Relatable.
𩵠avery cochrane š©µ

Jimmy Eat World

gracie abrams
ojovivo
ā

shark vs the universe
hello vonnie

No title available

titsay
Cookie Run:Kingdom Official!
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

PR's Tumblrdome
No title available

ellievsbear
Show & Tell
tumblr dot com
todays bird
Monterey Bay Aquarium
RMH

seen from Nepal
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Belarus

seen from Türkiye

seen from Saudi Arabia

seen from Türkiye
seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from United States
seen from India

seen from Vietnam
seen from United Kingdom
seen from India

seen from Malaysia

seen from Laos
seen from Georgia
seen from United States
@tidurterus
Relatable.
Boring person
Can we talk about important stuff instead ofĀ āhave you eat? what are you doin?ā. You know what? i wonāt to say that youāre boring person, but sorry to say, you are the most boring person that iāve known in my entire life. You always talk about yourself, but when i talk, you sometimes doesnāt listen my story which i hate it. I donāt like being ignore, itās such a rude behavior. You always see me smile, but from the bottom of my heart, i do really want to ignore you. Itās all fake, my smile is fake, my laugh is fake. Iām not interested with you, at all.Ā
You are enough for yourself. You are beautiful, you are kind, you are worth it and you deserves to get all love in this world.
Betelgeuse
Olivia Rodrigo Ā· Song Ā· 2021
Talented singer.
Being an adult is such a tiring phase.
Betelgeuse aka me.
First February
Being productive is a good thing for me, but sometimes i feel so tired both mental and pysical. I want to run away from this responsibility but i canāt. The conclusion is being an adult gives me mentally drain and anti-social vibes.Ā
Waktu cepat sekali berlalu disaat kita menjadi orang yang produktif. Terima kasih atas diriku yang sudah bekerja keras di tahun ini. I'm so proud of you!
Me, My Self and I
Perjalanan mengalahkanĀ ādiri sendiriā (Part I)
Selasa, 9 September pukul 11.55 bertempat di Purwokerto, aku berangkat menuju Tawangmangu menggunakan kereta api. Aku meminta izin terlebih dahulu kepada ayah dan ibuku, memohon doa restu agar perjalanan ku menuju tempat tujuan bisa selamat dan lancar. Ini perjalanan pertamaku tanpa orang lain, ya, hanya aku dan diriku. Sungguh aneh rasanya, karena aku tidak pernah pergi sendiri terutama ke tempat yang cukup jauh dari tempat asalku, Purwokerto. Situasi pandemik pun menjadi ketakutan tersendiri untukku, karena harus melalui beberapa protokol kesehatan yang cukup ketat untuk menaiki transportasi umum. Persyaratan rapid test, menggunakan face shield, memeriksa suhu tubuh, membawa handsanitizer, memakai masker dan jaga jarak adalah protokol yang wajib dilakukan dan dipatuhi saat menggunakan transportasi umum.Ā
Selama di kereta, aku sangat gelisah, cemas, dan penuh kekhawatiran, karena perjalanan ku kali ini bukan untuk liburan, tetapi melakukan pendakian ke Gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3265 MDPL. Walaupun sebelumnya aku sudah pernah mendaki Gunung Lawu, aku selalu merasa khawatir jika terjadi apa-apa denganku dan membuat repot orang lain nantinya. Aku mengkhawatirkan riwayat asam lambungku yang seringkali kambuh tiba-tiba dan berakhir dengan terkena hipotermia.Ā
Ah, aku coba singkirkan pikiran itu, aku bangun pikiran positif pelan-pelan, dan rupanya membuatku lapar dan haus. Aku ambil bekal yang disiapkan oleh ibuku untuk ku makan sembari melihat pemandangan diluar dan mendengarkan musik menggunakan earphone yang ku bawa. Syahdu sekali rasanya, kebetulan playlist lagu ku sangat sesuai dengan mood ku waktu itu. Kalem, santai dan bebas.Ā
