5 Maret 2022
Redeeming Love
Mencintai seseorang itu sulit, pastilah mencintai Tuhan lebih sulit lagi
Setidaknya itulah yang beberapa bulan belakangan ini saya percayai dalam hampir setiap hari-hari minggu yang saya lewati tanpa menyertakan Tuhan di dalamnya. Namun, baru saja Tuhan menyangkal hal itu, benar-benar di jam 02.30 dini hari Tuhan membantah apa yang saya percayai itu dengan cara yang unik, dengan caraNya Tuhan. Semua dimulai ketika beberapa hari lalu saya tanpa sengaja membaca cerita mengenai Hosea dan Gomer, dan menemukan suatu film yang terinspirasi dari cerita tersebut, Redeeming Love. Meski dikemas dalam genre adult-romance, namun film yang diangkat dari novel karya Francine River tersebut menurut saya sukses untuk memberikan visualisasi yang cukup duniawi mengenai cerita Nabi Hosea dan istrinya yang merupakan seorang pekerja prostitusi. Pada inti ceritanya di Alkitab, Tuhan menyuruh Hosea menikahi Gomer sebagai simbol dari relasi yang rusak antara Tuhan dengan umatNya, Israel.
Dengan alur yang sama pada cerita di Alkitab, garis besar dari film tersebut mengenai bagaimana lika-liku rumah tangga Michael Hosea (yang menggambarkan sosok Nabi Hosea) dan istrinya, Angel (yang menggambarkan Gomer). Setiap kali Angel selalu pergi dari rumah dengan berbagai alasan, maka setiap kali itu juga Michael akan selalu menjemputnya, hingga pada akhirnya ketika Michael membiarkan Angel pergi karena menurutnya Angel memiliki kehendak bebasnya, maka yang dilakukan Michael adalah menunggu dan mendoakan Angel hingga pada akhirnya Angel berbalik kepadanya. Film itu sangat menyentuh, sukses menggambarkan kesetiaan Michael, Hosea, dan Tuhan terhadap Angel, Gomer, dan saya. Film itu berhasil membuat saya menangis, bukan karena suasana romantis yang dikemas di dalamnya, tapi karena saya sadar di kehidupan nyata ini saya adalah perempuan sundal itu dan setiap kali itu juga Tuhan tidak pernah lelah menjemput saya. Saya selalu merasa kisah paling romantis di dalam Alkitab adalah kisah Maria-Yusuf, kisah Rut-Boas, dan kisah Yakub-Sarah. Saya selalu berharap suatu hari nanti dapat menemukan pria yang memiliki karakter-karakter seperti pada tokoh-tokoh tersebut. Namun saya rasa saya tidak sepenuhnya benar, karena ternyata cerita paling romantis dalam Alkitab adalah cerita Hosea dan Gomer yang melambangkan kesetiaan Tuhan di tengah ketidaksetiaan umat Nya, yang melambangkan my unfaithfulness dan His faithfulness. Justru di tengah pelarian saya dari Tuhan, disitulah Tuhan menyatakan diriNya dan setiap kali selalu menerima saya kembali dengan tangan terbuka.
Bagi saya yang memiliki pergumulan dengan komitmen di dalam relasi, berusaha untuk tetap jalan bersama Tuhan adalah sebuah paradoks. Bagaimana caranya saya bisa terus berjalan dituntun Tuhan ketika saya sendiri tidak suka tangan saya digenggam? Bagaimana caranya saya bisa mengikuti Tuhan yang menuntut komitmen penuh disaat saya sendiri selalu menjauh dari Tuhan? Lucunya, saya baru sadar bahwa pemikiran seperti itu akan membentuk pola pikir yang mengatakan seakan-akan mengikut Tuhan adalah karena pilihan dan kemauan saya, bukan karena Anugerah. Padahal, mengikuti Tuhan selama ini hanya perlu penyerahan diri sepenuhnya, seutuhnya membiarkan Tuhan untuk menangkap saya lagi dan lagi dengan redeeming love-Nya. Saya tidak mengatakan bahwa mengikut Tuhan berarti adalah suatu proses yang pasif, karena untuk menikmati kasihNya saya perlu untuk belajar mendengar, saya perlu berserah, saya harus mau untuk diajar, harus mau jalan berbalik arah ketika Tuhan memanggil. Disitu saya menyadari bahwa mencintai Tuhan tidaklah sulit, tapi keberdosaan saya lah yang membuatnya menjadi berkali-kali lipat lebih sulit, kebebalan saya dan perasaan malu dalam dosa yang membuat saya tidak dapat melihat betapa saya sebenarnya rindu dengan Tuhan serta betapa rinduNya Tuhan kepada saya. Saya bukanlah seorang yang dapat mencintai Tuhan dengan sempurna, namun justru di dalam Tuhan lah, Ia menyempurnakan cinta saya kepadaNya. Dengan iman bahwa Tuhan mencintai saya dengan penuh kesetiaan dan redeeming love-Nya, maka cukuplah cinta yang dapat saya terima di dunia ini. Amin.
O the deep, deep love of Jesus!
Hymn by Samuel Trevor Francis
"O the deep, deep love of Jesus!
Vast, unmeasured, boundless, free,
rolling as a mighty ocean
in its fullness over me
Underneath me, all around me,
is the current of Thy love;
leading onward, leading homeward,
to Thy glorious rest above.
O the deep, deep love of Jesus!
Spread His praise from shore to shore;
how He loveth, ever loveth,
changeth never, nevermore;
how He watches o'er His loved ones,
died to call them all his own;
how for them He intercedeth,
watcheth o'er them from the throne
O the deep, deep love of Jesus!
Love of ev'ry love the best:
'tis an ocean vast of blessing,
'tis a haven sweet of rest.
O the deep, deep love of Jesus!
'Tis a heav'n of heav'ns to me;
and it lifts me up to glory,
for it lifts me up to Thee."





















