teks online yang masuk melalui ponselnya.
Solar, pulang jam berapa?
Itu kamu, si pengirim pesan sekaligus perempuan yang sudah berstatus sah sebagai istrinya. Kamu selalu mengabarinya seperti ini akhir-akhir ini. Padahal menurutnya itu adalah hal yang tidak perlu. Karena kamu secara teknis sudah mengetahui jam pulang kerja Solar, jadi untuk apa bertanya lagi? Tapi Solar tetap membalasnya seperti biasa.
Balasan lainnya muncul.
Hari ini aku masak rendang kesukaanmu.
Solar tidak mengerti apa urgensimu untuk repot-repot memasak makanan yang tidak bisa ia makan untuk malam ini. Solar selalu pulang larut malam, tak bisa menemanimu. Tapi ia mengerti, kamu menyayanginya. Ia harus menghargai usahamu itu.
Terimakasih, aku akan memakannya saat sahur nanti.
Solar meletakkan ponselnya ke dalam sakunya setelah berbalas pesan denganmu.
Kini ia sedang mengantri makanan prasmanan yang disediakan secara gratis untuk makan malam di tempat kerjanya. Terkhusus pada bulan Ramadan, ada tambahan takjil gratis bagi yang berpuasa. Hal inilah yang membuatnya tak ingin pulang dan berbuka puasa di rumah.
Solar tak ingin menyia-nyiakan jatah makannya. Menurutnya adalah hal yang mubadzir makanan mewah mewah ini dianggurin. Ini kan makanan jatahnya—yang dipotong dari uang gajinya.
Namun, ada satu hal lain yang tidak kamu ketahui. Solar selalu terlambat pulang larut malam bukan karena kerja, tapi karena mengikuti pesta kecil-kecilan yang diadakan selepas tarawih. Acara itu semacam perkumpulan pergaulan kelas atas yang dimana para hadirin hanya berhaha-hihi sambil menikmati kudapan mewah untuk melepas penat.
Itu adalah kegiatan yang Solar senangi. Ia cukup menyukai acara sosialita kelas atas. Acara-acara semacam itu mampu membuat harga dirinya melonjak naik. Dan ia sering mengikutinya tanpa memberitahukannya kepadamu.
"Mau kemana Pak? Buru-buru amat." Solar menegur seseorang yang akrab dengannya—manajer HRD perusahaan, Taufan.
"Oh itu, hari ini saya ingin buka puasa rumah." Taufan tersenyum lebar. "Saya kangen istri.. Istri juga sudah masak banyak katanya. Hehe, saya jadi nggak sabar mau pulang."
Solar bergumam sebagai tanggapan sambil berjalan maju. Ia mengambil piring dan sendok, kemudian mengambil lauk-pauk yang tampak menggugah selera.
"Oh, Bapak juga mau pulang toh? Saya juga. Anak-istri sampai ngambek karena sering saya tinggal. Saya sampai diancam tidur luar hohoho... Tapi saya bersyukur karena punya keluarga. Rumah jadi terasa lengkap." Bapak tim marketing yang lagi mengantri ikut nimbrung.
"Bapak beruntung. Putriku satu-satunya adalah harta saya yang paling berharga. Ramadan tahun lalu, kami masih berpuasa bersama, tapi sekarang kami hanya bisa berkomunikasi lewat video call karena dia sedang kuliah di luar negeri. Saya kangen.." Ibu-ibu bergincu tebal—tim produksi—di belakang Solar menyahut.
Solar mendadak gugup ketika mereka membahas keluarga. Ia jadi teringat padamu yang akhir-akhir ia abaikan. Sementara itu, Taufan sudah pergi sedari tadi setelah berhasil membungkus pulang jatah makannya.
Si Bapak bertanya ke Solar. "Bagaimana dengan Bapak? Bapak tidak ingin buka puasa di rumah juga?"
Solar tersentak, gelagapan. "A-itu besok saja—"
"Oh begitu.. Apa tidak apa-apa meninggalkan istri sendirian di rumah?"
Solar keringat dingin. "Itu.."
Ia menghela nafas lega saat antrian berakhir yang berarti percakapannya pun akan terhenti juga. "Tidak apa-apa. Saya permisi duluan, Pak." Solar lekas kabur dari pembicaraan yang membuatnya canggung itu.
