di dalam hubungan—apalagi di dalam pernikahan—ada hal-hal yang bisa diminta lalu diberikan, tetapi ada hal-hal yang hanya bisa diberikan. yang hanya bisa diberikan itu, tidak bisa diminta. sekeras apapun dipaksakan, tidak akan bisa keluar kalau hatinya memang tidak ada atau tidak di sana. tidak akan sampai.
uang/nafkah itu bisa diminta, tetapi kasih sayang yang tulus hanya bisa diberikan.
waktu itu bisa diminta, tetapi perhatian yang penuh, kehadiran yang utuh, hanya bisa diberikan.
bantuan itu bisa diminta, tetapi dukungan tanpa tapi-tapi itu hanya bisa diberikan.
hadiah itu bisa diminta, tetapi “selalu mengingat dan mempertimbangkan pihak lainnya” hanya bisa diberikan.
kabar itu bisa diminta, tetapi cerita, kejujuran, dan keterbukaan itu hanya bisa diberikan.
pemenuhan janji bisa diminta, tetapi kepercayaan hanya bisa diberikan.
kebersamaan itu bisa diminta, tetapi kesetiaan baik saat bersama maupun tidak hanya bisa diberikan.
maaf itu bisa diminta, tetapi keridhoan hanya bisa diberikan.
dalam pernikahan, yang hanya bisa diberikan itu seharusnya bukan kemewahan. itu bare minimum. menerimanya adalah hak bagi yang menikah.
lalu seharusnya, memberikannya juga adalah kewajiban bagi yang menikah. kalau yang punya kewajiban itu benar-benar menghayati perannya dalam pernikahan, benar-benar membekali diri dengan ilmu dan iman, kewajiban itu sama sekali bukan beban. melakukannya semudah bernapas di kala diri sehat dan udara sedang bersih-bersihnya. effortless, tanpa usaha.
ada satu lagi yang hanya bisa diberikan dalam pernikahan, tetapi ini Allah yang memberikan. namanya ketenangan. itulah tujuan pernikahan dan itulah yang kita minta kepada Allah dari sebuah pernikahan: pasangan yang menjadi rumah tempat kita selalu pulang.
selamat memberikan yang hanya bisa diberikan. selamat menerimanya. semoga Allah memberikan kalian ketenangan.
Allah Swt. dengan tegas bilang: tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Allah juga bilang: setiap perbuatan manusia pasti ada ganjarannya. seharusnya, kalimat-kalimat ini cukup untuk membuat kita berpikir seribu kali sebelum berkata, sebelum bersikap, sebelum bertindak--bahkan sebelum berpikir. seharusnya, kita hati-hati.
jangan perlakukan orang lain dengan cara yang kita tidak ingin diperlakukan. perhatikan caramu bicara, melirik atau menatap, bahkan memposisikan badan. adakah yang berpotensi menyakiti?
jangan mengambil yang bukan hak kita apalagi menzhalimi hak orang lain. kalau sesuatu yang kamu punya diambil / direbut orang lain, kamu mau?
jangan mendoakan keburukan bagi orang lain. bagaimana kalau malaikat mengaminkan agar doa itu justru kembali kepadamu? kepada keluargamu?
jangan membicarakan keburukan orang lain. ingat kamu hanya beda dosa. mudah sekali bagi Allah untuk menjerumuskan kamu ke sana juga.
jangan mencela keputusan hidup orang lain. kamu nggak pernah tau apa yang ada di bawah permukaan. belum tentu kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak kalau kamu ada di posisinya.
jangan iri dengan hidup orang lain. mungkin kamu menginginkan kebahagiaannya, tapi percayalah kamu tidak menginginkan penderitaannya.
jangan manipulatif: menyakiti orang lain dan malah teriak-teriak kalau yang disakiti membela diri. apalagi menggunakan ketidakbenaran untuk menyerang. bereskan luka pengasuhanmu supaya kamu nggak meneruskannya kepada siapa-siapa.
