#30DayWritingChallenge
dirt enthusiast

PR's Tumblrdome
Sweet Seals For You, Always
YOU ARE THE REASON
No title available
Monterey Bay Aquarium

❣ Chile in a Photography ❣
Cosmic Funnies
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
RMH

No title available
trying on a metaphor

blake kathryn

titsay
Keni
TVSTRANGERTHINGS

tannertan36
Misplaced Lens Cap

Kiana Khansmith

Discoholic 🪩
seen from United States
seen from Bahamas
seen from United States
seen from Mexico

seen from Singapore

seen from Egypt
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from T1

seen from Portugal

seen from Türkiye
@thismelina
#30DayWritingChallenge
#Day3
Dua hari yang lalu saya membeli sepasang giwang cantik berwarna hitam. Pagi ini rencananya akan saya pakai untuk pertama kali. Giwang tersebut pun sudah terpasang dengan baik di telinga kanan saya. Ya saya memang berencana memasangnya hanya di kuping kanan saya. Saya mematut diri di kaca. Alih-alih terlihat rebel, saya malah terlihat lucu dengan giwang hitam terpasang di kuping kanan saya. Lama saya melihat pantulan diri. Kemudian dengan berat hati saya lepaskan giwang tersebut. Saya ternyata tidak punya cukup keberanian untuk memakainya ke kantor. Padahal dengan outfit serba hitam yang saya pakai hari ini, giwang tersebut menjadi pelengkap yang sempurna.
Saya bukannya takut dicap rebel. Tapi giwang tersebut bisa membuat orang yang melihat jadi salah paham. Mungkin sebagian akan memaknai symbol yang tergantung pada giwang tersebut sebagai identitas saya selama ini. Sebagian lainnya mukin akan memaknai symbol tersebut sebagai keyakinan baru yang akan saya pilih. Saya tidak berani menebak-nebak apa yang akan dipikirkan orang-orang ketika saya menggunakannya ke kantor.
Saya masih mematut diri dikaca, kemudian tersenyum, menghibur diri sendiri dengan senyuman.
Saat sebuah symbol dikaitkan dengan agama, akan semakin banyak tafsir yang menjadi penjelas. Saya tidak yakin teman-teman satu kantor saya adalah orang yang berpikiran cukup terbuka akan hal ini. Pemaknaan akan sebuah symbol yang saya miliki dan mereka miliki tentu berbeda.
Kemarin sore saya sempat menceritakan keinginan saya memakai giwang ini kepada salah seorang teman yang kebetulan akrab dan bisa membawa symbol tersebut kapanpun dimanapun dia mau. Dia tidak keberatan kalau ada yang memakai symbol tersebut padahal bukan miliknya.
Saya jadi teringat video yang saya dengarkan di salah satu web, mengenai permasalahan mengucapkan hari besar agama lainnya yang kemudian saya kaitkan dengan penggunaan symbol ini. Saya tidak tahu ini salah atau benar, tapi dari sana kemudian saya simpulkan sendiri –tidak apa selama tidak mengganggu iman dan akidah.
Ini cerita hari ke-3 saya untuk 30 hari bercerita, mana cerita mu?
#Day2
Tahun ini Jakarta mendapatkan hadiah tahun baru berupa air yang turun dengan derasnya sehingga menimbulkan genangan dimana-mana. Rintik-rintik tersebut turun jauh sebelum detik pertama tahun 2020 dimulai. Menjelang berakhirnya 2019, hujan bukannya berkurang malah semakin menderas, dan hasilnya adalah kado berupa genangan air dimana-mana.
Kalau sudah begini, siapa yang bisa disalahkan?
Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu, 2012-2013 lebih tepatnya. Saya dan teman-teman relawan bencana dari UGM berangkat dari Yogya ke Jakarta untuk membantu korban banjir Jakarta. Satu yang saya ingat dengan jelas hingga saat ini, Bundaran HI sudah jadi kolam raksasa, airnya coklat, persis warnanya seperti kopi susu kekinian.
Rombongan kami berangkat sore dari Jakarta, harusnya sebelum subuh sudah sampai di Jakarta dan siap bertugas. Ternyata kami salah, rombongan tertahan banjir di wilayah Jawa Barat. Menjelang sore barulah kami sampai di Jakarta, di lokasi tujuan pertama. Kami beristirahat sebelum besok hari memulai pekerjaan kami sebagai relawan untuk penyintas banjir.
