Di penghujung tahun itu standar biasanya suka ada rangkuman kegiatan yang terjadi dari awal tahun sampai akhir bulan ini. Hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun 2016, menurut kal...

Game Changer & Make Some Noise
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Jar Jar Binks Fan Club
Claire Keane
One Nice Bug Per Day

No title available

#extradirty

Jimmy Eat World
No title available

gracie abrams
Noah Kahan
Interview Vampire Daily
cherry valley forever
macklin celebrini has autism
Cookie Run:Kingdom Official!

PR's Tumblrdome

tannertan36

roma★
The Stonewall Inn
YOU ARE THE REASON
seen from Germany

seen from Russia

seen from Germany
seen from Panama

seen from United Kingdom

seen from Russia
seen from Germany

seen from Russia
seen from Indonesia
seen from Kazakhstan
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Ecuador
seen from United States

seen from Bangladesh
seen from Germany

seen from Germany
seen from United States
@themoonrang-blog
Di penghujung tahun itu standar biasanya suka ada rangkuman kegiatan yang terjadi dari awal tahun sampai akhir bulan ini. Hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun 2016, menurut kal...
Munculnya Orde Baru Jilid II
Hendra Try Ardianto - geotimes
Rasa-rasanya, reformasi yang terjadi 17 tahun lalu kini telah mengalami titik balik. “Orba Jilid II” (tanpa Soeharto di dalamnya) seakan bersemi kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Beberapa pertanda mulai muncul, persisnya ketika pelarangan bersuara sudah mulai menjadi kemahfuman lagi. Bahkan beberapa di antaranya telah diinstitusionalisasikan ulang. Sungguh menyedihkan!
Agustus lalu, kita tersentak mendengar revisi RUU KUHP yang berencana akan mencantumkan pasal penghinaan presiden. Bukan berarti saya sepakat bahwa presiden boleh dihina, toh itu juga presiden kita. Namun, dampak politik riil yang terjadi bakal begitu merisaukan. Ingat, ada berapa orang yang dulu ditangkap, melarikan diri dan menjadi buron, juga berbagai pers yang dibredel, saat Soeharto tidak berkenan hati dengan suara-suara yang mengkritiknya. Ini riil, bukan asumsi normatif bahwa hukum pasti netral (benar).
Beranjak Oktober, kita menjadi semakin galau akibat Surat Edaran Polri No. SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech). Sebuah surat edaran yang mampu menersangkakan orang dengan ancaman pidana penjara selama 5 tahun dan denda paling banyak 500 juta rupiah. Mengerikan sekali! Apa sebenarnya batasan ujaran kebencian. Jangan-jangan, dalam praktiknya nanti, setiap usaha kritik dan berbeda pendapat, kalau seseorang semisal pejabat tak suka dengan isi kritik itu, bisa dikenakan pasal ujaran kebencian.
Ingat, negara ini sedang porak-poranda dari segala lini. Rakyat teriak-teriak bukan karena mereka membenci pemimpinnya, namun keabaian sang pemimpin yang sudah tuli akan suara rakyatnya sendiri. Kalau mereka yang mengkritik dengan pedas para pejabat lalu bisa mudah dimasukkan bui, bisa penuh semua lapas di Indonesia. Wongrakyat bawah sekarang sedang marah-marahnya akibat asap, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hendak dikerdilkan, hingga yang paling kasat mata ketika tanah-tanahnya direbut oleh korporasi.
Belum genap seminggu memasuki November, Provinsi DKI Jakarta ternyata ikut ketularan virus serupa, dengan terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 228 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pelaksanaan Penyampaian Pendapat di Muka Umum. Titik baliknya sama, meski intensitasnya agak lebih kecil (hanya Pergub), yakni bersuara itu harus dibatasi–kalau perlu ditakut-takuti agar tak bersuara.
Gejala-gejala semacam ini adalah salah satu indikator yang saya pahami ada dalam rezim Orba dulu. Saat masih kuliah ilmu politik, nyaris seluruh buku pegangan kuliah yang mengupas rezim Orde Baru meletakkan rezim ini sebagai rezim: Anti-kritik dan Alergi-protes.
Apakah keberadaan regulasi-regulasi di atas adalah pertanda akan lahirnya Orba Jilid II? Saya kira iya. Mari kita lihat kejadian di lapangan. Di wilayah pers, berulang kali terjadi pembungkaman dan pembredelan atas kegiatan mahasiswa yang bersendi pada praktik jurnalisme ini. Pers Mahasiswa (selanjutnya persma)Dianns, tercatat pernah dilarang diskusi dan nonton film oleh pihak Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.