jangan menyalahkan orang lain atas perbuatanmu, ketidakmampuanmu, atau ketidakbahagiaanmu. pada satu titik, ketenangan hidupmu adalah tanggung jawabmu sendiri. selanjutnya tetap begitu.
jangan suka mengolok-olok. ingat Allah Maha Memuliakan, tetapi juga Maha Menghinakan. jangan menertawakan orang lain kalau kamu tidak mau ditertawakan malaikat.
jangan merasa lebih baik apalagi mulia dari orang lain. kamu tidak tau taubatnya. barangkali Allah lebih menyayanginya. lagipula, mudah sekali bagi Allah untuk membuka aibmu di hadapan seluruh dunia.
jangan menyimpan dendam. yang pelan-pelan mati karena dendam itu kamu, bukan orang lain yang kamu dengki terhadapnya. belajar memaafkan. mulai dari dirimu sendiri mungkin?
urusan sama manusia rumitnya berkali-kali lipat. bisa jadi suatu hari kamu menyesal, tetapi akibat yang kamu perbuat masih tertinggal pada orang lain. bisa jadi suatu hari kamu meminta maaf, tetapi belum tentu dia memaafkan.
balasan atas perbuatan kita itu bukan soal akan atau tidak, tetapi soal kapan. tetapi ingatlah, Allah Maha Pemaaf dan rahmat Allah tiada terhingga. mumpung masih ada waktu, minta maaflah. kalau malu, mintalah maaf melalui Allah. minta Allah menyembuhkan siapa saja yang pernah kamu lukai. minta Allah melembutkan hatinya untuk memaafkanmu.
Ya Allah, jika malam ini adalah malam Lailatul Qadar, maka kabulkan lah doa kami ya Allah. Jadikanlah kami keluarga yang sakinah mawadah wa Rahmah dan anak-anak kami menjadi anak-anak yang soleh dan Solehah.
Hari ini diingetin untuk kembali mengingat. Bahwa ngga harus jadi nomer satu, ngga harus jadi yang teratas, terbaik, teristimewa, dan ter yang lain. Kita cuma perlu cukup.
Meski belum resmi menikah aka masih hitungan minggu (insya Allah), but I'm gonna share about my experience selama persiapan pernikahan ini.
Mungkin teman-teman yang ingin menikah bertanya; menikah itu harus siap mental dulu atau uangnya dulu?
Jawabanku: Keduanya.
Mental untuk menikah bisa didapatkan dengan mencari ilmunya
Untuk kamu yang muslim bisa dimulai dari mempelajari hak dan kewajiban suami istri. Keduanya dipelajari ya, jangan cuma istri aja atau suami aja. No. Kamu harus tau juga hak dan kewajiban pasanganmu.
Next belajar mencintai. So sweet ya bacanya, tapi bener loh mencintai juga harus dipelajari karena kalian akan menghabiskan waktu dari melek mata sampai merem lagi. Cari tahu bahasa cinta pasangan, bisa lewat tes di sini:
The 5 Love Languages®
And then, belajar mendengarkan dan memahami. Kenapa mendengarkan dan memahami satu paket? Karena ada orang yang hanya dengerin tapi mental lagi alias masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.
Setelah mendengarkan, harus dipahami. Empati harus tinggi. Posisikan diri untuk berada di posisi pasangan kita.
Karena pernikahan itu gak mudah. Ada dua kepala, bahkan dua keluarga. Keduanya berbeda watak, keluarganya juga beda budaya. We can't force our husband/wife to be the one that we want. No.
Tugas kita sebagai pasangan hanya bisa mendorong agar sama-sama bertumbuh dan lebih baik lagi. Karakter mereka tidak akan bisa kita ubah karena itu pembentukan dari pola asuh keluarga dan pengalaman hidupnya.
Kita juga jangan kaget kalo suatu hari pasangan berubah. Manusia itu harus terus beradaptasi kan? Kalau berubahnya kurang baik, mari diskusi pelan-pelan. Kalau berubahnya baik, harus terus didukung ya!