Selepas makan, jeda 30 menit, aku coba untuk beristirahat. Tidak terasa aku bisa beristirahat 30 menit, namun kereta belum sampai ke stasiun tujuan, Purwosari, Solo. Aku lihat jajanan yang ku bawa, ābanyak juga yaā pikirku.Ā
Rupanya jam sudah menunjuk pukul 15.30, yang berarti kereta sebentar lagi akan sampai ke stasiun Purwosari. Aku mulai mengemasi barang-barangku, tas carrier, kresek yang penuh dengan jajanan dan koran. Kereta perlahan-lahan berhenti. Stasiun Purwosari cukup sepi, tidak tahu kenapa, tetapi aku sangat suka suasana sepinya waktu itu, tidak banyak orang berlalu lalang, banyak kursi-kursi kosong dan tidak perlu berdesak-desakan.Ā
Sesampainya di stasiun Purwosari, aku menunggu temanku yang akan menjemputku, namanya Vian dan Bintang. Kurang lebih 15 menit aku menunggu, mereka datang dengan penuh senyuman dan menyapaku dengan ramah,Ā āCapek mbak?ā tanya mereka, aku jawabĀ āEnggak mas, cuman ngantuk, heheā. Sebelum berangkat dari Stasiun, aku mengambil foto dengan mereka sebagai kenang-kenangan.Ā
Perjalanan menuju Tawangmangu dari Solo sekitar 1,5 jam jika tidak terkena macet. Kebetulan waktu itu, di sekitar stasiun Purwosari sedang ada pembangunan Flyover sehingga membuat perjalanan kami sedikit terhambat. Pukul 18.10, kami sudah sampai ke tempat tujuan, Pos Sumber BAAJ Peduli Alam. Aku disambut oleh om Rasun, Tante Sri, Pak Min dan orang-orang lainnya yang sudah ku anggap sebagai saudara. Tante Sri menyuruhku untuk makan terlebih dahulu agar nanti di perjalanan aku mempunyai tenaga yang cukup. Aku pun makan bersama saudara ku yang lainnya. Nikmat sekali.Ā
Setelah makan, aku mandi terlebih dahulu, kemudian ganti baju dan menyiapkan barang-barang apa saja yang perlu dibawa untuk mendaki nanti. Baju ganti tidak ku bawa, sisanya ku bawa dan ku kemasi ulang. Aku meminta izin kepada om ku untuk membawa carrier sendiri, tetapi sayangnya tidak boleh. Akhirnya, carrier dibawa oleh mas Tri atau mas Kantrut.Ā
Kami berangkat dari Pos Sumber menujuk Cemoro Sewu pukul 21.30, dan sampai di Cemoro Sewu pukul 22.00. Tidak begitu ramai tetapi juga tidak begitu sepi, cukup normal untuk situasi di masa pandemik seperti ini. Kami meminta izin terlebih dahulu ke pihak Basecamp sebelum melakukan pendakian. Setelah diizinkan, pukul 22.25 kami mulai mendaki. Suasananya cerah dan hawanya cukup dingin karena memang musim kemarau. Sungguh, aku rindu suasana seperti ini. Senang sekali rasanya bisa kembali lagi.Ā
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā .BERSAMBUNG.
Perjalanan ke Gunung Merbabu
Hari Sabtu pukul 23.30 WIB, tepat di Kota Purwokerto, kami berangkat dengan jumlah 4 orang menggunakan mobil. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 4 jam. Gelap, sepi, sempat terkena macet di daerah Temanggung hampir 30 menit karena penduduk sekitar sudah terbangun dari tidurnya untuk kembali mencari rezeki dengan berjualan dan berbelanja juga ke pasar. Kami naik gunung merbabu lewat jalur selo yang dianggap lebih mudah dan merupakan jalur yang bisa dikatakan āmainstreamā. Untuk pendakian ke gunung merbabu, kami diharuskan untuk mendaftarkan diri kami secara online yang kemudian akan diberi kode yang nantinya dapat digunakan untuk registrasi fisik atau simaksi. Kalian bisa cek langsung ke website https://tngunungmerbabu.org/. Namun, untuk sementara gunung merbabu sedang ditutup, karena sempat terjadi kebakaran.