Solar mengambil meja dekat dinding, membaur dengan orang-orang perusahaan lainnya. Ia melakoni dirinya sebagaimana biasanya ia membangun citra dirinya di hadapan orang-orang. Di tengah-tengah cengkrama sebelum buka puasa, mendadak ia kepikiran kamu.
Percakapan mengenai keluarga tadi sukses mempengaruhi pikirannya. Ia akhir-akhir ini sadar bahwa ia cukup mengabaikanmu. Ia terlalu dibuai oleh kesenangan disini. Kamu sekarang sedang buka puasa sendirian, tapi tidak apa-apa kan? Kamu tidak pernah protes soal ini.
Sementara itu, waktu buka puasa telah tiba.
Setelah kepikiran kamu, tiba-tiba Solar ingin cepat pulang ke rumah. Ia ingin tahu keadaanmu. Ia tidak bisa mengingat—percakapan apa yang ia lakukan denganmu terakhir kali saat tatap muka? Atau kapan terakhir ia mengusap kepalamu sebelum tidur? Ia bahkan tidak ingat bagaimana kondisi kamu terakhir kali sebelum berangkat kerja.
Padahal tinggal serumah, tapi bagaimana bisa ia tidak tahu kabarmu akhir-akhir ini?
Solar cepat-cepat menghabiskan makanannya. Setelah kepikiran kamu, ia jadi tak berminat untuk mengikuti acara haha-hihi yang sebenarnya hanya membuang-buang waktu.
Solar mendecak kesal ketika mobilnya terjebak macet panjang yang ternyata disebabkan oleh kecelakaan motor terlindas truk. Sebenarnya itu berita besar, namun Solar akan mencari tahu detail beritanya nanti.
Sampai rumah ternyata lebih lambat dari yang diharapkan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Kamu pasti sudah tidur.
Solar membuka pintu sambil mengucap salam. Ia menemukanmu sedang terbaring di sofa tengah. Kenapa kamu tidur disini? Solar mendekatimu untuk memeriksa dan kemudian mengangkat tubuhmu untuk dipindahkan ke kasur. Kamu harus tidur dengan nyaman.
"Hngg.. Solar?" Kamu terbangun, membuka mata sedikit untuk mengintip.
"Pindah ke kamar. Jangan tidur disini." katanya sambil berjalan membawa tubuhmu. Kamu mengalungkan tanganmu di leher Solar sambil memejamkan mata.
Sesampainya di kamar, Solar membaringkanmu dengan hati-hati. Ia hendak bangkit, tapi tanganmu masih mengunci lehernya. Solar reflek menahan tubuhnya dengan topangan tangan di kasur untuk mencegah badannya jatuh menimpamu.
"(Nama)..." Solar melepaskan tanganmu. Ia harus ganti baju sebelum tidur. Tanganmu berhasil lepas, namun sedetik kemudian kembali melingkari lehernya lagi.
"Kamu mau pergi lagi..?" Kamu berdengung. Matamu masih terpejam.
Solar memproses sebentar. Kamu mengigau?
"Sebentar (Nama)." Solar kembali melepaskan tanganmu, namun ia kaget saat kamu tiba-tiba merengek.
"Mau kemana lagi..?"
Solar menggenggam kedua pergelangan tanganmu. "Aku mau ganti baju dulu."
"Gak usah. Kamu pasti bakal lama lagi datangnya..."
Solar menatap wajahmu. Alismu mengerut, terlihat gelisah. Perilakumu tampak ganjil. Belum lagi Solar hendak melepaskan diri, kamu menarik tubuh Solar mendekat. Solar panik—tapi ia tak menolak. Kepalanya mendarat di dadamu. Kamu memeluknya erat.
"Aku kesepian.." lirihmu persis di atas kepalanya. "Kita.. udah jarang ngobrol. Kamu bahkan tidak pernah melihatku dengan benar.. Kamu selalu sibuk. Pulang larut, berangkat pagi-pagi sekali. Aku sampai berpikir apakah kamu bosan padaku dan punya cewek baru.."
Suaramu bergetar seperti ingin menangis.
