Sebuah prinsip yang kontradiktif ketika mengharap anak sholih/sholihah tapi usaha orangtuanya terbatas dunia.
Terlepas dari bahasan proses bagaimana pra-nikah sampai me-nikah nya sesuai syari'at atau tidak. Hal ini mungkin masih bisa diperbaiki sesegera mungkin, meski tak sempurna.
Ane ingin membahas dikit terkait proses menuju kelahiran. Bagi antum-antum InsyaAllah calon ayah, ketika istri antum itu diperiksa oleh laki-laki lain apakah tidak ada rasa cemburu di hati antum?
Lebih jauh dari itu, apakah kita tidak takut sebagai seorang _qowwam_ yang diminta pertanggungjawaban nantinya, istri kita dipegang dan dilihat aurat vitalnya oleh laki-laki non-mahram?
Khawatirlah kita sudah menjadi suami dayyuts.
Bukan berarti gaboleh berobat ke nakes laki-laki, boleh dan ada rukhsohnya. Tapi beda halnya ketika menyangkut persalinan ini, sangat-sangat ketat seleksinya untuk memilih siapa yang membantu proses bersalin.
Berusahalah sedikit lebih banyak, untuk mencarikan perawat, bidan, dokter perempuan di kota anda. InsyaAllah ada jalan. Jikalau pun tidak ada dan mentok, ber-tawakkal lah kpd Allah krn kita sudah berusaha sedangkan kondisi darurat bisa kehilangan nyawa bila tidak SC segera dan yang tersedia hanya dokter obgyn laki-laki.
Yang ingin ane highlight adalah jangan bermudah-mudahan dalam hal ini, membolehkan laki-laki lain melihat, memegang aurat istri kita. Alasannya hanya karena disana nyaman, sudah cocok dll. Usahalah dikit wahai suami.
Ridho kah Allah dg hal itu? Salah satu usaha dan prinsip kita itulah yang kelak bakal mendorong anak-anak kita menjadi generasi Sholih-Sholihah. InsyaAllah
Wallahu a'lam bis showab
-Dari ane yang masih belajar banget menjadi suami dan calon ayah-