Kembali ke cerita perjalanan, kami sampai di basecamp gunung merbabu (kami menginap di pak parman) sekitar pukul 03.30 WIB. Keadaan basecamp ramai, karena waktu aku cek di website gunung merbabu, ada 800 lebih orang yang melakukan pendakian di hari yang sama. Kelompok kami kebetulan berjumlah 21 orang mendapatkan tempat istirahat di dekat dapur, dikarenakan tempat lainnya sudah di isi oleh pendaki lainnya. Ketika sudah sampai basecamp, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, dan kembali bangun pukul 05.45 WIB. Kami disambut pemandangan matahari terbit dan gunung merapi yang gagah menjulang. Sudah cukup lama aku nggak melihat pemandangan seindah ini, hehe. Nanti aku sertakan fotonya dibawah, ya! :)
Setelah sejenak menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh alam yang maha baik dan pastinya maha menyenangkan manusia nya, kami berbincang-bincang dengan saudara-saudara kami yang datang dari Tawangmangu sembari sarapan pagi (Mereka nggak ikut pergi mendaki, hanya datang untuk memberikan beberapa kata, doa dan motivasi). Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan kami mulai berkemas-kemas untuk simaksi yang akan dilakukan pada pukul 09.00 WIB, karena registrasi fisik dibuka pada pukul 09.00 WIB. Keadaan nya ramai sekali, sampai petugas yang memeriksa keperluan-keperluan logistik harus ditarik kesana-kemari.
Alhamdulillah, segala keperluan logistik kami lengkap dan kami diperbolehkan untuk melakukan pendakian. Sebelum berangkat, kami berdoa terlebih dahulu agar diberikan keselamatan, keamanan dan kenyamana baik pada saat naik maupun pada saat turun dan kembali ke rumah masing-masing. Perjalanan dari basecamp ke pos 1, pos 2 dan pos 3 masih dikatakan cukup lancar, tetapi yang menjadi keluhan adalah debu nya yang sangat tebal! Aku, mungkin nggak hanya aku, oranglain pun pasti merasakan perihnya mata kelilipan yang berulang kali, sudah pakai baff tapi tetep makan debu, terutama saat ada pendaki turun sembari berlari, sungguh sangat menyiksa bagi pendaki yang sedang naik, karena debunya bukan dirasakan oleh pendaki yang sedang turun tetapi oleh pendaki yang sedang naik. Jika dibandingkan dengan gunung slamet yang notabene nya nggak jauh berbeda dengan gunung merbabu, aku bisa bilang dengan jujur kalau gunung merbabu adalah pemenangnya dalam hal ketebalan debu dan pasir, apalagi sedang musim kemarau. Kalian jangan lupa pakai kacamata dan baff atau masker nya ya kalau mau mendaki gunung merbabu, apalagi kalau musim kemarau, sungguh menyiksa lho yang namanya muka kena debu, bukan karena jadi nggak cantik atau ganteng tapi lebih ke gangguan dalam hal pengelihatan dan tenggorokan. Aku setelah turun dari gunung merbabu ini, sempat merasakan sakit tenggorokan selama 2 hari. :(
Kami beristirahat di tiap pos yang ada, karena untuk informasi, di gunung merbabu via selo nggak ada sumber mata air, jadi air juga jangan lupa dipersiapkan dengan baik, jangan sampai kekurangan air, baik untuk minum ataupun nantinya untuk keperluan masak. Lanjut kembali, Setelah beristirahat sejenak di Pos 3, kami melanjutkan perjalanan kami untuk naik ke sabana 1 atau pos 4. Kalau boleh jujur, rute dari pos 3 ke pos 4 sempat membuat aku hampir dan berakhir menyerah, asam lambung naik, kondisi rute yang jarang ada pohon besar sehingga membuat angin yang cukup besar langsung menghempas ke tubuh dan pikiran ku yang ingin cepat sampai ke camping ground. Aku menyerah saat itu juga sembari menyaksikan indahnya matahari terbenam dengan pemandangan gunung merapi di depan mata (aku nggak sempat mengabadikan nya). Aku menyerah dengan jarak rute yang 20 meter lagi sampai ke camping ground. Sejujurnya aku menyayangkan keadaan ku, asam lambung ini suka seringkali kambuh disaat aku sedang senang-senangnya dengan perjalanan yang ku lakukan. Makan sudah, istirahat ku rasa cukup, lalu apa yang membuat asam lambung ku ini naik (begitu pikiran ku setelah aku turun gunung merbabu) ?