"Aku bingung... Setiap aku tanya, kamu diam. Setiap aku memulai obrolan, kamu jawabnya irit kata kayak lagi hemat tenaga banget. Apakah proyeknya seberat itu sampai-sampai kamu merasa kalau bicara denganku jadi buang-buang waktu dan tenagamu?—Solar.. Aku sudah tak menarik lagi ya? Masakanku kurang enak? Atau aku terlalu menuntut ini itu? Tolong beritahu aku.."
Hati Solar bergetar. Ia tidak tahu kalau kamu sampai sesakit ini. Kamu yang Solar tahu itu—perempuan yang lebih mengedepankan rasionalitas dibandingkan perasaan. Jadi melihat sisi rentanmu seperti ini membuatnya tersadar bahwa perilaku yang ia lakukan sudah keterlaluan.
Ia kira kamu tidak ada masalah karena tidak bertanya, tapi itu ternyata karena dirinya sendiri yang tidak mendengarkanmu. Ia terlalu memikirkan kesenangannya sendiri, sampai lupa kalau ia punya kamu—istrinya—yang juga mempunyai hak untuk dibahagiakan.
Kamu mengeratkan pelukan. "... Solar, aku kangen.."
"Maaf.." Solar berbisik lirih. Ia membenarkan posisi tidurnya di sampingmu, kemudian mengusap-ngusap pipimu dengan penuh penyesalan.
Ia tidak tahu kamu dalam kondisi sadar atau tidak. Tapi bahkan walaupun kamu mengigau, Solar akan menganggapnya serius.
Malam ini ia langsung menemanimu tidur tanpa mengganti baju kerjanya.
-
Solar cepat-cepat pamit setelah pekerjaannya selesai.
Kejadian semalam tentu saja tak mungkin tak menganggu Solar. Sepanjang bekerja, konsentrasinya beberapa kali terpecah karena teringat denganmu.
Sahur tadi, kamu tidak mengatakan apa-apa. Hanya terjadi keheningan seperti biasa. Solar juga tidak mengungkitnya—ia menunggumu mengatakannya. Namun, yang terjadi hanyalah keheningan. Dan keheningan yang sebelumnya terasa biasa saja, kini terasa canggung dan menyesakkan. Kamu sudah tak peduli lagi kah padanya?
Solar telah sampai di parkiran.
Sebelum menghidupkan mesin mobil, sekali lagi ia memeriksa ponselnya. Tidak ada notif darimu yang masuk. Aneh, biasanya kamu selalu menanyakannya, 'pulang jam berapa?' atau memberitahu bahwa kamu memasak makanan kesukaannya. Namun, kali ini sepi.
Apa terjadi sesuatu padamu? Solar segera menancapkan gas mobilnya dengan cepat menuju rumah.
Bertepatan itu, waktu buka puasa telah tiba ketika sampai di rumah. Solar masuk ke dalam rumah dengan agak terburu-buru. Daripada lekas berbuka puasa, hal yang pertama yang ia lakukan adalah menemuimu. Ia langsung mencarimu ke dapur—tempat yang memungkinkan kamu berada ketika buka puasa—namun ternyata kosong.
"(Nama)!" Solar memanggilmu dengan khawatir. Ia mencari ke seluruh ruangan yang ada di lantai satu ini. Ruang tamu, tidak ada. Ruang cuci, kamar mandi, jemuran, tidak ada. Kamu tidak ada dimana pun di lantai satu yang luas ini.
Kekhawatirannya muncul semakin besar. Ia bergegas naik ke lantai dua.
Solar memanggilmu sekali lagi sambil membuka pintu kamarnya.
"Solar?" Matamu terlihat kaget melihat presensi Solar di ujung pintu kamar dengan tampang ngos-ngosan.
Kamu sedang menyantap makanan di depan televisi yang menyiarkan acara hiburan.
"Kamu pulang?!" Kamu memekik tak percaya sambil menghampiri Solar.
Solar mengusap wajahmu sambil mengucapkan syukur berkali-kali dalam hatinya. Ia sempat cemas kamu terjadi sesuatu yang tidak-tidak hari ini. Tapi syukurlah, kamu baik-baik saja.
