apakah ada yang percaya ungkapan “cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya”?
well, aku juga percaya. tapi, hal itu tidak berlaku untukku.
memori yang terekam tentang kebersamaanku dan ayah, hanya sedikit sekali hal baik tentangnya, dan tidak ada yg membuatku senang, atau bahkan tersenyum. tapi jika ditanya ingatan yang pahit tentangnya, aku punya beberapa.
sewaktu kecil, aku pernah menangis karna ayah menendangku hanya karena aku tidak mau membagi mie instanku dengannya. ketika itu, umurku kira-kira hanya 5-7 tahunan, aku tidak ingat pasti. yang pasti, aku ingat ada adik sepupuku di sana, dan dia memperlakukan adik sepupuku dengan lebih baik. aku ingat tidak melihat raut wajah bersalah sedikit pun darinya, dan tidak pernah ada kata maaf.
kemudian, hal-hal kecil tak menyenangkan yang dilakukannya adalah dengan memberiku janji-janji palsu. seperti, berkata akan membeli mobil supaya aku bisa jalan-jalan, dan berkata besar bahwa ia adalah orang yang punya banyak uang.
kurasa, hal itu bukanlah sesuatu yang perlu diketahui diriku yang masih kecil, apalagi ditambah, mengatakan hal yang bukan kenyataannya. keluarga kamu memang bukan keluarga berada. seringkali aku mendapati diriku jarang sekali makan daging, bahkan sop bakso dan sosis adalah makanan yang tergolong mewah untukku saat kanak-kanak.
aku yang masih kecil merasa, tak nyaman ketika ayahku sendiri ada di rumah. dengkurannya yang keras, kebiasaannya yang mudah tidur dimana saja dan tidak dalam posisi yang pantas, kemudian juga selalu mengambil alih remot tivi.
beranjak remaja, orang tuaku berpisah. aku pindah bersama ibu ke sebuah rumah petak sewaan berukuran 3 x 4 meter. dari situlah ketidak sukaanku pada ayah semakin bertambah. aku pernah mengerjainya dengan menyita ponselnya selama beberapa hari, karena yang ia lakukan adalah menyakiti ibuku, dan kami, anak-anaknya.
ketidak sukaanku pada ayah terus berlanjut hingga aku lulus kuliah dan bekerja. tentu saja bukan tanpa alasan aku tidak menyukai ayahku, dan lebih senang dengan ide ‘lebih baik bersikap seolah tak punya ayah’.
aku mengerti ia menginginkan kedudukan dan popularitas dari orang-orang sekelilingnya, sehingga ia seringkali mengarang cerita bahwa ia memiliki ini dan itu, sudah melakukan beberapa hal luar biasa, dan sering memaksakan diri untuk menyenangkan orang lain secara materi, seperti misalnya meminjamkan uang pada orang yang tidak bisa membayarnya, dan yang paling parah adalah memberikan sertifikat rumah pada orang yang membeli rumahnya ketika pembeli tersebut baru memberikan ’down payment’ sebesar 10 juta. bisa ditebak, orang tersebut tidak mau bayar, sampai sekarang.
aku memang menangis ketika melihat ayahku tidak bernyawa lagi. seperti mimpi rasanya melihat beliau yang bisa sehat dan senang bepergian, tertidur tanpa nyawa. tetapi perasaan tersebut seperti kosong, dan meskipun beberapa kali aku memimpikan ayahku, aku tetap tidak bisa memastikan apakah aku harus merindukannya, atau terus bersikap bahwa aku memang sudah tak punya ayah sejak dahulu.