Saat aku terkena asam lambung, aku ditemani oleh 3 orang yang berasal dari rombongan ku sendiri, sungguh terharu diri ini, hehe. Kuucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya! :). Aku dan 3 orang yang menemaniku sampai camping ground tepat pukul 19.00 WIB dan disambung dengan angin yang kencang, sehingga membuat ku menggigil. 15 menit kemudian, rupanya teman yang menemaniku saat aku terkena asam lambung juga mengalami anemia. Kami ber-7 ada dalam 1 tenda milik porter yang disewakan oleh rombongan kami juga. Kami berusaha menghangatkan diri walaupun udara dingin masih menghinggapi kami. Aku sempat makan obat magh dan makan mie yang disediakan oleh kakak ku. Sekitar pukul 22.00, kami yang tadinya ber-7 di dalam tenda, menjadi ber-5, yang 2 teman kami memutuskan untuk beristirahat di tenda milik rombongan yang lain. Aku pun memutuskan tidur walaupun tubuh masih merasa menggigil dan nggak nyaman sekali untuk tidur. Saat aku mulai terlelap sembari melawan udara dingin, di tengah-tengah tidur ku aku meminta ākresekā ke kakak ku, dan aku muntah. Aku merasa sangat pusing dan hawa nya ingin memuntahkan apa yang ada di perut, karena aku nggak bisa muntah saat awal aku merasakan asam lambung naik waktu dibawah. Setelah selesai muntah, aku kembali tidur dan sungguh nyaman sekali, aku nggak lagi merasakan dingin separah sebelum aku muntah. Aku terlelap dan bangun kembali pukul 05.00 WIB. Di hari minggu pagi, berada di ketinggian 2000+ mdpl dengan disuguhi pemandangan matahari terbit dan tentunya gunung merapi di depan mata, aku seperti melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Mungkin ini yang namanya healing time, ya. Aku mengambil beberapa gambar untuk ku abadikan sebagai kenang-kenangan. Lalu setelah itu apa? apakah diriku melanjutkan perjalanan untuk mendaki ke atas? jawaban nya nggak. Dikarenakan, ada salah satu orang dari rombongan kami yang terkenan demam, dan keputusan awal kami adalah apabila satu orang nggak mampu, maka perjalanan ini disudahi saja, karena pendakian bukan soal harga diri atau pembuktian diri tapi kebersamaan dan mengkesamping ego yang ada. Akhirnya, perjalanan kami cukup sampai pos 4 atau sabana 1.
Yang menjadi pertanyaan: apakah diriku menyesali dengan keadaan? kalau boleh jujur iya, tapi penyesalan ku lebih kepada diri pribadi yang sempat terkena asam lambung dan berkata āmenyerahā. Aku merasa merepotkan orang lain, padahal aku merasa diriku ini mampu.
Jika ditanya lagi: apakah aku mau kembali mendaki gunung merbabu? aku dengan sangat senang hati akan menjawab āIYA!ā. Aku belum sempat menikmati keseluruhan hijau dan indahnya gunung merbabu. Belum sempat meluk puncak nya bersama orang-orang yang ku sayangi diatas sana. Dengan senang hati aku akan kembali ke merbabu! :)
Pelajaran yang kudapatkan dari perjalanan ini adalah jangan gengsi untuk meminta istirahat, jangan gengsi untuk meminta tolong, jangan mengeluh dan pastinya jangan capek berbuat baik ke alam. Rombongan ku sempat menanam beberapa pohon di tiap pos gunung merbabu, lalu kemarin terjadi kebakaran di gunung merbabu. āSia-sia dong kalian menanam pohon nya?ā jawaban nya nggak, nggak ada yang sia-sia dalam berbuat baik ke alam. Toh, berbuat baik kan gratis, nggak bayar. Kalaupun bayar, dibayarnya sama pahala, hehe.