Terakhir soal mental, kita harus bisa saling support atas permasalahan hidup. Karena masalah suamimu kelak akan menjadi masalahmu, and vice versa. Masalah keluarga suamimu juga akan menjadi masalahmu, and vice versa.
Karena itulah pentingnya mendengarkan dan memahami. Permasalahan yang hadir akan mudah dilewati jika kalian saling support, mendengarkan dan mencoba memahami pasangan.
Oke selanjutnya soal uang aka finansial
Sebelum menikah penting bagi kita, baik laki-laki atau perempuan melek soal finansial. Jika fondasi dasarnya sudah bertaut pada agama, maka keputusan finansial pun akan mengikuti aturan hukum syara, seperti memahami halal, haram, mubah, makruh, dan sunnah.
Contoh: NO RIBA
Tapi, no riba bukan berarti dilarang berutang ya. Kamu harus tau dulu bahwa ada dua macam utang (versi saya) yaitu utang esensial dan utang konsumtif.
Hal yang harus dihindari adalah utang konsumtif ini. Jangan sampai berutang untuk gaya hidup, karena akan merugikan dirimu sendiri.
Berutang juga jangan ke bank, pinjol apalagi rentenir. Berutang juga harus milih-milih loh, pastikan mereka adalah orang terpercaya dalam hidupmu seperti keluarga atau sahabat dekat.
Lalu, setelah bisa mengotak-otakan utang tersebut, atur keuangan. Utang tidak boleh lebih dari 30% pendapatan. Apalagi kalau kamu Sandwich Generation yang harus menafkahi orang tua juga, harus bisa pintar mengatur keuangan bahkan menambah sumber pendapatan.
Terakhir, buat pos-pos pengeluaran. Selalu ingat untuk menyisihkan tabungan di awal, lalu pos pengeluaran seperti kebutuhan hidup; makan sebulan, gas, internet, listrik, air, cicilan, dan kebutuhan lainnya.
Lalu sisihkan dana darurat, dan kalau keuanganmu cukup boleh banget bikin pos dana pensiun. Baru deh ambil 'uang jajan atau ongkos' secukupnya serta biaya entertainment untuk diri sendiri, seperti makan di restoran, ketemu teman, Netflix, Disney+, ngedate sama pasangan, dll.
Nah, kalau mau beli barang atau liburan bagaimana? Bikin pos baru ya. Jangan sampai pos di atas diutak-atik, oke?
Lebih baik menahan diri dan bekerja keras di masa muda daripada harus masih banting tulang di masa tua.
semakin dewasa, semakin kerasa bahwa salah satu rezeki yang paling penting itu nasihat. hidup orang dewasa itu, yes, rumit. cabang-cabang pilihan jauh lebih banyak--dan lebih permanen dampaknya--daripada saat remaja. agar kita punya kebijaksanaan dalam memilih langkah, kita perlu nasihat.
ibu selalu berpesan, apalagi kepada yang sudah berumah tangga, belajarlah untuk selalu terbuka. terbuka berbeda dengan jujur, berbeda dengan mengakui. jujur itu sesuai antara perkataan dan perbuatan. mengakui itu mengatakan apa yang sudah diperbuat. nah, terbuka itu mengatakan apa yang sudah, sedang, dan ingin diperbuat.
kalau kita terbiasa terbuka, artinya kita punya pola pikir "siap menerima nasihat". saya nggak suka istilah open-minded karena sekarang maknanya jadi aneh-aneh. mungkin, lebih tepat disebut growth-mindset--pola pikir ingin terus bertumbuh. salah satu wujudnya, adalah dengan mendengarkan nasihat.
saya kerap memperhatikan. rupanya, orang-orang yang besar dan cemerlang, mereka adalah orang-orang yang mau mendengarkan nasihat--bahkan dari orang yang lebih "kecil" dari dirinya. mereka siap menerima kritik dan saran. lalu, bisa mengambil masukan itu tanpa mengambil hati.