Lebih dari lima tahun berlalu, banjir kembali menyambangi Jakarta. Apakah tidak ada yang belajar dari sebelumnya?
#30HBC20 #Day1
Selamat tahun baru, semoga tahun ini kita bisa menuliskan lebih banyak lagi cerita serta kisah dan membagikannya kepada lebih banyak pembaca.
Mari kita mulai halaman pertama tahun 2020 dengan cerita baik penuh syukur. Semoga tuhan selalu melimpahkan rahmat kepada kita bersama.
Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. - AE
Seharian ini saya membacakan kartu untuk dua orang teman. Singkat cerita, mereka berdua menginginkan pembacaan 2020. Panjang tentunya, apalagi saya membacakan dengan grand tableau. Menebar semua kartu Lenormand. Ada banyak hal positive yang saya temukan, pun hal negative yang harus bisa dijelaskan dengan cara yang baik agar tidak berdampak buruk. Karena saya tau, tidak semua orang bis menerima pembacaan yang tidak mereka harapkan walaupun itu tidak bisa dielakkan.
Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita banyak tentang pembacaan dua orang teman ini. Saya ingin bercerita mengenai perasaan saya sesudah membacakan mereka kartu.
Ada hangat yang menjalar dalam diri saya begitu mereka mengungkapkan keoptimisan mereka akan 2020 dan akan semua yang terjadi kedepan. Sudah cukup lama saya tidak merasakan perasaan seperti ini. Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli. Rasanya berbeda begitu teman atau klien yang saya bacakan kartu berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik lagi. Rasanya berbeda ketika mereka yang saya bacakan kartu kaget dengan hasil yang diluar perkiraan mereka. Menyenangkan bisa mengetahui mereka berbahagia dan menyimpan api yang baru dari hasil pembacaan saya.
Ah, sepertinya tahun depan saya akan lebih sering membuka kartu.
Bismillah.
Bertahun-tahun lalu, saya selalu menuliskan dua atau tiga paragraph tentang hujan yang pernah turun pada satu hari yang cerah di bulan Desember. Lalu ritual tersebut terlupakan, saya capek mengingat kuyup yang pernah membasahi. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah cuwitan di linimasa Twitter saya. Ah, tidak ada salahnya untuk kembali menulis empat atau lima baris cerita, sebagai bentuk penghargaan kepada diri yang sudah hampir melawati satu putaran matahari.
Tapi nyatanya hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, Saya terdiam cukup lama di depan halaman putih pada monitor komputer jinjing saya. Saya tergugu, kelu, kehilangan kata untuk diketikkan. Saya mencoba menggingat, Januari, Februari, Maret, apa yang telah saya lalui. Saya mencoba menggingat lagi, kejadian apa yang pernah terjadi diawal 2019. Saya mencoba mengingat, ada dimana saya ketika tahun 2019 mulai berjalan, sudah sejauh mana saya mengukur detik disepanjang 2019 ini.
Ah, otak saya beku. Otak saya tidak bisa mengingat kembali. Semakin saya paksakan, semakin saya tidak bisa mengingat. Semakin keras usaha saya untuk mengurutkan cerita, semakin saya kesulitan untuk merangkainya.
Mungkin tidak ada salahnya kalau saya kembali menulis dalam lembar-lembar jurnal, agar tahun depan saya bisa menceritakan kembali ketika ada yang meminta,
Jakarta, lantai 16, yang selalu bersuhu dibawah rata-rata. Ngantuk, bolehkah saya bolos, pulang dan lanjut tidur?
There's a time that I remember when I never felt so lost.. When I felt all of the hatred was too powerful to stop (ooh, yeah) ..
Tadi sore saya bertemu dengan salah seorang teman, yang sudah cukup lama tidak saya jumpai. Kami berjanji untuk bertemu di salah satu warung sate Padang yang cukup terkenal di Jakarta, walaupun menurut saya rasa satenya tidak kalah enak dibanding yang biasa saya beli ketika bolos sekolah dulu.
Perjumpaan kami tadi cukup singkat, tidak selama biasanya.
Sesaat setelah saya menyelesaikan suap terakhir sate yang saya pesan, dia berkata kepada saya, menyuruh lebih tepatnya, menyuruh saya untuk mencari hobby, menemukan hobby kalau boleh lebih jelasnya. Sesuatu yang membuat saya bergerak dan melupakan sejenak kepenatan, tidak seperti hobby yang saya lakukan selama ini.