Persma Aksara pernah diancam akan dibubarkan jika menulis tentang keburukan Fakultas Ilmu Keagamaan (FIK) Universitas Trunojoyo, Madura. Yang terbaru, majalah Lenteradibredel oleh kepolisian dan Rektorat Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Belum berakhir dengan kejadian-kejadian tersebut, beberapa minggu lalu muncul lagi aksi sweeping pihak Rektorat Universitas Mataram terhadap persma Media beserta pengusiran seluruh awak redaksi dari sekertariat mereka.
Di wilayah konflik agraria, saya kira catatannya sudah tak terhitung lagi. Mulai dari sekadar menyobek iklan korporasi hingga masalah mencabut patok pembatas yang dilakukan korporasi, semua masalah remeh-temeh yang tak menyenangkan korporasi semacam itu bisa berakhir dengan urusan polisi dan pengadilan. Ironis!
Adapun rekor terbesar kasus kriminalisasi atas “perbuatan yang tidak menyenangkan kepada pihak lain” adalah wilayah media sosial (medsos). Tak terhitung lagi jumlahnya orang yang dikasuskan lantaran perkara note, status, atau sekedar twit di jejaring internet. Mulai dari kasus yang menkritik pelayanan hingga kasus yang sangat tidak masuk akal sekalipun, semacam status cemooh atas kehidupan sebuah kota, Florence Sihombing sungguh bernasib sial dalam hal ini. Juga polemik sastra yang seharusnya otonom sebagai proses berkebudayaan, ternyata mengisahkan cerita Iwan Soekri dan Saut Situmorang yang dikriminalisasi oleh pasal karet penghinaan dan pencemaran nama baik.
Dari semua ini, apalagi yang bisa dikatakan kecuali Indonesia ke depan akan mengarah pada kemunculan tatanan Orbais babak kedua. Regulasi yang menakut-nakuti orang bersuara sudah dibuat, praktik di lapangan sudah ratusan bahkan ribuan kasus, maka ini adalah pertanda nyata bahwa spirit “anti kritik dan elergi protes” yang disemai oleh Soeharto selama 32 tahun lamanya kembali menjamah kehidupan kita sehari-hari sekarang. Tinggal menunggu saja, kapan giliran Anda sekalian akan tersangkut persoalan semacam ini. Waspadalah!
Kadang saya pernah berpikir nakal, andaikan “perbuatan tidak menyenangkan” dan “pencemaran nama baik” ini di balik logikanya, bukan para pejabat yang mengkriminalisasikan rakyatnya, apa yang akan terjadi? Sebab, saya sering melihat rakyat merasa tidak senang dan merasa dipojokkan oleh statemen pejabat/pemimpin daerahnya. Bisakah rakyat mengadukan ke polisi kalau sang pejabat melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada rakyatnya? Menurut logika, itulah yang ideal jika kita taat nalar supremasi hukum, bahwa siapa pun di hadapan hukum adalah setara.
Di luar ini semua, saya harus memberikan peringatan pada khalayak publik akan kelahiran Orba Jilid II yang mengancam kehidupan kita mendatang. Mari kita serempak menghadang laju perkembangan Orba Jilid II ini. Untuk itu, saya hendak mengatakan: “Awas Bahaya Laten Orbais!” Atau dengan sebuah plesetan: “Waspada Orbais Gaya Baru!”
Just some foggy horizon Clouds with no shape Waiting for no sun Cover the tracks of the mountains
Stars and Rabbit
CHVRCHES - Never Ending Circles (lyric video)
Taken from the new album ‘Every Open Eye’ released 25th September.
Baroque Spanish sculpture was long considered gaudy and secondary to the paintings of the same era by celebrated artists like Diego Velázquez and Francisco de Zurbarán. Both the sculptures and paintings embraced pathos in religious-themed art, with the open weeping of Mary, the suffering of Jesus, and the torment of the saints. Recently the Metropolitan Museum of Art acquired two 17th-century statues by Pedro de Mena, the master of this emotive sculpture, and the rosy, tear-streaked cheeks of the “Mater Dolorosa” and the bloodied body of “Ecce Homo” are now on view in the European Paintings galleries.
The Gore and Agony of New Baroque Sculptures at the Met
Show us your close-ups. Zoom in on your world and share some up-close photos below. Get closer with our “Painting Up Close” Family Workshop this weekend at Art Splash. Portrait of a Right Eye, c. 1800, England