sayangnya, semakin dewasa, waktu kita semakin habis untuk banyak tanggung jawab sehingga sering melupakan kebutuhan akan nasihat ini. lebih parahnya, kita merasa sudah ngerti jadi tidak perlu nasihat lagi. kita jangan yah, tetaplah mencari nasihat, mendengarkan nasihat.
nasihat itu bisa datang dari mana-mana. kajian, ceramah, buku, teman, dan sebagainya. tapi, ingatlah, nasihat paling penting datangnya dari orang tua dan keluarga (terutama pasangan).
saling terbukalah. saling menasihatilah. saling berkasihsayanglah. semoga Allah menuntun kita pada dan kepada jalan yang lurus.
Jika masih menyimpan luka lama, coba pelan-pelan disembuhkan sakitnya. Mulailah dari memaafkan dirimu, memaafkan orang-orang, memaafkan keadaan, dan belajar untuk ridho dengan segala skanario yang Allah tetapkan.
Meski ga mudah, kamu pasti bisa, semangat! Ada banyak pahala yang terus bercucuran disetiap usahamu dalam menyembuhkan luka. Ketahuilah, bahwa apa-apa yang Allah takdirkan untukmu adalah selalu yang terbaik. Kamu itu hebat, makanya Allah memilihmu agar bisa lebih kuat.
Ternyata kekhawatiran laki-laki yang paling dahsyat dan menyita energi terbanyak adalah kekhawatiran mereka sebelum menikah.
Laki-laki harus berpikir seribu kali jika ingin memutuskan untuk menikah. Iya kan? Kenapa?
Karena beban dan tanggung jawabanya yang luar biasa dahsyat yang harus mereka pikul sejak awal. Tidak tanggung-tanggung, ia disejajarkan dengan Mitsaqan Golizah! Sebuah perjanjian yang berat yang langsung stempel sahnya datangnya dari Allah.
Karena tugas menjadi seorang suami nantinya bukan hanya dia persembahkan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk keluarga dan kepemimpinannya harus dia pertanggungkawabkan dihadapan Allah Azza wa Jalla.
Mereka harus memiliki kemampuan untuk menafkahi istri dan anaknya. Mereka akan mulai berpikir tentang pekerjaan, penghasilan dan bagaimana masa depan keluarganya ketika bersamanya nanti.
Tanpa perempuan tahu, setiap laki-laki diserang sindrom berpikir berlebih. Mereka disibukkan dengan pikiran,
“dengan apa anak dan istriku akan makan esok hari?”
Ditambah lagi dengan berbagai persyaratan pernikahan yang wajib mereka kumpulkan. Uang resepsi untuk perempuan juga uang resepsi untuk di keluarganya. Yang bugget angkanya bisa fantastis sambil bikin mata hanya melongo saking tingginya.
Kita buka-bukaan aja, sewa gedung, catering, riasan dan baju pengantin, dan berbagia tetek bengek urusan acara pernikahan harus mereka pikirkan.
Tidak cukup sampai disitu, mereka juga harus menyiapkan mahar untuk perempuannya. Apalagi kalau yang dilamarnya adalah seorang perempuan bugis yang disebutin uang panaiknya saja bikin ngeri, bisa-bisa tabungan terkuras habis untuk syarat yang satu ini.
Ternyata kekhawatiran mereka nggak sampai disitu. Mereka juga akan memikirkan biaya-biaya di awal setelah pernikahannya nanti. Otomatis kehidupan pasca nikah akan berjalan dan bantuan dari keluarga akan di stop. Mereka akan mulai hidup mandiri. Menyediakan kebutuhan mereka sendiri. Dan itupun harus laki-laki pikirkan. Dengan apa? Tentunya bukan dengan daun-daunan yah!
Itu baru kekhawatiran yang berhubungan dengan finansial. Ada kekahwatiran jenis lain yang semestinya juga mereka perlu pikirkan.