Kamu meneliti tampang Solar dari atas sampai bawah. "Kamu kenapa?" tanyamu dengan tampang heran.
Solar tak bergeming. Ia masih berdiri di depanmu tanpa kata-kata.
"Ah, udah buka puasa belum? Aku bikinin teh dulu ya." Kamu beranjak meninggalkan Solar turun ke dapur.
Tanpa berganti baju dulu, Solar mengikutimu. Di dapur tampak kosong melompong. Kamu sepertinya tak memasak apapun.
"Maaf.. Aku gatau kalo kamu bakal pulang. Kirain buka puasa disana kayak biasanya, jadi aku ga masak apa-apa. Aku cuma goreng telur dadar tadi buat makan malam." katamu sambil menuang air panas ke dalam teko yang berisi teh celup dan gula pasir.
"Nggak apa-apa.." jawab Solar pelan. Ini salahnya. Kamu jadi mulai terbiasa di fase kesendirian, sampai kamu tak mengharapkan kedatangannya lagi. Ia mengambil tempat duduk di meja makan, lalu menenggak air putih untuk membatalkan puasa.
Kamu menaruh teko yang beruap-uap—berisi teh panas yang baru selesai dibuat, kemudian menuangkannya ke cangkir untuk Solar.
"Terimakasih." ucap Solar sambil menerimanya. Kamu duduk di kursi seberang Solar.
"Kenapa tiba-tiba pulang? Apa ada yang tertinggal?" tanyamu.
Solar termenung sejenak sebelum menjawab. "Iya, ada yang tertinggal. Aku meninggalkan kebersamaan kita di suatu tempat dan aku ingin mengambilnya kembali."
Kamu membuat ekspresi tanda tanya.
"—Jadi mulai besok, aku akan buka puasa di rumah."
Kamu menutup mulut dengan tampang tidak percaya. "Solar..." Matamu berbinar-binar, namun sedetik kemudian berkaca-kaca.
Solar bangkit menuju ke arahmu. Ia meraih tubuhmu ke dalam pelukannya.
"Maaf.. karena mengabaikanmu. Selama ini kamu pasti kesepian ya?" ucap Solar sambil mengusap-ngusap punggungmu.
Digituin Solar, dadamu semakin sesak dan air matamu semakin ingin keluar dari tempatnya.
"Jangan begitu lagi.. Aku jadi bingung banget. Kalau tak bisa bicara langsung, bisa lewat tulisan.. Biar akunya juga nggak berspekulasi yang aneh-aneh." balasmu dalam pelukannya.
"Aku mengerti. Aku minta maaf.." Solar memelukmu lebih erat lagi.
Saat ini ia mulai menyadari bahwa ia rindu pelukan hangat dan harum tubuhmu. Seiring dengan pelukan yang semakin erat, hatinya semakin diliputi rasa kangen yang teramat sangat. Ternyata ia sudah jauh denganmu sampai sekangen ini.
Solar melepaskan pelukannya, lalu menatap wajahmu. "Ohiya (Nama), gimana kalau nambah anggota baru di rumah ini? Biar kamu gak kesepian amat pas aku tinggal kerja."
Solar bertanya tanpa maksud jahil sebenarnya, tapi pipimu merona.
"Heh." Kamu meninju lengannya pelan. "Kalau sudah ada anak dan kamu masih mengabaikanku seperti ini pun, aku tetap akan sedih. Bukannya aku tidak mau. Aku juga sudah memikirkan ide itu—tapi untuk sekarang, aku masih pengen puas-puasin pacaran denganmu dulu tanpa ada yang ganggu." Kamu menunduk untuk menyembunyikan senyummu.
Hati Solar meleleh melihat sisi manjamu yang seperti ini. Yaampun, kamu imut banget. Solar ingin menerkammu, tapi ia tahan-tahan sampai akhirnya ia memilih untuk memelukmu ala beruang—super erat sampai kamu protes minta dilepaskan karena sesak nafas.
Solar tertawa kecil, menikmati gerutuan dan wajah merahmu. Pesta memang menyenangkan, namun tidak sehangat kamu. Solar tak akan melepaskanmu lagi kali ini.
Pelan-pelan, ia mengembalikan kebersamaannya denganmu yang sempat hilang.