Antara kembali ingin jatuh cinta atau hanya sekedar rasa yang numpang lewat didalam isi kepala? Entahlah..
Aku mulai mengaguminya, mulai sering memandangi wajahnya, dan mulai selalu ingin ada dirinya dalam pikiran. Antara ingin memulai goresan luka baru atau perjalan terakhir hati yang sudah lama kosong.
Aku ingin kembali jatuh cinta (lagi), dia seakan bisa digapai, tapi kegalan demi kegalalan di masa lalu masih saja menghantui. Terlampau banyak kegalaln itu, sampai diri ini tak berani untuk menjadi kepantasan bagi yang lain.
Jika boleh jujur, aku pun selalu ingin memiliki seseorang yang ku cintai dan mencintaiku. Kesendirian ini terkadang begitu menyakitkan, tapi terkadang juga melegakan.
Ternyata benar kata orang, duapuluh empat tahun adalah fase yang sangat rumit untuk memulai perjalan cinta baru, untuk mendekati seseorang adalah misi yang sangat sulit untuk sekedar dimulai.
Takut akan penolakan, takut jika dirinya sudah punya pasangan, dan takut jika ini hanya jebakan hati yang sudah terlalu lama sendiri.
Citra diri yang seakan terlalu religius ( kata orang ) juga menghambat cara untuk memulai pendekatan. Kapasitas sebagai pengajar yang mungkin akan dianggap tak pantas jika berjalan berdampingan dengan seorang perempuan. Title “ustadz” yang disematkan juga merupakan dinding yang tak bisa diruntuhkan.
Namun salahkah jika aku jatuh cinta? Salahkah jika aku ingin dicintai? Salahkah jika aku ingin merasakan memiliki seorang pasangan?
Tuhan, aku tak memilih menjadi diriku yang sekarang, yang dikelilih oleh dinding dinding tebal untuk bergerak bebas seperti remaja pada umumnya. Aku menerima semua itu, aku sadar itu juga penting untukku. Tapi tuhan, aku hanya ingin ditemani, aku hanya ingin dimengerti, aku hanya ingi didengarkan, diajak bercerita, ditanya kabar, dan hal hal yang seakan indah itu yang belum pernah ku rasakan.
Aku tau ketetapan-Mu selalu yang terbaik, alur kisah yang kau berikan selalu tepat. Aku akan bersabar. Tapi jika aku harus jatuh cinta lagi, ku harap itu yang terakhir dan berakhir dengan memiliki bukan rangkaian patah hati lagi.