Seperti apakah mereka memang sudah siap menjadi seorang suami? Paling tidak hafalan Alqurannya sudah ada untuk dia bacakan ketika menjadi imam sholat tahajjud bersama dengan istrinya nanti.
Bagaimana dengan hukum fiqih dalam berumah tangga? Sudah berapa buku bacaan yang sudah dihabiskan untuk menelaah berbagai persoalan rumah tangga nantinya? Ahh… Bukankah segala keputusan nanti ada di pundak-pundak mereka, para lelaki?
Mereka tak hanya harus mengerti hukum, menghafal alquran tapi juga belajar bagaimana cara bermuamalah dan memimpin sebuah keluarga.
Mereka juga harus mampu melindungi jiwa dan raga anggota keluarganya. Memastikan agar dalam rumah tangganya, setiap anggota keluarga merasa nyaman. Merasa betah dan menggiringnya menjadi baiti jannati.
Itu baru suami. Belum ketika menjadi seorang ayah, keresahan dan kekhawatiran lelaki pun akan bertambah.
Bagaimana pola pendidikannya, bagaimana peran ayah dalam mendidik, dan seabrek pertanyaan lainnya.
Boleh jadi karena kemumetan berjuang inilah yang menyebabkan mereka, para lelaki itu spesial dalam rumah tangga islam. Tidak heran taat kepada mereka disepadankan dengan 8 pintu syurga.
Masya Allah.
Bahkan Rasulullah sendiri mengatakan,
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”
Hari ini sudah sepantasnyalah kita sebagai perempuan yang mereka pilih menyadari betul kekhawatiran yang mereka rasakan. Sehingga tidak ada lagi keegoisan yang mendarat untuknya.
Harusnya kita berada disampingnya untuk membantu perjuangannya melewati setiap kekhawatiran itu. Dan berkata kepadanya,
“Sayang, kekhawatiran itu tidaklah sulit karena kita bisa melewatinya berdua, InsyaAllah.”
***
Saya sudah nyiapain kado terindah loh kak! Sampai-sampai saya yakin kamu bakalan lupa dengan setiap kekhawatiran yang kamu perjuangkan nanti. Jangan menyerah yah! Jangan terlalu khawatir kak! Tetap harus semangat. Ditunggu perjuangannya. Jangan kelamaan. Hehehhe….
semakin takut ngomongin orang lain. takut kalau suatu hari kita jadi seperti yang diomongin. takut karena yah, kita cuma beda dosa aja.
semakin hati-hati membuat komitmen. lebih banyak menolak daripada menerima. lebih banyak berkata tidak daripada berkata iya. punya not-to-do list alih-alih to-do list saja.
semakin sabar urusan rezeki. sudahlah, yang memang untuk kita pasti akan datang dari mana pun itu. yang bukan untuk kita, nggak akan sampai meskipun sudah di depan mata. juga, semakin sadar bahwa setiap manusia bisa jadi wasilah rezeki bagi manusia lain. termasuk diri kita.
semakin bersyukur sama pasangan, anak, dan keluarga. rasanya, di luar sana orang tuh macam-macam banget. kadang artinya "ada-ada saja". pasangan yang setia, terbuka, dan menyayangi itu sangat istimewa. selebihnya maafkan dan terima.
semakin ingin mengikhlaskan. barang-barang, kepemilikan, masa lalu, luka, beban. ingin semua bersih agar setiap hari bisa berjalan dengan hati ringan.
semakin yakin dengan jalan yang dipilih. ternyata nggak berubah, krisis identitas itu selalu ada di setiap fase hidup. tugas kita adalah membuat kapital identitas yang jauh lebih besar daripada krisisnya. caranya, tetap teguh berjalan pada pilihan. jadilah pemenang yang sabar.
semakin sadar betapa kecilnya manusia. bumi Allah luas, kekuasaan Allah tinggi, Allah Mahabesar. nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah.
semakin sayang orang tua. ya Allah, muliakanlah kedua orang tua kami.