Sabtu, Pukul 2.45 dini hari.
Terdengar lagu Make You Mine - Public dari radio Prambors, di meja aku sedang membaca buku Charles Bukowski - On Writing dan Cerita-cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya - Norman Pasaribu.
Tadi sore hingga malam aku baru saja bermain bulutangkis, dengan teman-teman yang tak terlalu aku kenal dekat, tapi entah kenapa aku menyukai mereka. Walaupun berjarak, aku merasa mereka sudah menganggapku teman dan menanyakan kehadiranku. Aku menyukai itu.
Kupikir aku orang yang cukup aneh, tentang perhatian orang-orang, maksudku yang kini jadi teman- atau tidak. Aku menyukainya, aku juga akan memikirkan berhari hari apabila aku melakukan kesalahan di depan mereka- sekaligus, aku akan menjadi sangat beku dan tak ada rasa- jika aku sudah tidak menghargai seseorang. Mood ku berubah-ubah, aku juga cepat bosan. Kadang aku takut dengan diriku sendiri. Dengan hal hal yang aku pikirkan secara berlebihan, tentang hal hal yang aku lakukan secara ekstrem dan tak punya hati. Apakah itu muncul dari insting atau alam bawah sadar? entahlah -
Aku merindukan sahabat-sahabat lamaku, orang-orang yang kuanggap cocok, yang aku anggap paling tahu isi hatiku - kalaupun pada satu titik mereka tidak, aku sudah tau bagaimana cara menangani mereka dan aku tau aku akan baik baik saja.
Bersama dengan teman-temanku yang berada di sekitarku sekarang, aku pikir itu hanya pemulihan dari rasa-rasa kesepian, belum ada yang benar-benar ku rasa menyentuh isi jiwa dan kepalaku serta benar-benar menyelami diriku.
Aku terjaga di dini hari dan merasa tak enak sekali dengan kehidupan. Entahlah ini pengaruh hormon atau gejala depresi, aku takkan pernah benar-benar tahu. Bencana ketika aku malah menghubungi D dan mengharapkan penghiburan dan rasa nyaman. Justru dia lah yang akhirnya membuat aku semakin tidak nyaman.
Aku banyak berpikir, D. Dan karena aku banyak berpikir itulah - aku makin tidak tahu apa-apa.
Lainnya- aku harap yang aku tuliskan ini juga menjadi penghiburan bagiku. Tentu, jadi harapan yang sia-sia pula. Orang yang bersama denganku saja takkan pernah benar-benar paham, apalagi ngomong sendiri di tumbr ini.
Kadang aku memikirkan masa masa yang sudah aku lalui, hal apakah yang membuatku hidup dan jadi tak menjemukan dan muram seperti ini? mungkinkah kini aku terlalu menyendiri, menahan diri untuk melebur dengan kerumunan, berjarak dan melihat dari jauh karena aku merasa diri lebih baik- padahal aku sama saja buruknya. Mungkin aku harus keluar dan mencari lagi, tapi sekarang kan lagi pandemi, sangat berbahaya keluyuran dan keluar rumah. Tapi kadang, kupikir itu akan sedikit sepadan dengan berada di rumah dan mulai menjadi gila.
Aku bertanya-tanya tentang arah hidupku. Rasanya sedang stuck dan buntu sekali. Padahal desember bulan depan, sekitar dua hari lagi aku akan yudisium, wisuda- dan semoga kembali bekerja dengan semangat baru. Tapi kenapa aku jadi melemah dan merasa depresi seperti ini di sela-sela kekosongan waktu ini. Mungkinkah karena aku mendambakan kesibukan, orang lain, merindukan mengeluh tentang pekerjaan rutin yang membosankan tapi tetap aku lakukan karena aku diam diam menyukai semua kejemuan itu karena setidaknya aku memiliki power, kendali dalam hidupku untuk bertemu orang-orang dan melakukan sesuatu?
Entahlah, aku tak tahu, Mungkin juga aku tidak akan pernah benar-benar tahu.