Through interviews with the people behind services like applemusic, spotify, and googleplay—as well as IRL experts at local gyms and bars—marchogan explores the increasingly vital role of playlists in today’s music culture.
Maghrib mengambang lirih dan terabaikan, Tuhan kalah di riuh jalan
SILAMPUKAU
Nolita View - Dusky
"Dusky" is the new song by London band Nolita View, from their forthcoming EP, which will be released later this year. Nolita View will be playing at The Windmill, Brixton, in the London (UK) on March 7th, 2015. This is a highly recommended show. Don’t miss it if you are in London area. Tickets
Nolita View forms part of “The Jungle Bands Project”. Read more here.
Links: Soundcloud | Bandcamp | Facebook | Twitter | YouTube
Young Guns - Speaking In Tongues
Music video by Young Guns performing Speaking In Tongues, taken from the new album “Ones And Zeros”, due out on June 8 via Wind-Up Records.
Franck Bohbot - Cinema
The End of Days
It’s official, truth is dead. The end is nigh. Over the weekend, dark cartoon lord David OReilly’s blog of banal photographs masquerading as #HyperRealCG officially suckered Laughing Squid, Gizmodo and The Huffington Post into mildy hysterical clickbait headlines like “I can’t believe these hyper real pictures are completely CG and not real,” and “CGI Faces Are Officially As Real As Actual Human Faces”. Looking at these Images of twee gardens, public sculpture, glossy interiors and bland ephemera, it’s impossible to tell which images are ‘real’ and which are fake.
This is more than just an in-joke for CG artists. It’s not simply another “blue and black or white and gold?” optical illusion: Hyper Real CG marks a shift - a death, almost. If the public believes that CG artists can and do spend weeks of their lives faking boring and impossibly detailed images (like the fire hydrant above) then it makes conspiracy theorists of us all: everything and therefore nothing is true. It’s a sad state of affairs, but the blog isn’t to blame: it simply expresses a latent shift towards a parity between the photograph and the CG image.
In that sense, Hyper Real CG was inevitable, but it’s also a cynical and tragic landmark of visual culture. CGI and reality are now, to all intents and purposes, interchangeable. Despite their difference being legion, those differences officially do not compute in the public domain. When something can be both true and false - like Schrodinger’s cat is both alive and dead - we cease to care: the cat is just a theory, and now the image is all in your mind. Every shade of grey is gone and the joke is on you.
It doesn’t matter that some of these images really might be CGI and some are clearly not. That isn’t the point. The point is that the public believes that anything can - and will - be faked.
RIP reality.
Franck Bohbot (b.1980, France/USA) - House of Books
Franck Bohbot is a French fine art photographer based in Brooklyn, New York. He focuses his artistic research on public spaces, urban landscapes and, more recently, on documentary portraits. His thematics study the relationship between the individual and architecture. Some series study the relationship between fiction and reality.
"I consider myself an observer. I play with what i have in front of me. I like when the viewer appropriate himself a photograph. Sometimes a photograph deliver a message sometimes not. I make pictures with my heart. Photography is moment of solitude, happiness and pain"
© All images courtesy of the artist
[more Franck Bohbot]
KEROSENE - KEROSENE
<a href="http://thekeroseneband.bandcamp.com/album/kerosene">KEROSENE by KEROSENE</a>
INTRODUCING
Kay Proudlove - Drunk Girl Vow
Kay Proudlove is a promissing Australian singer-songwriter from Wollongong. She names influences by Darren Hanlon, Katie Noonan, The Beatles, Tegan and Sara, Florence and The Machine and Paolo Nutini.
"Drunk Girl Vow" is the opening track of her last release "Finding Words" which can be streamed here
Links: Tumblr | Bandcamp | Facebook | Twitter
Lingkar Nagreg, Nagreg Kab. Bandung, Bandung, Indonesia
In the Realm of Hokkaido
via yama-bato & learningtosee