Aku (pernah) ingin (di inginkan)
Teruntuk kamu yang pernah datang, pernah hilang, pernah kembali, lalu lenyap lagi lalu kemudian datang lagi dan kembali, entah akan pergi (lagi) ataukah menetap disini ?!!
kamu yang pernah datang dalam hidupku (dulu) lantas hilang, datang, lenyap, kemudian muncul lagi. Untuk kamu, yang dulu ku perjuangkan, yang dulu ku (percaya) bahwa denganmu aku (akan) berjuang, aku telah memperjuangkanmu di depan ibuku, orang yang telah melahirkanku di dunia. dan aku mengemis padanya untuk sebuah kata ‘iya’, Namun ternyata apa ?
kau datang datang pun pergi begitu saja, bahkan tanpa pamit. kau pergi sesukamu. seakan-akan..
kau datang bertamu di rumahku, lantas aku ingin mempersiapkn rumahku sebelum kau masuk, untukmu kemudian ku suruh menunggu di teras, tapi ternyata setalah rumahku siap, kau pergi begitu saja. bahkan tanpa pamit sekalipun.
Aku tahu bahwa kau datang mengetuk pintu (hati) ku saat kau merasa lelah, merasa sepi, ketika kau memerlukan tempat persinggahan sementara utnuk kemudian kau tinggal pergi (lagi).
saat itu aku terlalu bahagia, sat kamu singgah sebentar di pelataran rumahku, bahkan kau sempat masuk meski hanya sekedar ‘mampir’
untuk nama yang ku sebut ‘kamu’… kau belum tahu rasanya menjadi tempat persinggahan, bukan ???
hhem… sepertinyakau datang hanya menghaturkan sebuah ‘luka’ yang kau balut dengan bahagia..
kau datang memberi harap, lalu kau pergi dengan meninggalkan luka.
Teruntuk kamu yang sedang di ‘sana’. Biar kutebak, kamu sedang membelai lembut punggung tangan kekasihmu itu, bukan?? ah iya,, maaf aku hanya menerka, tapi apakah benar ???
Aku tidak memiliki cukup kekuatan, lantaran pada akhirnya air mataku menganak sungai di cekungan pipiku. (maafkan aku yang pernah menginginkanmu)
Menyakitkan menjadi seseorang yang tidak pernah kamu toleh sedikitpun, meski sekedar untuk kamu tahu bagaimana keadaannya. Menyakitkan menjadi seseorang yang diinginkan hanya ketika kamu sedang ingin bersembunyi dari perih. ingin sembunyi dari sepi. Menyakitkan memang menjadi ‘persinggahan;
Padahal yang aku tahu. Cinta akan selalu kamu sambangi dalam sakitmu, atau bahagiamu. Dan yang aku tahu. Aku bukan cintamu.
ah… aku lupa.. bukankah seorang laki-laki itu hakikatnya adalah ‘pengembara?’ pengembarayang selalu berjalan kesana-kemari. Singgah sebentar untuk sekedar menikmati suasana, mencari minum, atau beristirahat menyeka peluh. dan selebihnya akan melanjutkan perjalanan, bukan begitu ? kamu tahu apa pemutus perjalanan itu ?
pemutus perjalanan itu bernama PERNIKAHAN. selama belum mendapatkannya, kau akan tetap menjadi pengembara bukan ??
dan bodohnya aku… hanya menjadi tempat persinggahan. Kamu tahu ?? bahwa di dunia ini tiada yang kekal. bagaimana jika Tuhan menukar posisi kita ?? menjadi ‘kamu’ yang beradadalam rasa kecerwa, merintih, menngis, marah, sedih saat dikecewakan ?
apa mungkin perlu kamu diperlakukan sebagai ‘persinggahan’ (juga) ??? agar kau tahu bagaimana sakitnya hanya menjadi tempat persinggahan (saja) tanpa mau menetap dan sang empunya [un hanya menerka sembari berharap sebuah penetapan darimu ???
Teruntuk kamu yang masih hilang. Aku pernah mencintaimu dengan tulus. Aku pernah merasa dibahagiakan olehmu walau sebenarnya bukan itu maksud kedatanganmu. Aku pernah ingin diinginkan olehmu. Saat ini, aku berhenti.