Saya terdiam setelah mendengarkan alasan yang dia sampaikan. Orang yang sudah tua memang tidak pernah salah. Dengan jarak usia yang lebih dari sepuluh tahun, tentunya pengalaman hidup dia lebih banyak daripada yang saya miliki.
Sepanjang perjalanan pulang, saya mencoba mencerna kembali obrolan kami selama dua jam tadi. Dari sekian banyak alasan untuk menolak, saya tidak punya satupun hal yang benar-benar bisa saya pergunakan. Cuma ada beberapa ketakutan yang saya simpan, sebagai jawaban untuk setiap alasan yang tidak bisa dipergunakan sebagai alasan.
Sudah saatnya untuk benar-benar melepaskan dan menggenapkan menjadi utuh.
d a n h u j a n p u n t u r u n
Hey moon, please forget to fall down.. Hey moon, don't you go down..
[Nothern Downpour - Panic At The Disco]
Pertahanan saya kembali runtuh. Setelah berbulan-bulan yang lalu semua benteng yang saya punya hancur dan tidak saya bangun kembali. Saya pikir dengan tidak membentengi apa-apa, saya bisa berada pada posisi netral sehingga saya tidak perlu ketakutan ataupun jatuh ketika apa yang saya khawatirkan terjadi kembali.
Ternyata saya salah.
Kemarin, ketika saya mendapat kabar itu, seketika lantai yang saya pijak rubuh. Padahal saya sudah bersiap untuk apa yang saya takutkan. Tapi ternyata, saya tidak bisa menghindari rasa yang selalu menyapa ketika apa yang saya ‘lihat’ menjadi nyata. Entah sudah berapa ratus kali, tidak pernah ada bilangan pasti untuk itu, tapi tetap saja. Saya tidak pernah siap.
Practice mungkin akan menjadikan sesuatu menjadi lebih perfect.
Tapi bagi saya, pengulangan yang saya saksikan, dan tidak bisa saya hindari malah membuat saya semakin tidak siap menyaksikan semuanya menjadi nyata. Tadi pagi, sampai saat saya menuliskan ini, saya sudah mencoba cara yang biasa saya lakukan ketika saya berada pada posisi yang sama berwaktu lalu, tapi gagal.
Kali ini saya memang tidak gelagapan, saya mencoba menarik napas dalam dan mencoba untuk mendorong naik badan saya agar tidak tenggelam. Saya terapung. Untuk sementara mungkin saya selamat, tapi saya butuh kembali menemukan cara agar saya bisa terbebas dari semua ini, walaupun hanya sementara.
Namanya May, umurnya 175 tahun, tapi di mata saya sosoknya tidak lebih dari gadis muda berumur 27 tahun yang masih mencari jati diri. Terlambat? Tidak. Karena hidup adalah perjalanan panjang yang garis waktunya berbeda pada tiap makhluk.
May, begitu kemudian saya memberikan nama, duduk manis didepan saya, dia menampakkan diri sesaat setelah kartu tersebut sudah saya bayar dan berpindah kepemilikan. Wujudnya semakin nyata ketika kotak berwarna abu-abu tersebut saya buka. May perempuan yang elegant tapi sederhana. Dia dengan rok lipit hadap periwinkle yang terjuntai sampai diatas lutut dengan blouse bewarna putih dan scraft bewarna merah melingkar di lehernya yang jenjang sebagai fashion statement-nya.
Saya menyapa May, dia tersenyum simpul, sepertinya dia masih canggung dengan saya, atau dia kaget dan tidak menyangka saya bisa melihat dia jelas. Saya tersenyum sekali lagi, menanyakan kabar, May masih ragu, ada jeda sebelum dia menjawab pertanyaan saya. Saya bilang dia sangat cantik dengan outfit yang dia kenankan. May tersipu malu. Saya tersenyum sekali lagi. May bertanya, kamu bisa melihat saya? Sepertinya dia masih heran kalau ada yang bisa melihat dia dengan jelas. Saya tertawa, tapi sedetik kemudian menghentikan tawa saya, takut ada yang melihat saya tertawa tanpa sebab, bisa dikira gila nantinya. Saya mengangguk pelan, menaikkan kedua bahu saya dan menjawab ya. May kembali menyunggingkan senyum, tapi dari matanya saya bisa melihat kalau masih ada tanya yang dia simpan. Lalu saya bilang saya melihatnya May, melihat sosok lainnya yang sama dengan kamu.