Aku ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Koplak Adventure, Dieng Bersatu Adventure (DBA), BAAJ Peduli Alam dan Nyengcle Bogor atas bantuan, semangat dan kekeluargaan nya. Aku sungguh terharu lho, hehe. :ā) Semoga diberi kesempatan untuk mendaki kembali, baik ke gunung merbabu maupun ke gunung-gunung lainnya!
MARI KITA KIBARKAN SEMANGAT KEKELUARGAAN DAN KEPEDULIAN KITA TERHADAP ALAM SEKITARNYA!
Sedikit kenang-kenangan waktu di gunung merbabu:
<3
my kind of music for today~
Goals
Seumur-umur aku jarang sekali memikirkan soal target apa yang harus aku raih. Kalau pun terlintas di pikiran, target ku hanya satu: BAHAGIA. Apa itu bahagia? Kenapa kok bisa dijadikan target? Well, kata orang rasa bahagia itu nggak bisa dibeli dengan uang, kata orang juga bahagia nggak bisa diciptakan oleh orang lain. Terus gimana dong biar kita bisa meraih kebahagiaan? Pertanyaan itu pun sedang ku cari tau jawaban nya, ku cari dengan diskusi, ku cari dengan ngobrol dengan teman ataupun keluarga, ku cari di google juga (hehe). Sampai pada akhirnya, aku ngobrol (lebih tepatnya curhat sih, hehe) soal kesehatan mental ku dengan sahabat kakak ku. Aku tipikal orang yang suka memendam apapun, tertutup dan bener-bener susah bersosialisasi, hingga membuat aku menjadi orang yang overthinking, mudah cemas, khawatir dan lain sebagainya. Sampai-sampai aku meminta tolong karena mental illness ku ini. Setelah aku selesai ngobrol dengan suasana yang mendukung (diluar habis hujan), ada satu kata-kata yang membuat aku speechless darinya. Begini:
Dia: Dek, kalo kamu pengen ngerasain bahagia yang bener-bener bahagia, mulai lah belajar berbagi, belajar terbuka sama orang, belajar percaya sama orang, saat kamu bisa melakukan hal-hal tersebut, bahagia nya kamu nanti pasti menyebar ke orang lain.Ā
Disitu aku merasa ditampar. Kata-kata nya simple tapi bener-bener bermakna untukku. Aku malu mengakui bahwa aku orang yang sensitif dan peka tapi aku lebih memilih mengabaikan daripada merespon. Aku nangis sejadi-jadinya waktu itu. Pertolongan yang ku butuhkan bukan yang membutuhkan fisik, tapi hanya dorongan mental, penyemangat yang tulus dari mulut orang-orang terdekatku, perhatian dan kepedulian.Ā
Mungkin kalian merasa aneh dengan goals ku ini, aku tau kok, hehe. Memang goals ku ini berbeda dengan orang lain, yang mungkin kebanyakkan goals nya ingin itu, ingin ini, banyak sekali seperti lagu nya doraemon, tapi aku berbeda, nggak merasa juga bahwa aku spesial hanya karena perbedaan. Goals ku ini berkaitan erat dengan apa yang aku alami dan rasakan, aku ingin sekali merasa bahagia yang lepas, tanpa beban, tanpa overthinking akan sesuatu. Bahagia. Ya, goals ku itu dan untuk apapun yang aku lakukan, semoga mendatangkan bahagia baik bagi diriku maupun bagi oranglain. Mari berbagi kebahagiaan bersama!
the smiths
Alam
Hi. Itās been a long long time since aku nggak menulis lagi di Tumblr ku ini. Tipikal orang bingung dan terlalu banyak yang dipikirkan seperti ku, rasanya jika dituangkan dalam bentuk tulisan pasti lah substansi nya akan kemana-mana dan nggak jelas tapi aku akan mencoba untuk membuatnya jelas dan padat kali ini.Ā
