“Nyatanya—Tidak Semua yang Bertahan itu Masih Hidup”
Beberapa tahun terakhir, rambut² itu memilih gugur lebih dahulu daripada menetap. Maka potongan cepak kembali dibiarkan mengambil bentuknya, seperti musim yang berulang tanpa pernah diminta datang,
Di atas meja, obat²an tersusun rapi seperti kalender yang tak pernah gagal mengingatkan bahwa tubuh ini masih harus diajak berunding setiap hari. Pagi, siang, malam. Waktu berjalan sebagaimana mestinya, hanya saja kehidupan terasa seperti seseorang yang lupa menjemput dirinya sendiri,
Cermin masih menggantung di tempat yang sama. Namun wajah yang singgah di hadapannya semakin sulit dikenali. Ada sesuatu yang perlahan luruh dari sana; bukan usia, bukan pula rupa, melainkan keyakinan bahwa segala sesuatu akan baik² saja,
Rumah ini tetap utuh. Dindingnya tidak runtuh, atapnya tidak bocor. Namun ada jarak yang tumbuh dalam diam di antara ruang²nya. Jarak yang tidak dapat diukur dengan langkah kaki, sebab ia bersemayam di tempat yang lebih dalam dari sekadar lantai dan tembok,
Entah sejak kapan kehilangan tidak lagi datang sebagai peristiwa. Ia menjelma kebiasaan. Datang, duduk, lalu menetap tanpa perlu dipersilakan. Mengambil sedikit demi sedikit hal yang dahulu dianggap bagian dari diri, hingga yang tersisa hanyalah bayangan yang masih mengingat namanya sendiri,
Sementara itu, cahaya selalu tampak seperti kabar baik yang tersesat. Sesekali terlihat di kejauhan, cukup dekat untuk dipercaya, terlalu jauh untuk digenggam. Dan seperti biasa, gelap selalu lebih dulu tiba seolah mengetahui jalan pulang yang lebih cepat,
Barangkali memang ada hal² yang tidak benar² mati, tetapi juga tidak lagi hidup. Seperti lilin yang terus menyala di ruang kosong, menghabiskan dirinya sendiri perlahan², tanpa pernah tahu untuk siapa cahaya itu dipertahankan...
