Selamat datang di kelompok sirkus ini May, bisik saya kemudian. Selamat datang, semoga kita bisa berteman baik sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. May kembali menyunggingkan senyumnya, kali ini lebih bebas. Saya pun dia tidak sabar untuk membuat kisah bersama.
‘Gue masih penasaran dengan kalimat lu semalam? Itu beneran?’
Saya menatap lama ke dalam matanya sebelum menggangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang barusan dia utarakan.
‘Really? Maksudnya? How comes? Kok bisa sih? Seorang kamu yang sudah hampir 30 tahun dan ya gue nggak percaya.’
Saya tergelak, lalu mengaduk minuman berwarna coklat di hadapan saya dan tersenyum sinis.
‘Ya, beginilah saya.’
Belakangan ini sepertinya otak saya tidak mau diatur, tiba-tiba semua yang tidak ingin saya lihat berputar-putar di dalam kepala. Tiba-tiba saya mengkhawatirkan banyak hal, ini langka, mengingat selama ini saya hampir tidak pernah menghkawatirkan apa-apa sekhawatir ini. Tiba-tiba saja saya takut kehilangan, padahal saya selalu yakin kalau di dunia ini tidak ada kepemilikan sama sekali, yang ada hanya kesempatan memegang sementara, sebelum semuanya kembali diambil oleh Yang Maha Punya. Tiba-tiba saja saya merasa saya berada di tengah mari kita sebut ruang besar yang saya tidak tahu akan seperti apa sepuluh tahun kedepan.
Ah, entahlah.
Harus mulai darimana saya?
Kemarin saya menghabiskan sore dengan salah seorang teman. Lalu tiba-tiba dia bertanya apa kenangan yang nggak bisa kamu lupakan selama di Yogya? Cukup lama saya terdiam, sepertinya saya tidak punya memori yang cukup dalam sehingga saya tidak bisa melupakannya. Saya kemudian menggeleng pelan dan bilang nggak ada, sepertinya tidak ada kejadian yang benar-benar menempel di kepala.
Pertanyaan tersebut masih terngiang di kepala sampai menjelang tengah malam tadi. Saya berusaha memanggil kembali semua kejadian yang masih bisa saya ingat. Tapi gagal, tidak ada yang benar-benar menempel dan tidak bisa saya lupakan. Saya kemudian memilih untuk kembali tidur.
Entah pukul berapa, saya tiba-tiba terbangun, kaget. Lalu potongan kejadian itu melintas begitu saja. Saya melihat kamu tersenyum di depan saya, sambil tanganmu memegang tali gantungan yang ada pada bis trans Jogja. Saya menarik napas, mencoba menghapus ingatan yang baru saja melintas, tapi sepertinya otak saya tidak mau diajak berkompromi. Saya masih melihat kamu tersenyum, lalu kalimat yang sama meluncur kembali dari bibir mu: bisakah aku dan kamu menjadi kita?
Entahlah, rasanya sakit, seperti ditusuk ribuan jarum pada saat bersamaan. Tapi lama kelamaan sakitnya berubah menjadi kebas, kelu, mengeras sekeras batu. Saya pikir, saya dan dia sudah cukup mengenal satu dan yang lainnya, apalagi setelah lebih dari lima tahun hubungan yang mungkin lebih baik didefinisikan sebagai pertemanan tanpa arah ini kami lalui. Tapi ternyata saya dan dia sama-sama salah. Saya dan dia masih sama-sama menyimpan rahasia, tentang rasa yang pernah sama-sama kita ungkap bedua. Setelah sekian lama saya tidak pernah menjumpai dia, saya masih merasakan ada yang berbeda, pun dengan dia, merasakan ada yang berbeda pada saya.
Kami kembali berbicara, berdua. Melepaskan setiap kata tanya dan mencari-cari pada setiap jawaban, apakah benar yang dia katakan, atau cuma sekadar pemuas telinga belaka. Kami kembali berbicara, masih berdua. Membuka satu persatu tema yang pernah kami selesaikan bertahun-tahun yang lalu.
Lalu tak lama saya pun dia sama-sama terdiam. Dia memandang saya, saya memandang dia. Kami berbicara melalui tatapan mata. Saya mulai bersuara, kembali bertanya, kenapa. Dia membuka mulutnya, ragu pada mulanya lalu melanjutkan jawaban. Setelah itu kami kembali diam. Tidak saling pandang, pun berbagi kata. Hening menyapa.
Dia meraih kunci mobil, mengajak saya beranjak dan bilang mari kita selesaikan, malam ini atau tidak sama sekali.