Oke, hari ini aku akan membahas mengenai alam dari sudut pandang ku. Well, pada dasarnya aku hanya seorang perempuan yang suka menghabiskan sebagian besar waktu ku dirumah sembari membaca buku atau menonton film atau juga ikut membersihkan rumah. Rupanya internet pun turut serta meramaikan waktu ku di kala senggang, kalian pasti tau mengenai Google Maps kan? Nah, aku sering sekali keliling dunia bermodalkan Google Maps, haha. Pergi ke Negara A, B, C dan seterusnya, sampai-sampai aku menemukan tempat-tempat baru nan indah yang jarang aku ketahui atau terekspos media. Dari situ pula, aku berfikir, apa iya hidupku hanya akan aku habiskan dengan hanya melalui dunia internet atau di depan layar saja? Katanya Tuhan menciptakan alam semesta ini untuk kita nikmati dan syukuri, aku bersyukur tapi apa iya aku sudah benar-benar menikmati alam sekitarnya? Bagaimana jika aku mencoba untuk menyeimbangkan kedua hal tersebut? Menikmati dan mensyukuri? Adil kan? Hehe.Ā
Berada di zona nyaman itu memang selalu membuat diri ini nyaman, namun disisi lain juga memiliki rasa takutnya tersendiri apabila nanti akan ada waktu yang memaksa kita harus keluar dari zona itu, takut nanti nggak merasa nyaman, takut nggak sesuai ekspektasi, dan rasa takut lainnya. Jadi, apa rasa takut ini bermula karena aku memiliki ekspektasi berlebih pada sesuatu? Seperti contohnya, dulu aku tidak pernah berpikiran akan naik gunung, mencoba pun nggak pengen rasanya meskipun pasti pemandangan diatas sana indah sekali. 3 tahun lalu aku dan kakak ku pertama kali naik gunung lawu yang berada diperbatasan Tawangmangu-Magetan. Aku awalnya berpikirĀ āah pasti jalan nya biasa aja. seperti di jalan raya yang mulus dan tertataā, fakta nya nggak demikian. Aku naik dari Basecamp Cemoro Sewu yang mana rute nya sangat membuat lelah kaki ini, jalan berbatu dan nggak tertata, ada yang tinggi dan ada yang rendah, begitu seterusnya hingga puncak. Aku menyerah ketika sudah sampai Pos 4, aku ingin turun waktu itu, merasa bodo amat mau turun sendiri atau ditemani. Sungguh, aku merasa jadi orang paling lemah seumur hidupku waktu itu. Rupanya ekspektasi ku terlalu tinggi hanya untuk menumpahkan ego ku dan meremeh-temehkan hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku berjalan naik dengan lantang-luntung, nafas tidak beraturan, berhenti setiap 10 langkah. mengeluh setiap saat. Sungguh gagal total rasanya berekspektasi untuk menikmati alam semesta ini, malah ku balas dengan mengeluh, mengeluh dan mengeluh.Ā
Aku pikir-pikir lagi, ada banyak sekali pelajaran yang dapat ku ambil dari perjalanan ku mendaki gunung lawu itu dan salah duanya adalah untuk belajar menjadi orang yang berani dalam mengambil keputusan, bahwasanya setiap keputusan yang diambil pasti ada resiko yang didapat dan aku nggak bisa menghindari resiko itu tapi bisa memperkecil nya, dan juga jangan menjadi orang yang banyak mengeluh, merasa lelah, capek, butuh istirahat itu normal tapi jika dilakukan secara terus-menerus lalu bagaimana kita mau menikmati momen nya? bagaimana kita mau mensyukuri jika yang ada hanya keluhan demi keluhan?Ā
Alhamdulillah juga, karena sudah termasuk beberapa kali mendaki gunung, keluhan ku pun sudah mulai berkurang, sungguh enak sekali jika yang ada hanya bersyukur dan enjoy the moment. Rasanya diri ini ingin menangis terharu karena telah diberikan kesempatan untuk ikut serta menikmati dan mensyukuri alam semesta yang luar biasa indah ini.Ā
Terimakasih untuk Yang Di Atas, kesempatan yang diberikan kemarin, sekarang dan mungkin kedepan nya aku bisa menikmati dan mensyukuri alam semesta ini. Alhamdulillah.Ā
^Gunung Lawu^ (6 November 2016)
^Gunung Slamet^ ( 11 November 2018)
^Gunung Slamet^ (13 Juli 2019)